Elohim Ministry umum Mengarahkan Harapan hanya kepada Yesus

Mengarahkan Harapan hanya kepada Yesus



Renungan harian Kamis, 10 September 2026

Yohanes 2:1-11 – Belajar menaruh harapan kepada Tuhan dan mempercayai cara serta waktu-Nya.

Shalom, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Kita tentu pernah berada dalam keadaan ketika sesuatu yang kita andalkan tiba-tiba tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Persoalan keluarga, pekerjaan, pelayanan, kebutuhan ekonomi, kesehatan, relasi, atau pergumulan pribadi dapat membuat kita bertanya, “Kepada siapa saya harus meminta pertolongan?” Ketika menghadapi masalah, biasanya pikiran kita segera tertuju kepada orang yang menurut kita memiliki kemampuan untuk membantu. Kita mengingat orang yang memiliki jabatan, pengalaman, koneksi, kemampuan, atau sumber daya. Itu bukan sesuatu yang salah. Tuhan juga dapat memakai orang lain untuk menolong kita. Namun, persoalannya adalah siapa yang menjadi pengharapan utama kita?

Yohanes 2:1-11 membawa kita kepada sebuah peristiwa yang sangat dikenal, yaitu ketika Yesus mengubah air menjadi anggur dalam sebuah perkawinan di Kana. Di tengah sukacita sebuah pesta, muncul sebuah masalah: mereka kekurangan anggur. Masalah itu mungkin tampak sederhana dibandingkan persoalan besar yang kita hadapi sekarang. Namun, melalui peristiwa sederhana ini, Yohanes menunjukkan sesuatu yang sangat penting tentang Yesus: Ia berkuasa, Ia bekerja menurut waktu-Nya, dan melalui pekerjaan-Nya kemuliaan Allah dinyatakan.

Ayat 11 mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan tanda pertama yang dilakukan Yesus untuk menyatakan kemuliaan-Nya dan membuat murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. Karena itu, pagi hari ini kita akan belajar dua hal penting: kepada siapa kita menaruh harapan ketika menghadapi krisis, dan bagaimana kita mempercayai cara serta waktu Tuhan ketika jawaban belum terlihat.

1. Ketika masalah datang, arahkan harapan kita kepada Tuhan

Ketika mengetahui bahwa mereka kekurangan anggur, Maria datang kepada Yesus dan menyampaikan masalah itu: “Mereka kehabisan anggur.” Maria tidak menjelaskan panjang lebar. Ia hanya membawa persoalan itu kepada Yesus. Hal ini menarik untuk kita perhatikan. Maria mengenal siapa Yesus. Ia mengetahui bahwa Yesus bukan sekadar seorang guru atau manusia biasa. Karena itu, ketika masalah muncul, Maria membawa masalah tersebut kepada Yesus. Yang menarik, ketika Maria datang kepada Yesus, jawaban Yesus tidak langsung sesuai dengan ekspektasi Maria. Yesus berkata bahwa saat-Nya belum tiba. Namun Maria tetap percaya. Ia kemudian berkata kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” — Yohanes 2:5. Di sinilah kita melihat sebuah iman yang sederhana tetapi dalam. Maria tidak mengetahui bagaimana Yesus akan menyelesaikan persoalan itu. Ia juga tidak mengetahui kapan pertolongan itu akan datang. Tetapi ia tetap mengarahkan dirinya kepada Yesus.

Iman tidak selalu berarti kita mengetahui bagaimana Tuhan akan bekerja. Iman berarti kita tetap percaya kepada Tuhan sekalipun kita belum mengetahui bagaimana Ia akan bekerja.

Mungkin hari ini kita sedang menghadapi persoalan yang tidak mampu kita selesaikan sendiri. Jangan biarkan besarnya masalah membuat kita lupa kepada besarnya Tuhan. Sering kali dalam kehidupan kita, respons pertama terhadap masalah adalah mencari manusia. Kita berpikir tentang siapa yang bisa membantu, siapa yang memiliki jabatan, siapa yang memiliki uang, siapa yang memiliki koneksi, atau siapa yang memiliki kemampuan tertentu. Bahkan dalam keadaan terdesak, kita dapat menjadikan manusia sebagai tempat pengharapan utama kita. Tentu saja Tuhan dapat memakai keluarga, sahabat, rekan kerja, pemimpin, atau orang lain untuk menolong kita. Tetapi mereka bukanlah sumber pengharapan tertinggi kita. Manusia memiliki keterbatasan. Jangan sampai perhatian kita hanya tertuju kepada masalah, sementara mata kita tidak lagi tertuju kepada Tuhan. Ketika krisis datang, kita boleh meminta pertolongan kepada orang lain. Kita boleh menggunakan hikmat, mencari nasihat, bekerja, merencanakan, dan melakukan bagian kita. Tetapi di atas semuanya itu, pengharapan utama kita harus tetap kepada Tuhan.

2. Percayalah kepada cara dan waktu Tuhan

Hal kedua yang kita lihat dalam peristiwa di Kana adalah bahwa Tuhan bekerja dengan cara dan waktu yang tidak selalu dapat kita mengerti. Secara manusiawi, ada proses yang kita bayangkan harus terjadi sebelum sesuatu yang baik dapat dihasilkan. Namun dalam kisah ini, Yesus meminta para pelayan mengisi enam tempayan dengan air. Setelah mereka melakukannya, Yesus meminta mereka mengambilnya dan membawanya kepada pemimpin pesta. Air itu telah menjadi anggur.

Kita tidak diberi penjelasan mengenai proses perubahan tersebut. Yohanes justru mengarahkan perhatian kita kepada siapa yang melakukan tanda itu, yaitu Yesus. Di sini kita belajar bahwa Tuhan tidak dibatasi oleh cara berpikir manusia. Apa yang bagi manusia membutuhkan proses panjang, berada di dalam kuasa Tuhan. Apa yang bagi kita terlihat mustahil, tidak menjadi sesuatu yang mustahil bagi-Nya. Namun, ini bukan berarti setiap masalah pasti akan diselesaikan Tuhan dengan cepat sesuai keinginan kita. Justru bagian ini mengajar kita tentang sesuatu yang lebih dalam: Tuhan berdaulat atas waktu. Ada kalanya kita berdoa dan berharap jawaban segera datang. Kita berkata, “Tuhan, saya sudah berdoa. Mengapa keadaan ini belum berubah?” Kita ingin Tuhan bekerja sekarang, dengan cara yang kita pikir paling baik, dan memberikan hasil yang kita harapkan.

Tetapi Tuhan tidak selalu bekerja menurut jadwal kita. Kadang-kadang kita melihat pertolongan Tuhan dengan cepat. Pada kesempatan lain, kita harus menunggu. Ada masa ketika kita melihat perubahan yang nyata, tetapi ada pula masa ketika kita belum melihat apa-apa. Dalam keadaan seperti itu, kita perlu belajar mempercayai bahwa tidak terlihat bukan berarti Tuhan tidak bekerja.

Yohanes 2:9 memberikan gambaran yang sangat menarik. Pemimpin pesta tidak mengetahui dari mana anggur itu berasal. Ia hanya menikmati hasilnya. Tetapi para pelayan mengetahui apa yang terjadi. Ada pekerjaan Tuhan yang berlangsung tanpa diketahui semua orang. Demikian juga dalam kehidupan kita. Bisa jadi ada banyak hal yang Tuhan sedang kerjakan yang belum dapat kita lihat hari ini. Kita mungkin hanya melihat masalahnya, tetapi Tuhan melihat keseluruhan perjalanan hidup kita.

Kita mungkin belum melihat jalan keluar, tetapi Tuhan tidak pernah kehilangan kendali.
Kita mungkin belum memahami maksud-Nya, tetapi kita dapat tetap mempercayai-Nya.
Kita mungkin belum melihat perubahan keadaan, tetapi kita dapat terus berjalan bersama-Nya.

Karena itu, ketika Tuhan membuat kita menunggu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan kita. Masa penantian pun dapat menjadi tempat Tuhan membentuk iman, kesabaran, ketaatan, dan karakter kita. Yang penting bukan hanya seberapa cepat Tuhan menjawab doa kita, tetapi apakah selama menunggu kita tetap berjalan bersama Tuhan.

Kesimpulan

Kisah di Kana mengingatkan kita bahwa ketika menghadapi kekurangan, krisis, dan ketidakpastian, kita perlu kembali kepada Tuhan sebagai sumber pengharapan utama kita. Kita tidak tahu bagaimana Tuhan akan bekerja. Kita juga tidak selalu tahu kapan Ia akan bertindak. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan berkuasa dan tidak dibatasi oleh keterbatasan manusia. Karena itu, jangan hanya percaya kepada Tuhan ketika kita sudah melihat mujizat. Percayalah kepada-Nya bahkan ketika kita masih berada dalam proses menunggu. Pertolongan Tuhan bukan hanya untuk membuat keadaan kita menjadi lebih baik, tetapi juga supaya melalui kehidupan kita, kemuliaan Tuhan semakin nyata dan iman kita semakin teguh kepada-Nya.

Refleksi Renungan

Hari ini kita diajak untuk memeriksa kembali kepada siapa kita menaruh pengharapan ketika menghadapi masalah. Kita boleh menghargai dan menerima pertolongan dari orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita, tetapi jangan menjadikan manusia sebagai dasar pengharapan kita. Kita mau belajar membawa setiap persoalan kepada Tuhan, menaati firman-Nya, serta mempercayai cara dan waktu-Nya. Ketika jawaban belum terlihat, kita tidak mau menyerah atau menganggap Tuhan tidak bekerja. Kita mau tetap percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan apa yang tidak sanggup kita lakukan dan bahwa di balik keadaan yang belum kita mengerti, Tuhan tetap berkarya. Karena itu, dalam masa menunggu sekalipun, kita mau tetap berdoa, memuji, taat, dan memuliakan Tuhan.

Hikmat Hari Ini

“Ketika kita tidak mengetahui bagaimana Tuhan akan bekerja, kita tetap dapat percaya kepada siapa yang sedang bekerja: Tuhan yang berkuasa dan setia.”

Doa Meresponsi Firman Tuhan Hari Ini

Tuhan Yesus, kami bersyukur untuk firman-Mu yang mengingatkan kami bahwa Engkaulah sumber pengharapan kami. Ampunilah kami apabila dalam menghadapi masalah kami lebih dahulu mengandalkan manusia, kekuatan, kemampuan, dan pertimbangan kami sendiri daripada datang kepada-Mu. Ajarlah kami seperti Maria yang membawa persoalannya kepada-Mu dan tetap percaya kepada-Mu sekalipun ia belum mengetahui bagaimana Engkau akan bekerja. Berikan kami iman untuk mempercayai cara dan waktu-Mu, terutama ketika kami sedang berada dalam masa penantian dan belum melihat perubahan. Tolong kami untuk tetap taat, berdoa, dan memuji-Mu dalam segala keadaan. Ketika Engkau memberikan pertolongan, biarlah kami tidak mengambil kemuliaan bagi diri kami sendiri, tetapi mengembalikan seluruh kemuliaan hanya kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Rangkuman Khotbah
Grace Syauta

1 thought on “Mengarahkan Harapan hanya kepada Yesus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *