Renungan Harian: Sabtu 12 Juli 2025
Nats: Amsal 20 : 6, Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah yang menemukannya?
Shalom saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus . . . . .
Didalam Amsal 20 : 6 ayat ini mungkin terlihat sederhana, namun mengandung makna yang sangat dalam tentang apa sebenarnya yang membuat seseorang berharga dimata Tuhan dan sesama. Di dunia ini banyak orang ingin terlihat baik, ingin diakui sebagai orang baik, bahkan mungkin secara lantang menyatakan kebaikan hatinya, namun pertanyaannya adalah siapa yang dapat menemukan orang yang benar-benar setia ? Mari kita selami lebih dalam makna dari ayat ini kaitannya dengan pribadi yang berharga.
Kebaikan hati yang sejati vs Kebaikan hati yang semu
Dalam Amsal 20 : 6 ini dikatakan Banyak orang menyebut baik hati, menggambarkan kecendrungan manusia untuk memproklamirkan kebaikan dirinya.Tindakan ini hanya bertujuan untuk dilihat orang lain atau pencitraan diri, Dunia ini penuh dengan orang-orang yang pandai berbicara manis, bersosialisasi dengan baik, bahkan melakukan perbuatan-perbuatan yang sepintas terlihat baik, namun apakah semua itu mencerminkan kebaikan hati yang sejati ?? jawabannya belum tentu. Contoh : seorang politikus yang berjanji manis saat kampanye, akan memberikan bantuan sosial di depan kamera, namun di balik layar melakukan praktik korupsi Dia menyebut diri baik hati tetapi kebaikan hatinya semu dan didasari motif tersembunyi atau seseorang yang gemar memamerkan kegiatan sosialnya di media sosial, namun di kehidupan nyatanya ia kurang peduli dengan orang lain.
Pentingnya kesetiaan sebagai tolok ukur
Ayat ini kemudian menggeser fokus dari klaim kebaikan hati pertanyaannya yang lebih krusial, siapa mendapatkan orang yang setia ?? ini menunjukkan bahwa kesetiaan adalah tolak ukur sesungguhnya dari pribadi yang berharga. Mengapa demikian ? Contohnya :
Dalam pelayanan gereja : Seorang pelayan Tuhan yang setia melayani bukan karena ingin dipuji, atau mendapatkan posisi, melainkan karena panggilan dan kasihnya kepada Tuhan dan jemaat, ia mungkin tidak menonjol, namun ia selalu hadir melakukan bagiannya dengan sungguh-sungguh bahkan ketika tidak ada yang melihat, ia adalah pribadi yang berharga bagi gereja dan Tuhan. Dalam persahabatan seorang sahabat yang setia adalah dia yang tetap ada di samping kita, bahkan ketika kita sedang terpuruk atau melakukan kesalahan, Dia berani menegur dengan kasih, bukan meninggalkannya. Dia adalah pribadi yang berharga dalam hidup kita.
Kesetiaan dalam Tuhan dan FirmanNya
Pada akhirnya kesetiaan yang paling penting adalah kesetiaan kita kepada Tuhan dan FirmanNya, banyak orang yang mengaku Kristen, mengaku beriman, namun apakah kita setia dalam mengikuti ajaranNya ? Apakah kita setia dalam kehendakNya. Contoh : Seseorang yang rajin beribadah kegereja setiap minggu, bahkan aktif dalam pelayanannya, namun di luar gereja hidupnya tidak mencerminkan nilai-nilai kristiani, ia berbohong, menipu, atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, ia menyebut diri baik hati dan rohani, namun kesetiaanya kepada Tuhan patut dipertanyakan ? Sebaliknya pribadi yang berharga adalah mereka yang setia hidup dalam kebenaran firmanNya, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Selanjutnya kesetiaan Tuhan tercermin dari :
Kesetiaan dalam beribadah dan persekutuan bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga hati yang sungguh-sungguh mencari Tuhan.
Kesetiaan dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan, menjadikan firmanNya pelita bagi langkah kita.
Kesetiaan dalam doa tetaplah berkomunikasi dengan Bapa sorgawi dalam segala keadaan.
Kesetiaan dalam melakukan kehendak Tuhan atau mengaplikasikanfirmanTuhan dalam hidup kita
Kesetiaan dalam melayani sesama, yaitu melayani dengan tulus tanpa pamrih, karena kasih kepada Tuhan.
Jadi kesimpulan dalam Amsal 20 : 6 ini mengingatkan kita bahwa kebaikan hati tidaklah cukup. yang membuat kita berharga di mata Tuhan dan sesama adalah kesetiaan, karena kesetiaan adalah bukti nyata dari integritas karakter, ketulusan hati dan komitmen yang kuat.
Marilah kita tidak hanya berhenti pada menyebut diri baik hati, tetapi marilah kita berjuang untuk menjadi pribadi yang setia. Setia dalam hubungan kita, dalam pekerjaan kita, setia dalam pelayanan dan yang terpenting setia kepada Tuhan dan FirmanNya.
Tuhan Yesus memberkati
EW
Amin😇
thank you