Bacaan : Mazmur 90:10-17
Nats : Mazmur 90:12, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
Syalom bapak ibu saudara yang terkasih dalam Kristus . . . . .
Dengan semakin bertambahnya usia kita, hidup tampak semakin lebih simple dan praktis saja. Penulis Victor Hugo mengatakan, “Hidup itu singkat, dan kita membuatnya semakin singkat dengan menyia-nyiakan waktu.” Dan, tidak ada contoh yang lebih menyedihkan tentang waktu yang disia-siakan daripada hidup yang penuh dengan kejengkelan. Seperti seorang wanita Amerika yang impiannya untuk mengelilingi Inggris dengan kereta api menjadi kenyataan. Namun saat menaiki kereta api itu, ia jengkel dengan jendela dan temperatur, mengeluhkan tempat duduknya, sibuk merapikan bawaannya, dan seterusnya. Tak heran bila ia terkejut saat tiba-tiba sampai di tujuan. Dengan sangat menyesal ia berkata kepada penjemputnya, “Jika saya tahu bahwa saya akan tiba begitu cepat, saya tidak akan menghabiskan waktu dengan jengkel terhadap begitu banyak hal.”
Apakah ini benar-benar suatu dosa, ataukah semata-mata suatu kesalahan kecil dalam diri seseorang yang dapat dilakukan oleh setiap manusia? Firman Allah memberitahukan kepada kita apa yang dapat ditimbulkan oleh hal ini. Matius 15:12 menceritakan tentang bagaimana pekerjaan Tuhan Yesus menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi. Mula-mula mereka “hanya” kesal, akan tetapi betapa hebat akibatnya! Penduduk kota Nazaret, tempat Ia dibesarkan, merasa dihina oleh sabda- Nya. Lalu, mereka menghalau Tuhan Yesus dan berusaha membunuh Dia dengan cara melemparkan Dia dari tebing gunung (Lukas 4:29). Kejengkelan seperti itulah yang menyebabkan Tuhan Yesus sangat menderita, dan mereka yang bersangkutan melakukan kesalahan besar. Pada masa kini, hal tersebut juga mendatangkan akibat yang serupa.
Perasaan jengkel sifatnya sama seperti marah. Jika kita membiasakan hal tersebut menguasai kita, maka kita telah menjadi alat Iblis yang merusak persekutuan kasih.
Selain itu, jika kita tidak dapat menguasai diri kita, maka kita telah melakukan tindakan yang berlawanan dengan kehendak Allah.
Jika kita mulai merasa jengkel, kita harus menghadapinya dan berkata, “Tuhan telah menetapkan hal ini. Keadaan ini, kata-kata ini, orang ini, atau apa pun adanya, sesungguhnya didatangkan oleh Tuhan kepadaku. Ini adalah sebagian dari rencana-Nya.” Jika hal itu terjadi dalam suatu situasi yang genting sehingga mengakibatkan kita “meledak” dalam sebuah pembicaraan, segeralah meminta maaf. Hal membenci dosa dan merasa menyesal karena dosa, akan mendorong kita untuk menyelesaikan hal itu dengan Tuhan dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita telah menjadi kesal hati. Jika kita mohon pengampunan kepada Tuhan Yesus, kita juga harus bersedia untuk bertobat secara konkret dan meminta maaf kepada mereka yang kita sakiti.
Perhatian kita sangat mudah teralih oleh masalah-masalah yang ternyata tidak ada artinya pada akhir kehidupan. Daripada jengkel karena banyak hal, dalamilah firman Allah dan terapkan dalam hidup Anda. Berjuanglah untuk bertumbuh dalam hikmat Allah setiap hari. Tetaplah memusatkan perhatian pada nilai-nilai yang jauh lebih berarti. Jadikan hal itu sebagai tujuan Anda, yakni bahwa suatu hari nanti Anda menyambut Sang Juruselamat dengan hati berhikmat, bukan dengan hati yang jengkel
Saudara-saudaraku yang terkasih, perhatikanlah hal ini: Setiap orang hendaknya cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah, karena kemarahan manusia tidak menghasilkan kebenaran Tuhan. (Yakobus 1:19-20)
Kesimpulan
Kejengkelan mungkin tampak sepele, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Ia bisa mengubah suasana hati, merusak hubungan, dan mencuri damai sejahtera yang Tuhan berikan. Karena itu, marilah kita belajar menghitung hari-hari kita dengan bijaksana — memilih untuk bersyukur, bukan mengeluh; memilih untuk tenang, bukan jengkel. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kemarahan. Lebih baik kita mengisinya dengan kasih, pengampunan, dan sukacita yang datang dari Tuhan. Sebab di hadapan Allah, hati yang bersyukur jauh lebih berharga daripada hati yang jengkel.
Kita sering kali mudah terganggu oleh hal-hal kecil — ucapan orang, sikap yang tidak menyenangkan, atau situasi yang tidak sesuai harapan. Namun bila kita membiarkan kejengkelan menguasai hati, kita justru kehilangan damai yang Tuhan sediakan. Kita perlu belajar menyerahkan setiap perasaan itu kepada Tuhan, percaya bahwa setiap peristiwa adalah bagian dari rencana-Nya. Saat kita mulai mengendalikan emosi dan mengampuni, kita sedang belajar menjadi pribadi yang berhikmat. Kita tidak ingin mengakhiri hari dengan hati jengkel, tetapi dengan hati yang penuh syukur karena Tuhan selalu memelihara kita.
KEJENGKELAN MEMBUAT MASALAH BESAR DI BELAKANG PERKARA-PERKARA KECIL
Hikmat Hari Ini
“Kejengkelan membuat masalah besar dari perkara kecil.
Hikmat membuat perkara besar terasa kecil karena hati yang tenang.”
Tuhan Yesus Memberkati
TC
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan