Renungan Harian, Selasa 11 November 2025
Syalom bapak ibu saudara yang terkasih, Jika saya meminta kepada kita sekalian untuk menyebutkan nama penyakit yang paling berbahaya dan paling mematikan diseluruh dunia? Saya yakin bahwa tidak akan ada diantara kita yang menyebutkan RASA INGIN MENYERAH atau KEPUTUSASAAN sebagai penyakit yang paling mematikan. Mengapa rasa ingin menyerah disebut sebagai penyakit yang paling berbahaya dan paling mematikan?
SIFATNYA UNIVERSAL. Artinya semua orang bisa mengalaminya, tidak perduli apapun pendidikannya, jabatannya dan agamanya. Semua bisa mengalami rasa ingin menyerah.
SANGAT MENULAR. Orang lain bisa ikut menjadi putus asa atau menyerah karena seseorang yang bersama dengan dia sedang mengalami putus asa/ingin menyerah.
BISA KAMBUH BERULANG – ULANG. Tidak hanya sekali tetapi berkali – kali.
Ayat Alkitab yang kita baca ini menceritrakan kepada kita, bagaimana Nehemia, dkk, mengalami apa yang disebut dengan INGIN MENYERAH atau putus asa, yakni, disaat proyek pekerjaan pembangunan tembok Yerusalem sedang berlangsung. Pada awal pembangunan berlangsung, mereka sudah mengalami tekanan, tantangan, bahkan cemoohan, namun tidak menyurutkan semangat mereka. Tetapi mengapa setelah ditengah jalan, mereka menjadi ingin menyerah?
Penyebab mengapa rasa ingin menyerah terjadi?
Semangat Yang Merosot Karena Kelelahan (4;10).
Nehemia 4:10 Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”
Penyebab mengapa banyak sekali orang yang meninggalkan sesuatu yang belum selesai dikerjakan adalah kehilangan semangat/kelelahan ditengah jalan.
Frustrasi Oleh Situasi Yang Tampaknya Mustahil.
Faktor penyebab kedua, munculnya rasa ingin menyerah dalam diri Nehemia, dkk, adalah: Frustrasi karena situasi yang tampaknya mustahil, yakni karena “Puing masih sangat banyak.” Akibatnya, mereka kecewa, berkecil hati/frustrasi karena situasi – situasi yang tampaknya mustahil itu.
Takut Yang Berlebihan (4;11-12).
4:11 Tetapi lawan-lawan kami berpikir: “Mereka tidak akan tahu dan tidak akan melihat apa-apa, sampai kita ada di antara mereka, membunuh mereka dan menghentikan pekerjaan itu.”
4:12 Ketika orang-orang Yahudi yang tinggal dekat mereka sudah sepuluh kali datang memperingatkan kami: “Mereka akan menyerang kita dari segala tempat tinggal mereka,”
Hal ini diakibatkan oleh, apa yang sedang terjadi didepan mata mereka, yakni para lawan – lawan mereka sedang mengatur rencana untuk tiba ditempat orang Israel secara diam – diam dan membunuh mereka. Ketakutan itu seperti virus mulai terjangkit “ingin menyerah?”
Cara menghadapi keinginan untuk meyerah?
Menata ulang kehidupannya
Nehemia 4:13, maka aku tempatkan rakyat menurut kaum keluarganya dengan pedang, tombak dan panah di bagian-bagian yang paling rendah dari tempat itu, di belakang tembok, di tempat-tempat yang terbuka.
Ketika rasa ingin menyerah datang, jangan putus asa/patah semangat. Tatalah kembali kehidupan kita, cara kerja/prioritas – prioritas kita. Jangan menyerah. Cobalah cara yang baru, pekerjaan yang baru.
Ingatlah akan Tuhan
Nehemia 4:14 Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: “Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.
Ingatlah akan kebaikan Tuhan dimasa lampau. Ingatlah akan penyertaan Tuhan hingga saat ini, Ingatlah akan kuasa Allah yang tidak berubah hingga masa yang akan datang
Kisah Nyata:
Christina Santhouse berumur 8 tahun saat hidupnya berubah total. ia mengidap Rasmussen’s encephalitis, penyakit langka yang menghancurkan satu sisi otak secara bertahap. Tim dokter harus mengangkat seluruh belahan kanan otak Christina.
Tapi mujizat mulai bekerja. Otak kirinya beradaptasi, mengambil alih fungsi yang hilang, membangun ulang jaringan otak kanannya yang dulu mustahil dipulihkan.
Ia kembali ke sekolah, belajar keras, dan menolak dipandang sebagai anak cacat. Ia lulus dengan nilai tinggi, melanjutkan kuliah, lalu meraih gelar pascasarjana. Seiring waktu, Christina membuktikan bahwa hidup dengan setengah otak bukan batas, lalu ia menikah dan dikaruniai 2 anak,( 2017 dan 2019). Christina hidup sebagai istri dan ibu, sekaligus terapis wicara yang membantu anak-anak lain.
Kata-katanya yang menarik, “Jika Tuhan belum selesai dengan saya, maka saya akan meolak untuk menyerah meski hidup dengan memiliki sebelah otak saja”
Mazmur 37:5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.
Tuhan Memberkati
TC
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedala Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan