Roma 6 – Mati terhadap Dosa, Hidup bagi Allah
Paulus menjelaskan bahwa orang percaya telah mati terhadap dosa melalui baptisan dalam Kristus. Kita dipanggil untuk hidup dalam kehidupan yang baru, tidak lagi sebagai hamba dosa, melainkan sebagai hamba kebenaran. Anugerah bukanlah alasan untuk terus berbuat dosa, tetapi panggilan untuk hidup dalam kekudusan dan menghasilkan buah bagi Allah.
Kesimpulan:
Kasih karunia bukan izin untuk berdosa, tetapi kekuatan untuk hidup dalam kekudusan. Dosa membawa maut, tetapi Allah memberikan hidup kekal melalui Yesus. Kita dipanggil untuk hidup sebagai hamba Allah, bukan hamba dosa.

Roma 7 – Hukum Taurat dan Dosa
Paulus menjelaskan bahwa hukum Taurat menyadarkan manusia akan dosa, tetapi tidak sanggup membebaskan darinya. Ada konflik dalam diri manusia—keinginan untuk melakukan yang baik tetapi terikat oleh dosa. Paulus menggambarkan kondisi manusia yang tidak berdaya tanpa Kristus dan menyatakan keputusasaan terhadap diri sendiri, namun bersyukur kepada Allah yang memberikan jalan keluar melalui Yesus Kristus.
Kesimpulan:
Manusia tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri melalui usaha menaati hukum. Dosa tinggal dalam daging, dan hanya melalui Kristus kita mendapat pembebasan. Ini menunjukkan kebutuhan mutlak akan Juruselamat dan kuasa Roh Kudus.
Roma 6–7 mengajarkan bahwa keselamatan membawa perubahan hidup yang nyata. Kita dipanggil untuk hidup dalam kekudusan dan bukan lagi dalam perbudakan dosa. Hanya di dalam Kristus ada kemenangan sejati atas dosa.
“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu mendapat buah yang membawa kamu kepada pengudusan, dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:22–23)