Renungan Harian Youth, Selasa 18 November 2025
Amsal 19:20 – “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.”
Syalom rekan-rekan Youth semuanya
Masa depan yang berhasil adalah sesuatu yang diimpikan semua orang, terutama para remaja dan pemuda. Kita ingin berhasil, ingin hidup tenang, ingin melihat rencana Tuhan nyata dalam hidup kita. Tetapi sering kali, yang membuat seseorang gagal bukan karena ia tidak punya kemampuan — melainkan karena ia tidak mau belajar dan tidak mau mendengarkan nasihat. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan bukan muncul secara otomatis seiring bertambahnya usia, tetapi melalui kerendahan hati untuk menerima nasihat dan didikan.
Saat kita kecil, kita terbiasa meminta izin orang tua untuk hal-hal sederhana: pergi ke rumah teman, bermain, atau sekadar membeli sesuatu. Tetapi semakin bertambah usia, rasa percaya diri meningkat dan sering kali tanpa sadar kita merasa “lebih tahu” dari orang lain. Banyak orang dewasa akhirnya mengambil keputusan buruk karena tidak mau menerima masukan. Bahkan tokoh-tokoh besar pernah jatuh justru karena menganggap dirinya selalu benar.
Firman Tuhan menegaskan bahwa sepanjang hidup—selama kita masih memiliki masa depan—kita membutuhkan nasihat dan didikan.
Mereka yang muda bisa belajar dari orang yang lebih tua karena pengalaman hidup mereka, tetapi mereka yang tua pun tetap dapat belajar dari generasi muda yang lebih memahami perubahan zaman. Kerendahan hati untuk menerima bimbingan adalah ciri orang yang mau bertumbuh.
Namun, ada satu nasihat yang sering kali paling sulit diterima: nasihat Tuhan sendiri. Banyak orang mengabaikan Alkitab karena menganggap firman Tuhan sudah tidak relevan, terlalu keras, atau menegur perilaku mereka. Padahal, seperti yang Paulus katakan:
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah… bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran.” (2 Tim. 3:16)
Jika kita tidak belajar firman Tuhan, kita kehilangan pedoman paling penting untuk masa depan. Semua jalan terlihat benar—tetapi tidak semuanya sesuai kehendak Tuhan. Ketika kita menolak nasihat firman, kita sedang menolak kebijaksanaan. Kita kehilangan arah, tidak peka akan bahaya, dan akhirnya mengambil keputusan yang membuat hidup kita tersesat.
Bagaimana Menjadi Bijaksana untuk Mengarungi Masa Depan
1. Belajar Menerima Nasihat dan Didikan dengan Kerendahan Hati
Amsal 19:20 mengingatkan bahwa kebijaksanaan dimulai dari kesediaan untuk mendengar dan menerima didikan. Tidak peduli seberapa cerdas atau bertalenta seseorang, ia tetap membutuhkan suara lain untuk menuntunnya. Nasihat yang baik membantu kita melihat apa yang tidak bisa kita lihat tentang diri kita sendiri—seperti titik buta, kelemahan, atau bahaya yang sedang kita dekati.
Banyak orang gagal bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka tidak mau mendengarkan. Kerendahan hati adalah pintu menuju kebijaksanaan. Mereka yang bijak bukanlah yang merasa paling benar, tetapi yang mau belajar dari orang tua, mentor rohani, teman seiman, bahkan dari mereka yang lebih muda.
Bagi anak Tuhan, mendengar nasihat tidak hanya berarti mendengar manusia, tetapi juga menerima didikan melalui firman Tuhan. Firman Tuhan mengajar, menegur, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran. Saat kita memprioritaskan kebenaran firman di atas pendapat sendiri, Tuhan akan menuntun langkah kita menuju masa depan yang Ia rancangkan.
Kerendahan hati hari ini adalah keselamatan di masa depan.
2. Menguatkan Hidup dengan Hidup Bersandar pada Firman Tuhan Setiap Hari
Kebijaksanaan sejati tidak lahir dari teori atau sekadar pengalaman hidup, melainkan dari hubungan yang dekat dengan Tuhan. Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Mazmur 119:105). Jika kita ingin mengarungi masa depan dengan bijaksana, kita tidak bisa hanya mengandalkan logika atau intuisi—kita harus mengandalkan firman Tuhan sebagai kompas utama kehidupan.
Banyak keputusan hidup yang tampak benar di mata manusia, tetapi ujungnya membawa penyesalan. Firman Tuhan adalah standar yang tidak pernah salah. Firman menunjukkan mana yang benar, mana yang tidak benar; mana yang bijak, mana yang tampak baik tetapi menyesatkan.
Melalui firman hari ini, Tuhan mengajar kita membedakan mana kehendak-Nya dan mana keinginan diri sendiri. Melalui firman pula kita belajar disiplin, kesetiaan, integritas, kesabaran, dan kebenaran—semua karakter yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan. Anak muda yang hidup dalam firman tidak akan mudah tersesat oleh tren dunia, tekanan pergaulan, atau godaan masa muda.
Firman Tuhan menancapkan akar kebijaksanaan yang membuat kita kuat, stabil, dan tidak mudah goyah menghadapi masa depan.
Karena itu, selama kita masih diberi napas dan kemampuan untuk berpikir, Firman Tuhan mengingatkan: masa depan itu masih ada. Masa depan itu dapat menjadi indah jika kita menempuhnya dengan kebijaksanaan yang berasal dari Tuhan. Dan kebijaksanaan itu datang ketika kita bersedia belajar, mendengar, menerima teguran, dan terus mengarahkan langkah kita sesuai kehendak-Nya.
Pagi ini, firman Tuhan kembali mengingatkan kita bahwa selama kita masih diberi napas dan mampu mempertimbangkan langkah-langkah hidup kita, berarti kita masih memiliki masa depan.
Masa depan itu seharusnya kita bangun dengan hal-hal yang benar dan selaras dengan firman Tuhan.
Namun, jika kita malas mempelajari kehendak Tuhan atau enggan dibentuk oleh kebenaran-Nya, kita akan kehilangan nasihat dan didikan yang seharusnya menuntun kita. Akibatnya, kita melewatkan kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang bijaksana. Tidak heran jika orang yang menolak belajar dari firman Tuhan akhirnya dipandang bodoh oleh Tuhan dan hidup tanpa arah serta kehilangan masa depan yang sejati.
Kesimpulan
Kebijaksanaan tidak datang dari usia atau pengalaman semata, tetapi dari hati yang terbuka untuk belajar—baik dari orang lain maupun dari firman Tuhan. Jika kita ingin masa depan yang kokoh dan penuh harapan, kita harus terlebih dahulu menjadi pribadi yang mau dibentuk, ditegur, dan diarahkan oleh Tuhan. Orang yang menolak nasihat mungkin merasa benar hari ini, tetapi akan kehilangan masa depan. Namun orang yang rendah hati dan mau menerima didikan, akan berjalan menuju rencana Tuhan yang terbaik.
Hikmat Hari Ini
“Masa depan dibangun bukan dengan kemampuan semata, tetapi dengan kebijaksanaan yang lahir dari hati yang mau belajar.”
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedala Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan
sangat membantu saya tuk saya makin hari belajar tuk tau kehendak Tuhan melalui firman Tuhan yang di sampaikan ini
Terima kasih atas tim yg membuat renungan ini. Tuhan memberkati