Elohim Ministry youth I’M NOBODY

I’M NOBODY



Renungan Harian Youth, Kamis 28 November 2024
Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, kita diberikan hidup yang harus bisa menjadi berkat bagi orang lain. Hidup yang tidak mudah mengeluh ketika menghadapi masalah, tetapi selalu siap membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Hidup yang menjaga kemurnian dan kualitasnya, sesuai dengan apa yang Tuhan perintahkan. Kita juga diingatkan untuk tidak menjelekkan orang lain, berkata buruk, atau membully hanya karena adanya perbedaan suku, ras, atau agama.
Didalam Efesus 2: 10, Rasul Paulus pernah berkata bahwasanya melayani Tuhan adalah panggilan yang tidak terlepas dari anugerah keselamatan. Kita adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus, berarti kita yang telah menerima anugerah keselamatan. Sebagai ciptaan Allah dalam Kristus Yesus, kita yang telah menerima keselamatan harus siap melakukan pekerjaan baik, sebagai wujud kehidupan yang melayani sebagai anak-anak Allah. Namun, masih banyak orang percaya yang enggan melayani dengan berbagai alasan. Mereka lupa bahwa pelayanan bukanlah sebuah pilihan, melainkan panggilan.

We have all been created with a conscience that constantly reminds us that we are moral beings. Conscience is God’s voice within us telling us that we are responsible for our actions. One day, we will have to give an answer to God for the way we have lived our lives.

Contoh dari Alkitab yang dapat kita pelajari adalah Musa. Awalnya, Musa menolak panggilan Tuhan untuk melayani dengan berbagai alasan. Pada bagian ini, Musa mengajukan pertanyaan atau ketidaklayakannya dengan menanyakan siapakah dirinya. Dengan berkata begitu bahwa “Siapakah dirinya” sehingga ia yang dipilih dan diutus oleh Tuhan untuk maju menghadap Firaun. Sebagai orang yang pernah tinggal di istana, pastinya Musa mengetahui dengan baik siapa itu Firaun. Baik karakter dan sifat dari Firaun, Musa pasti mengetahuinya. Firaun juga adalah salah satu penguasa terbesar di dunia pada saat itu. Mesir merupakan salah satu kerajaan tertua yang sangat luas daerah kekuasaannya dan sangat maju dalam berbagai bidang kehidupan. Bahkan, Firaun dipandang sebagai dewa oleh bangsanya sendiri sehingga ia dimuliakan dan disembah. Dengan reputasi yang sangat tinggi ini, Musa membandingkan dirinya dengan Firaun. Dari sini kita bisa belajar bahwa kita jangan pernah membandingkan diri kita dengan orang lain, sebab Allah memilih tidak melihat siapa dan apa yang kita punya tetapi hati yang mau melayani.

For us there will be a day of judgment. Then everything that we did, said and thought during our entire lives will be brought back to our minds, and assessed by God. And He will judge us according to the standard of His holy laws given in the Bible. We will then have to give an answer to God for every single action, word and thought

Kita hidup didalam terang bukan karena kebaikan dan kemampuan sendiri untuk hidup suci, tetapi kita menyadari bahwa sebagai manusia yang berdosa kita membutuhkan Allah, dan mengakui segala perbuatan yang tidak benar di hadapan Allah.

Jadi adalah tidak benar bila ada diantara kita mengatakan bahwa “saya telah hidup dalam terang” dengan alasan saya tidak berbuat dosa, padahal tidak melakukan firman Allah. Padahal kita sudah memiliki status yang luar biasa yaitu orang benar yang ditebus oleh darah Yesus. Berarti ketika kita memiliki pemikiran yang tidak seturut firman Allah maka kita harus mengevaluasi diri, agar tidak terlena dengan semua hal yang dunia tawarkan serta membuat kita jauh dari kasih Allah dan kita malahan hidup dalam angan – angan yang bisa membuat kita jatuh. Atas pertanyaan Musa, Tuhan menjawab dengan tegas dan lugas,”Bukankah Aku akan menyertai engkau?”. Jawaban Tuhan ini memiliki dua makna: Pertama, Tuhan menegaskan memang Musa bukan siapa-siapa, walaupun ia pernah diangkat menjadi anak oleh putri Firaun, tetapi kemudian ia “terbuang” ke padang gurun. Makna kedua menegaskan sekaligus melengkapi makna pertama yaitu sekalipun Musa bukan siapa-siapa, tetapi ada Tuhan yang menyertainya. Walaupun Firaun dianggap sebagai penguasa besar di dunia, tetapi Tuhanlah Pencipta dan Pemilik sejati dari alam semesta. Walaupun Firaun disembah sebagai dewa oleh bangsanya, namun Tuhan adalah Tuhan yang sejati yang patut menerima segala pujian dan hormat. Sosok inilah yang akan menyertai Musa yang bukan siapa-siapa itu, sehingga Musa seharusnya tidak gentar ketika menghadap Firaun.

Conscience is like pain. It warns us when we violate God’s laws – when we are thinking of sinning, or when we have already sinned. If we ignore its warnings, and go against it, we will gradually kill the sense of sin within us. Then a day will come when we won’t feel any sensitivity to sin at all. Then we will have a dead conscience.

Yohanes 1:16 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;

Banyak orang yang jatuh karena sikap arogan dan hanya mementingkan diri sendiri, serta tidak menghargai orang lain.

Yang hidup lebih kepada perbedaan tanpa pernah mau menghargainya, sehingga hidup tidak ada rasa ucapan Syukur yang dipanjatkan kepada Tuhan. Karena itu, mari coba dapatkan hidup yang bersukacita, luar biasa dan jadikan hidup ini sebagai tempat yang bisa menyimpan berbagai Tindakan, perbuatan dan kenangan yang baik, benar serta berharga agar ketika dibawa kepada Tuhan, hidup diberkati. Alasan ini juga yang kerap kali dipakai oleh orang Kristen untuk tidak melayani: “saya bukan siapa-siapa”. Namun melalui jawaban Tuhan kepada Musa, la mengajak kita untuk tidak memandang kepada diri sendiri, melainkan kepada diriNya. Sampai kapan pun kita bukan siapa-siapa, tetapi kita menjadi siapa-siapa karena Tuhan yang melayakkan kita.

Dan Ia berjanji untuk menyertai dan memberkati pelayan kita, agar kita dipakai olehNya menjadi saluran berkat bagi banyak orang.
Have a nice day and God bless

LW – SCW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *