Elohim Ministry umum Penghargaan dari Tempat yang Mahatinggi

Penghargaan dari Tempat yang Mahatinggi



Renungan Harian Senin. 05 Januari 2025

“Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”
(Kisah Para Rasul 7:55–56)

Dunia mengenal banyak bentuk penghargaan — dari panggung hiburan, sains, hingga kemanusiaan. Namun, penghargaan yang tertinggi dan abadi hanya datang dari Tuhan sendiri. Kisah hidup Stefanus, salah satu tokoh dalam gereja mula-mula, menunjukkan bahwa penghargaan surgawi tidak diukur dari besarnya posisi, melainkan dari ketulusan dan kesetiaan hati dalam mengiring Tuhan.
Ketika Stefanus menghadapi kematian karena imannya, Alkitab mencatat bahwa Yesus berdiri di sebelah kanan Allah — suatu tanda kehormatan ilahi yang luar biasa. Inilah “penghargaan dari tempat yang Mahatinggi.”

Ada apa dengan Stefanus sampai Yesus berdiri menyambut Setfanus sebagai seorang pemenang :

1. Sedia Melayani Tuhan dalam Bentuk Apapun

📖 (Kisah Para Rasul 6:1, 5) Stefanus bukan seorang rasul besar atau tokoh panggung pelayanan. Ia adalah pelayan yang mengurus kebutuhan para janda — sebuah pelayanan sederhana yang seringkali luput dari perhatian. Namun, Alkitab menyebut dia sebagai “seorang yang penuh iman dan Roh Kudus.”

Pelajaran penting dari Stefanus adalah bahwa pelayanan sejati tidak diukur dari besar kecilnya tanggung jawab, tetapi dari hati yang melakukannya. Tuhan tidak melihat posisi, tetapi sikap hati yang berkata, “Aku siap melayani dalam bentuk apa pun.” Yang terpenting bukanlah apa yang kita lakukan, tetapi seperti siapa kita saat melakukannya — apakah kita mencerminkan Kristus di dalamnya?

2. Hidup dalam Firman Tuhan

Stefanus mengenal firman bukan hanya secara intelektual, tetapi secara hidup. Saat ia berbicara di depan para pemimpin agama, ia mampu menjelaskan seluruh sejarah karya Allah dengan penuh hikmat. Itu menunjukkan bahwa firman telah berakar dalam kehidupannya.

Yesus sendiri berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku.” (Matius 7:21)

Artinya, mendengar firman saja tidak cukup. Kita harus melakukannya. Firman bukan hanya informasi rohani, melainkan alat transformasi hidup.
Setiap kali kita membaca Alkitab, biarlah Roh Kudus menyingkapkan hal yang baru, menegur, menguatkan, dan mengubah kita menjadi pribadi yang makin serupa dengan Kristus.

📖 (Kisah Para Rasul 7:59–60) Saat Stefanus dilempari batu, ia tidak mengutuk atau membalas dendam. Ia justru berdoa, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku… Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Doa ini menggemakan doa Yesus di kayu salib: “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Inilah bukti bahwa Stefanus hidup serupa dengan Kristus. Ia membalas kejahatan dengan kasih, penderitaan dengan pengampunan. Keserupaan dengan Kristus tidak terbentuk dalam kenyamanan, tetapi melalui ujian dan kesetiaan dalam penderitaan.
Setiap kali kita memilih mengampuni, bersikap lembut, dan tetap mengasihi, kita sedang menunjukkan wajah Kristus di dunia.

📖 (Yohanes 16:13) Roh Kuduslah yang memimpin Stefanus dalam setiap perkataan dan tindakannya. Ia berbicara dengan keberanian, namun dengan kasih dan hikmat yang datang dari Allah.

Yesus berjanji: “Roh Kebenaran akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.”

Artinya, kehidupan orang percaya seharusnya tidak dikendalikan oleh emosi atau ambisi pribadi, tetapi oleh pimpinan Roh Kudus. Ketika Roh Kudus memimpin, kita akan berbicara dengan bijaksana, bertindak dengan kasih, dan hidup dalam kehendak Allah yang sempurna.

Kesetiaan Stefanus mencapai puncaknya ketika ia rela mati demi imannya. Kesetiaan seperti ini bukan hasil kekuatan manusia, melainkan buah dari pengenalan akan kasih Kristus.
Tuhan berjanji,

📖 (Wahyu 2:10) “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Inilah penghargaan tertinggi — bukan dari dunia, tetapi dari tempat yang Mahatinggi. Mahkota ini tidak fana, tidak bisa dicuri, dan akan kita terima langsung dari tangan Tuhan sendiri.

Kita sering mencari pengakuan dari manusia, ingin dihargai atas apa yang kita lakukan. Namun, hari ini kita diingatkan bahwa penghargaan sejati datang dari Tuhan. Ketika kita melayani dengan hati tulus, menghidupi firman-Nya, membiarkan Roh Kudus memimpin langkah kita, dan tetap setia sampai akhir, maka Yesus sendiri yang akan berdiri menyambut kita di surga.
Kita tidak perlu mencari sorotan dunia, sebab Tuhan melihat setiap kesetiaan yang dilakukan dalam diam.

🙏 Kesimpulan

Penghargaan dari tempat yang Mahatinggi bukanlah piala, medali, atau pujian manusia. Itu adalah pengakuan ilahi dari Kristus sendiri bagi mereka yang setia sampai akhir. Seperti Stefanus, mari kita melayani dengan tulus, hidup dalam firman, dipimpin Roh Kudus, dan menjadi serupa dengan Kristus.
Pada waktunya kelak, Yesus akan berdiri menyambut kita dan mengenakan mahkota kehidupan di kepala kita — sebagai penghargaan kekal dari Surga.

💡 Hikmat Hari Ini

“Tuhan menghargai bukan besarnya pelayanan, tetapi kesetiaan hati dalam melakukannya.”
“Mungkin dunia tidak mengenali nama kita, tetapi surga mengenali langkah kita.”

Rangkuman Khotbah
Pdt. Ester Budiono

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800

Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *