Elohim Ministry youth EXPECTED END

EXPECTED END



Renungan Harian Youth, Senin 29 September 2025

Hidup mungkin akan menjadi sangat mudah jika kita bisa mengetahui masa depan. Itulah sebabnya: peramal, penubuat atau ahli nujum selalu digandrungi banyak orang dan selalu memiliki banyak peminat, karena keingintahuan manusia atas nasibnya di masa depan yaitu mereka mau kemana dan sekarang berada dimana.

DI SISI LAIN, kita tahu dan percaya bahwa Tuhan merancangkan damai sejahtera dan masa depan yang penuh harapan bagi setiap orang percaya. Namun bukan berarti jaminan ini membuat kita menjadi orang yang pasif dalam mengiring Tuhan.

Expected End, jika diterjemahkan secara bebas berarti “akhir yang diharapkan.”  Ini berbicara tentang kondisi kita di masa yang akan datang.  Dan ini merupakan sebuah catatan yang indah yang ditulis oleh nabi Yeremia di dalam Yeremia 29:11 menurut terjemahan King James Versin, “For I know the thoughts that I think toward you, saith the LORD, thoughts of peace, and not of evil, to give you an expected end.” Tentu kita memahami ini Adalah masa depan yang penuh dengan harapan yang telah dijanjikan bagi kita.  Dari kata ini, kita bisa menemukan maunya Tuhan; itu apa dalam diri kita… dan apa yang harus kita lakukan untuk mnyesuaikan maunya kita selaras dengan maunya Tuhan.

MASA DEPAN KITA ADALAH MAHKOTA KEHIDUPAN

1 Timotius 4:-7,8. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Semuanya telah dilakukan Paulus selama dia hidup; dan dia tiba pada akhir hidup yang tidak memiliki kekuatiran sama sekali tentang keberadaannya di masa yang akan datang:

  • AKU TELAH MENGAKHIRI PERTANDINGAN YANG BAIK
  • KU TELAH MENCAPAI GARIS AKHIR
  • AKU TELAH MEMELIHARA IMAN

Bagi Paulus, Tidak ada ketakutan akan masa depan, karena Tuhan ada di segala masa, dan bahkan dialah yang menguasai zaman.  Ada Mahkota kehidupan yang tersedia bagi kita, makanya Tuhan ingin menemukan “iman” dalam diri kita ketika Dia Kembali, dan yang perlu kita siapkan supaya kita selaras dengan Dia Adalah Iman untuk masa depan.

Lukas 18:8 berbunyi, “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Ayat ini merupakan bagian dari perumpamaan Yesus tentang doa yang tekun, di mana Ia menanyakan (kepada kita sesuai dengan konteks masa kini) apakah ada orang yang masih memiliki iman Kristen yang benar ketika Ia datang kembali, sehingga memotivasi para pengikut-Nya untuk bertahan dalam iman dan doa. 

Yesus mengajarkan perumpamaan ini untuk mendorong pengikut-Nya agar berdoa tanpa putus asa dan dengan tekun, karena Perumpamaan ini menunjukkan bagaimana Allah akan membela umat-Nya yang berseru kepada-Nya siang dan malam.  Betapa iman itu sangat kita perlukan untuk terus percaya dan berharap kepada Tuhan. 

Apapun kondisi kita, seberapa terpuruk kita di masa sekarang ini, iman kepada Tuhan akan membuat kita bertahan dan terus percaya bahwa akan ada pembelaan dari Tuhan untuk kita.

Iman memang mendorong kita terus mencari dia; percaya kepada dia dan mengalami kuasanya;  iman adalah dasar dari segala yang kita harapkan, dan bukti dari segala yang tidak kita lihat.  iman timbul dari pendengaran-pendengaran akan firman Kristus…  berarti dari setiap bacaan firman Tuhan; dari khotbah-khotbah yang disampaikan,, dalam sgala pertemuan ibadah kita; secara otomatis iman kepada Tuhan itu tumbuh. Ada benih-benih iman yang disebarkan untuk kita… dan apa yang menjadi respon kita terhadap segala pemberitaan firman itu harusnya membuat kita semakin berjuang untuk terus berkenan kepada Tuhan…

karena ada sebuah peringatan yang Yesus berikan kepada pendengarNya pada waktu itu…

AKAN TETAPI, jika Anak Manusia datang; Yesus Kristus datang kembali… “Adakah Ia mendapati iman di bumi?”:

Pertanyaan retoris ini menyoroti keseriusan kemungkinan adanya kemurtadan dan pentingnya mempertahankan iman yang benar di akhir zaman. setiap orang mempunyai salib masing-masing dan mereka harus berjuang dengan kenyataan hidup yang dijalani; tekanan hidup seringkali membuat kebanyakan orang menyerah dan salah mengambil keputusan sehingga harus meninggalkan Yesus.\

Iman untuk masa depan menuntun kita untuk tetap fokus pada mahkota kehidupan di masa yang akan datang.

Konsep “mahkota” pada zaman Rasul Paulus sangat penting untuk dipahami karena istilah ini sering muncul dalam surat-suratnya, namun maknanya tidak selalu sama dengan bayangan kita tentang “mahkota kerajaan” yang megah. Paulus memakai kata ini secara kiasan dan simbolis, dengan konteks budaya dan sosial yang dikenal baik oleh orang-orang pada zamannya.

Paulus sering menggunakan ilustrasi dari dunia olahraga, khususnya lomba lari atau pertandingan atletik, yang sangat populer di Kekaisaran Romawi (seperti Olimpiade di Yunani dan Isthmian Games di Korintus). Para pemenang pertandingan tidak mendapatkan medali emas seperti sekarang, tetapi mahkota — sebuah karangan daun kehormatan. Meskipun nilainya tidak tinggi secara materi, mahkota itu melambangkan kehormatan, kebanggaan, dan kemuliaan yang luar biasa.

Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dua kata utama untuk “mahkota”:

  1.  (stephanos) – mahkota kemenangan atau kehormatan.
    Ini adalah karangan bunga atau rangkaian daun yang dikenakan pada kepala pemenang perlombaan olahraga, tentara yang berjasa, atau orang terhormat.
    Tidak terbuat dari emas atau permata, melainkan dari daun pohon salam (laurel), daun zaitun, atau tanaman lain.
    Bersifat sementara — bisa layu dalam beberapa hari.
  2. diadēma) – mahkota kerajaan.
    Ini lebih mirip dengan konsep “mahkota raja” dalam arti harfiah: simbol kekuasaan dan otoritas raja.
    Paulus tidak pernah menggunakan kata ini dalam surat-suratnya.

Menariknya, “mahkota” dalam konteks Paulus bukan hadiah pribadi semata, tetapi simbol hasil pelayanan dan kesetiaan kepada Kristus.

1 Korintus 9:25, “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh mahkota yang abadi.”

Mahkota itu adalah simbol sukacita, kemuliaan, dan pengakuan ilahi, bukan kekuasaan duniawi, dimana kita berjalan dalam rencana Allah, bertahan dalam memelihara iman; dan tiba di waktu dimana Tuhan mendapati itu sesuai dengan keinginan-Nya.

Rev. Billy Graham:  Rencana Tuhan tidak akan menuntun kita di mana kasih karunia Tuhan tidak menjaga kita. Kalau Tuhan pimpin kita maka kasih karuniaNya pasti akan menjaga kita. Tidak peduli keadaan kita seperti apa maka kita harus percaya bahwa Tuhan bersama kita.

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

EYC 27092025-YDK

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800

Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *