Kisah Para Rasul 18 – Pelayanan Paulus di Korintus dan Penguatan Jemaat
Paulus melayani di Korintus selama satu setengah tahun bersama Akuila dan Priskila. Ia mengalami penolakan dari orang Yahudi, tetapi Tuhan memberinya penguatan agar tetap memberitakan Injil. Banyak orang percaya, termasuk Krispus, kepala rumah ibadat. Setelah itu, Apolos, seorang yang fasih berbicara, mulai mengajar dengan semangat, dan dibimbing lebih lanjut oleh Priskila dan Akuila untuk memahami jalan Tuhan dengan lebih tepat.
Kesimpulan:
Tuhan memberi kekuatan kepada hamba-Nya untuk terus setia dalam pelayanan, bahkan di tengah ancaman. Kerja sama dalam pelayanan, seperti yang ditunjukkan Priskila, Akuila, dan Apolos, sangat penting bagi pertumbuhan jemaat.
Kisah Para Rasul 19 – Kuasa Injil di Efesus dan Pertobatan yang Radikal
Paulus melayani di Efesus dan membaptis beberapa murid dalam nama Yesus serta mereka dipenuhi Roh Kudus. Ia melakukan banyak mujizat sehingga banyak orang bertobat dan meninggalkan sihir. Banyak buku sihir dibakar sebagai simbol pertobatan. Namun, pemberitaan Injil menimbulkan kegemparan karena dianggap merugikan bisnis penyembahan berhala, sehingga timbul kerusuhan besar.

Kesimpulan:
Injil membawa perubahan hidup yang nyata dan radikal. Kuasa Allah jauh lebih besar daripada praktik-praktik duniawi. Namun, kebangunan rohani juga bisa memicu pertentangan dari mereka yang merasa terancam oleh kebenaran.
Kisah Para Rasul 18–19 mengajarkan bahwa pelayanan memerlukan keberanian, pengajaran yang benar, dan komunitas yang saling membangun. Firman Tuhan berkuasa untuk mengubahkan kehidupan pribadi dan komunitas, tetapi juga menantang sistem dunia yang menentangnya.
“Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: ‘Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.'” (Kisah Para Rasul 18:9–10)