Elohim Ministry youth KESEMPATAN DALAM KESULITAN

KESEMPATAN DALAM KESULITAN



Renungan Harian Youth, Kamis 16 Februari 2023

– Filipi 1:22a, Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.

Paul David Tripp dalam bukunya Suffering (Penderitaan) mengatakan, “Keputusasaan yang telah menjadi sebuah cara pandang dan menghasilkan kebiasaan mengeluh, punya kuasa untuk melemahkan atau bahkan menghancurkan motivasi Anda untuk menaati Allah.” Keputusasaan itu bukan hal sepele tetapi berbahaya, menghalangi kita untuk melihat kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan.

Kesulitan jangan dipandang sebagai akhir dari segala-galanya tetapi kesempatan yang diberikan Tuhan untuk berkarya.

Rasul Paulus mengalami kondisi yang begitu buruk. Saat menulis surat Filipi ini, Paulus sedang terisolasi di dalam penjara. Ia tidak bisa ke mana-mana, padahal sebelumnya terus bergerak melakukan perjalanan misi ke berbagai tempat. Ia sudah terbiasa melakukan pelayanan perintisan gereja, berkhotbah dari kota ke kota. Namun sekarang di dalam penjara, ia tidak bisa lagi melakukan itu semua. Tidak ada hiburan juga di penjara, tidak bisa nonton Youtube, tidak bisa dengar Podcast, tidak bisa ikut ibadah daring, tidak bisa Zoom dengan rekan-rekan sepelayanannya. Ia bisa saja berputus asa, “Aduh saya udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi! Kenapa saya yang harus dipenjara? Padahal kalau di luar saya pasti lebih efektif!” Jika Paulus memilih merespons demikian atas kesulitan yang dihadapinya, tentu akan lebih membuat sia-sia hidupnya.

Paulus mengedepankan kehendak Allah; fokus mengajar orang-orang percaya di Filipi dalam mengikut Kristus.

Rasul Paulus mengerti bahwa jika dia sudah tidak ada di dunia ini lagi, dia tidak akan mendapat berbagai masalah lagi dan tidak perlu bersusah-payah seperti yang dia alami saat itu. Tetapi dia tetap menyadari bahwa hidupnya adalah milik Kristus. Dan jika dia masih hidup, dia harus terus bekerja untuk menghasilkan buah bagi kemuliaan nama Kristus.

Yang luar biasanya adalah justru penjara dan segala kesulitan yang dihadapi Paulus, tidak bisa menghalanginya untuk tetap berkarya karena ia tetap memiliki pengharapan di dalam Tuhan.

Pengharapan menyalakan semangat untuk tetap bertumbuh dan memberikan buah bagi Tuhan. Ini tampak ketika ia menuliskan ayat emas, “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah,” yang ditulis dari dalam penjara, di dalam kondisi sulit, serta situasi yang tidak ideal.

Karya terbesar Tuhan Yesus justru tercermin di dalam kesulitan terbesar, yaitu di atas kayu salib. Itulah yang menjadikan kita, orang-orang percaya, dapat hidup tetap memberi buah dalam keadaan paling sulit sekalipun. Tuhan tidak pernah menghendaki kita berada di dalam situasi sulit hanya untuk berputus asa, mengasihani diri sendiri, melainkan harus tetap memberi buah. Mari di tengah kesulitan, kita tetap berdoa bagi orang lain, menanyakan kabar kepada kerabat, juga memberitakan Injil.

Ada saatnya kita merasa lelah, tetapi jika kita mengalami kelelahan tersebut, biarlah kita datang kepada Tuhan. Dia akan memberikan kekuatan baru bagi hidup kita. Dan kita tidak akan pernah berhenti bekerja untuk memberi buah.

Rekan-rekan youth, sebagai pengikut Kristus, kita pun dipanggil untuk memberi hidup yang berdampak bagi sesama. Berapakah usia kita saat ini? Sudah berapa banyak waktu yang Tuhan berikan untuk kita? Apakah kita sudah memakai waktu anugerah Tuhan itu dengan baik? Adakah waktu yang kita sia-siakan? Dalam Filipi 1 : 22a, Paulus berkata, “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Ayat ini mengingatkan kita, selama Tuhan masih menganugerahkan kehidupan bagi kita, maka selama itu pula kita menyerahkan hidup kita untuk dipakai Tuhan menjadi alat-Nya. Kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang berdampak bagi orang lain serta menghasilkan buah. Buah yang dihasilkan bukan sekadar buah biasa tapi buah yang manis yang dapat menjadi berkat bagi sesama serta memuliakan Tuhan. Dengan kata lain, Paulus mengingatkan, yang terpenting bukan seberapa lama kita hidup, tapi seberapa besar hidup kita berdampak dan berbuah bagi orang lain. Yesus sudah memberikan teladan bagi kita, selama 33 tahun Yesus ada di dunia ini, telah begitu banyak orang yang merasakan kasih Allah. Keteladanan-Nya di dalam melayani, penyerahan diri-Nya sesuai kehendak Bapa untuk menebus dosa-dosa kita. 

Tidak ada kata selesai selama kita masih hidup di dunia ini.

Kalaupun saat ini kita masih belum tahu apa yang harus kita lakukan, lakukan saja kebaikan dan perintah-perintah yang Tuhan Firmankan. Dengan menjalani hidup sesuai dengan Firman Tuhan, tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan, kita telah ikut ambil bagian untuk memberi buah bagi Kristus. Sekalipun sulit, pasti ada jalan keluar.  Ingat apa yang Tuhan lakukan ketika orang Israel ada di Laut Teberau? Seakan-akan tidak ada jalan, mau mundur pun bakal mati di tangan orang Mesir, tapi Tuhan dapat masih sanggup menolong mereka, dan Tuhan bukakan lautan itu untuk mereka lewati dan tujuan Tuhan membebaskan bangsa Israel tercapai, mereka bebas dari perbudakan dan melihat betapa hebatnya Allah mereka.

Kiranya kita dapat menjalani kehidupan ini sesuai dengan tujuan yang sudah Tuhan tetapkan bagi kita, untuk menjadi alat-Nya. Kita menghasilkan buah, menjadi berkat bagi sesama dan memuliakan nama-Nya. Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita.

Amin. Tuhan Yesus Memberkati

RM – SCW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *