Renungan Harian Rabu, 18 Oktober 2023
Bacaan: Matius 14:22-33
Tentu kisah ini sangat familiar di telinga kita sebagai orang percaya, Yesus dan Petrus berjalan diatas air. Petrus berjalan atas air mungkin lebih mengherankan walaupun hanya beberapa langkah. Setiap langkah harus diambil dalam iman, tanpa ada keraguan sama sekali. Berjalan diatas air ialah sebuah mukjizat menentang gravitasi. Ada kekuatan supernatural yang melawan kekuatan alam yang menariknya ke bawah.
Hari ini kita akan merenungkan bersama dan belajar dari Iman Petrus kepada Yesus di kisah ini, ada dua hal yang kita akan perhatikan:
- Perintahkan aku
Kita akan berfokus pada kata-kata Petrus: ”Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”
“Suruhlah aku” dapat juga diartikan sebagai “perintahkan aku.” Kita tahu bahwa Petrus menyadari hal itu. “Jikalau ini benar-benar Yesus dan bukan sesosok roh jahat … Kalau Yesus memerintahkan, maka itu akan terwujud! Jadi, mungkin saja …” Demikianlah, Petrus pun mengajukan permohonannya.
Yesus memberi perintah: “Datanglah.” Dan, Petrus menaruh imannya di dalam tindakan. Dia turun dari kapal dan mulai berjalan! Di atas air! Ternyata, bukan hanya perintah Yesus semata yang menjaga Petrus di atas permukaan air. Iman Petrus sendiri merupakan unsur penting lainnya. Ketika iman Petrus goyah, begitu pun kemampuannya berjalan di atas air. “Hai, orang yang kurang percaya,” kata Yesus, “mengapa engkau bimbang?”
Glenn Petruzzi adalah seorang murid Yesus dengan iman Kristen luar biasa. Beberapa tahun lalu, dia mencoba berjalan di atas air di hadapan seluruh peserta camp praremaja New England. Dia tidak berhasil, dan mengira masalahnya terletak pada kurangnya iman yang dia miliki. Sebenarnya tidak juga. Saya percaya dia punya tipe dan kedalaman iman yang sama dengan yang Petrus miliki.
Lantas, unsur apa yang hilang? Tanpa Yesus yang memberikan perintah kepada manusia untuk melakukan hal yang mestinya mustahil, tanpa kuasa-Nya untuk memutarbalikkan hukum fisika, Glenn tidak dapat berjalan di atas air. Tak ada catatan tentang Petrus melakukan hal itu lagi, sekalipun dia mengerjakan begitu banyak mujizat selepas kenaikan Yesus.
- Fokus pada Tuhan Yesus
Ay.30 “Tetapi ketika dirasanya tiupan angina” Terjemahan Alkitab sehari-hari sama dengan terjemahan dalam bahasa Inggris, “But when he saw the wind”. Memang sebenarnya angin tidak bisa kita lihat, namun kita bisa mengerti jika Petrus yang sedang berada dilautan melogikakannya dengan “tetapi dirasakannya tiupan angin”. Maksud Petrus melihat betapa besarnya angina itu adalah saat itu focus perhatian Petrus beralih, dari melihat Tuhan Yesus dan tujuannya adalah menemui DIA. Namun godaan datang dan mengalihkan perhatiannya, Alkitab mencatat Petrus mulai takut dan tenggelam.
Demikian juga dengan iman kita, saat fokus kita pada Yesus maka iman kita akan kuat. Namun saat fokus kita beralih kepada apa yang terjadi disekitar kita, maka kita akan mulai merasa takut dan bimbang dan itu dapat menenggelamkan kita.
Tetapi, jika hal itu terjadi kita harus belajar dari Petrus, dia cepat menyadari keberadaannya dan berteriak minta tolong kepada Yesus. Seringkali saat kita sedang dalam banyak pergumulan, kita akan datang kepada Yesus. Fokus kita berdoa untuk mendapat pertolongan Tuhan, namun setelah kita alami pertolongan Tuhan banyak orang yang kemudina tidak lagi berfokus pada Tuhan. Fokusnya beralih kepada dunia, tenggelam dalam semua kenikmatan dunia.
Bila kita merasakan kondisi seperti Petrus yang mulai tenggelam, sama seperti Petrus kita harus berteriak “Tuhan Tolong”, maka tangan-Nya akan cepat terulur untuk menolong dan mengangkat kita kembali.
Tuhan Yesus memberkati.
CM
Bagus firman Tuhan tentang petrus,kiranya kita di berkati semua Amin