Roma 14 – Jangan Hakimi, Tapi Bangun Sesama
Paulus menasihati jemaat agar tidak saling menghakimi dalam hal yang bersifat kebiasaan pribadi, seperti makanan atau hari-hari khusus. Setiap orang harus yakin dalam hatinya dan bertindak demi Tuhan. Yang terpenting adalah hidup dalam kasih dan tidak menjadi batu sandungan bagi saudara seiman. Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman, tetapi kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus.
Kesimpulan:
Dalam hal-hal yang tidak prinsipil, kita harus saling menghormati dan membangun, bukan menjatuhkan. Hidup dalam kasih jauh lebih penting daripada mempertahankan pendapat pribadi.
Roma 15 – Terima dan Layani Satu Sama Lain dalam Kasih Kristus
Paulus melanjutkan ajaran tentang penerimaan satu sama lain, menekankan bahwa Kristus menjadi teladan dalam hal kesabaran dan penghiburan. Ia mengajak umat untuk bersatu dalam memuliakan Allah. Paulus juga menegaskan bahwa Injil bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga untuk bangsa-bangsa lain. Ia membagikan rencananya untuk mengunjungi Roma dan meminta dukungan doa dari jemaat.
Kesimpulan:
Kasih dan penerimaan adalah dasar dari kesatuan tubuh Kristus. Kita dipanggil untuk saling menguatkan dan hidup rukun dalam pelayanan. Kristus adalah teladan kita, dan kehendak-Nya adalah agar gereja menjadi satu untuk memuliakan nama-Nya.

Roma 14–15 mengajarkan tentang hidup saling menerima dalam kasih dan damai sejahtera. Fokus kita harus pada membangun sesama dan memuliakan Tuhan bersama, bukan pada perbedaan-perbedaan kecil yang bisa memecah persatuan.
“Semoga Allah, sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kepada kamu hidup rukun, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.” (Roma 15:5–6)