Renungan Harian, 09 Maret 2023
Bacaan : Yosua 15
Ayat Pokok : Yosua 15:13-15
“Tetapi kepada Kaleb bin Yefune diberikan Yosua sebagian di tengah-tengah bani Yehuda itu, yakni Kiryat-Arba, seperti yang dititahkan TUHAN kepadanya; Arba ialah bapa Enak. Itulah Hebron. Dan Kaleb menghalau dari sana ketiga orang Enak, yakni Sesai, Ahiman dan Talmai, anak-anak Enak. Dari sana ia maju menyerang penduduk Debir. Nama Debir itu dahulu ialah Kiryat-Sefer.”
Shalom… Selamat pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Kebanyakan orang berfikir jika nanti sudah tua, tinggal menikmati masa pensiun dengan santai dan tidak bekerja keras lagi. Hal ini tidaklah salah dan sangat fair jika kita melihat seseorang yang di masa mudanya bekerja keras dan kemudian di usia yang lanjut tinggal menikmati hasil dari kerja kerasnya. Alkitab mencatatkan tentang kisah Yosua dan kaleb sebagai contoh bagaimana menikmati masa tua sesuai dengan kehendak Tuhan. Zaman itu, Yosua dan Kaleb diusia senjanya terus berperang untuk merebut tanah Kanaan. Dalam benak Yosua dan Kaleb, tidak pernah terbersit salam pikiran mereka “Biar sekarang giliran anak-anak yang berjuang, saya sudah cukup.
“Berbeda dengan pemikiran tersebut, Kaleb tidak merasa bahwa waktunya untuk pensiun sudah tiba, sekalipun ia telah berusia 85 (delapan puluh lima) tahun. Ia justru terus berusaha untuk memperoleh apa yang Tuhan janjikan dan berikan kepadanya. Ia tidak merasa dirinya ‘sudah habis’, ia justru tetap bersemangat. Oleh karena itu, setelah mendapatkan
penegasan Yosua dengan memberikan pegunungan Hebron (sesuai dengan permintaannya), Kaleb maju menyerang kota Hebron dan merebutnya. Keteguhan hati dan keberanian Kaleb tetap sama seperti ketika ia masih muda (Bilangan13:30).
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih. Mari kita belajar dari Kaleb yang memberikan pengaruh positif pada orang lain. Faktor usia bukanlah masalah, semakin tua, dia semakin memberi dampak. Iman, kesetiaan, perjuangan, semangat, dan keberanian yang dimilikinya di tularkan kepada kaum dan keluarganya. Demikian juga dengan kita.
Marilah kita menularkan dan memberikan dampak kepada orang-orang di sekitar kita dan orang-orang yang kita layani, sehingga mereka juga boleh memiliki hidup penuh kemenangan.
Mari kita introspeksi diri kita, apakah hidup kita juga sudah memberikan pengaruh atau berdampak bagi orang lain?
Di balik keteladanan iman Kaleb, kita melihat anugerah dan kasih kuasa Allah yang menopangnya. Bukan itu saja, Kaleb memiliki respon yang luar biasa terhadap janji Tuhan. Ia tetap taat dan setia mengikuti Tuhan sampai usia senja. Dalam perjuangannya mengikut Tuhan, Kaleb tidak menghindari masalah melainkan menghadapinya dengan tetap fokus kepada Tuhan dan janji-Nya.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih. Kita harus peduli pada Kerajaan Allah, bukan hanya pada keluarga sendiri (Matius 6:33). Jangan menjadi gereja yang egois, sebab ada peperangan rohani yang dahsyat di sekeliling kita, anak cucu cicit dan orang-orang lain yang memerlukan pelayanan kita.
Jika usia kita mulai senja, jangan kendor tetapi tetaplah bersemangat dan perkuat daya juang iman kita. Jika kita masih muda, tempalah diri kita agar makin tua makin jadi alat Tuhan. Usia tua bukan halangan bagi kita untuk berjuang, usia ini justru saat tepat untuk memberi teladan bagi anak cucu kita. Amin…
Tuhan Yesus Memberkati.
DS