Renugan Harian Rabu, 03 Mei 2023
Bacaan: Luk. 24:13–35
Pernahkah kita mengalami kesedihan yang begitu mendalam? Atau kehilangan semangat dalam mengiring Tuhan? Karena sesuatu yang berjalan tidak seperti yang kita harapkan, sepertinya Tuhan tidak menjawab doa kita, Tuhan tidak berpihak kepada kita, dan Tuhan membiarkan kita mengalami sesuatu yang sulit. Kadang kita merasa letih secara rohani dan jasmani.
Mari kita renungkan sebuah kisah perjalanan dua orang murid Yesus yang bernama Kleopas (Alfeus, ayah Yakobus.) Mungkin mereka adalah suami istri yang sedang berjalan pulang dengan lesu pada hari itu. Mereka berjalan perlahan; banyak orang melakukannya ketika menempuh perjalanan jauh, dan mereka berbagi kebingungan dan kepedihan akan kematian Yesus. Mereka menjadi sangat tidak bersemangat. Mereka mengira bahwa mereka telah kehilangan Guru mereka yang terkasih untuk selamanya; mereka merasa bahwa dunia mereka telah runtuh. Mereka sangat terguncang karena mengalami kesedihan yang mendalam, dan sangat terluka. “ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia” (ay. 16), jadi jika ada yang bertanya kepada mereka, “Apakah Yesus bersamamu?” jawabannya pasti: “Jangan konyol, Dia sudah mati, kita telah kehilangan Dia, kami berharap Dialah yang akan menyelamatkan Israel tetapi jelas bukan Dia; kita tidak akan melihat-Nya lagi—dan tidak ada yang masuk akal lagi.”
Apa yang Yesus lihat sebagai akar penyebab dari kesedihan kedua orang ini? penyebabnya adalah ketidakpercayaan, ketidakpercayaan ini terjadi karena dua hal.
Pertama, mereka terlalu kecewa dan Kedua, mereka dilanda kebingungan
Yesus menjelaskan, IA menunjukkan kepada mereka bahwa mereka, bingung karena kematian orang yang mereka pikir akan menebus mereka dalam arti mengakhiri penjajahan Romawi, sebenarnya telah dinubuatkan berabad-abad sebelumnya sebagai cara Tuhan menebus dalam arti mengakhiri beban dan perbudakan dosa. Akhirnya, Yesus mengungkapkan kehadiran-Nya. “Tinggallah bersama-sama dengan kami,” kata mereka kepada-Nya saat tiba di Emaus. (Sungguh suatu berkat bagi mereka karena keramahan yang mereka berikan! Entah apa yang akan mereka lewatkan seandainya mereka tidak melakukannya!). Lalu mereka meminta-Nya untuk mengucap syukur, dan ketika Dia melakukannya dan memberi mereka roti “terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia” (ay. 31). Yang pasti, saat mereka mengenali-Nya, Dia menghilang. Namun jelas mereka tahu bahwa Dia masih bersama dengan mereka.
Yesus Kristus, Tuhan kita yang telah bangkit, adalah sama, hari ini seperti juga kemarin, dan yang merupakan bagian dari iman Paskah yang sejati adalah membawa luka kita menuju penyembuhan di Jalan Emaus.
Pertama, dengan memberi tahu Yesus tentang masalah kita,
Lakukanlah ini setiap hari. Ia tetap menjadi pendengar yang baik, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah himne sebagai “rekan sepenanggungan bagi penderitaan kita”; dan hanya ketika kita mengesampingkan rasa kebencian dan sikap mengasihani diri yang tanpa doa, serta membuka hati kita kepada-Nya, maka kita akan mengerti pertolongan-Nya.
Kedua, Dia melayani kita melalui kasihNYA.
Kasih itu menghubungkan penderitaan kita dengan tujuan Tuhan yakni: kasih yang menyelamatkan:
Ketiga, dengan meminta-Nya untuk meneguhkan kita bahwa ketika kita melewati situasi yang berat. Ia akan berjalan menemani kita, dan akan tinggal bersama kita sampai akhir jalan itu.
Ibrani 4:15-16, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”
Tuhan Yesus memberkati.
CM