Renungan Harian Youth, Senin 27 November 2023
Amsal 17:17 “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran”
Sahabat adalah seorang yang dapat menjadi tempat untuk kita berbagi. Persahabatan menjadi istilah yang menggambarkan relasi, perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial.
Istilah persahabatan menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan, dan afeksi (perasaan).
Menyenangkan gak sih punya sahabat? Punya seseorang yang selalu bisa hadir buat kita? Namun dibalik kesan “positif” dan menyenangkan dari kata SAHABAT, ada fakta bahwa persahabatan juga bisa mengalami kerenggangan, bisa mengalami keretakan. Karena apa? Karena kita berhadapan atau menjalin relasi dengan manusia yang bersifat dinamis. Kita menjalin relasi dengan manusia yang memiliki kekurangan atau kelemahan. Karena itulah persahabatan itu akan diwarnai dengan suka-duka, menghibur-menyakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengarkan-diabaikan, dibantu-ditolak. Banyak orang menikmati indahnya persahabatan, tapi tidak sedikit juga yang merasakan sakit karena sahabatnya sendiri. Bersyukurnya kita anak-anak muda yang percaya pada Tuhan, kita memiliki seorang Pribadi yang benar-benar bisa menjadi sahabat buat kita, menjadi sahabat sejati untuk kita, yaitu Yesus!
Yesus adalah sahabat yang sejati bagi hidup kita, dan Dia juga menjadi teladan untuk kita menjadi sahabat yang baik
Mengapa Yesus menjadi sahabat yang sejati bagi kita?
1. KasihNya terbukti bagi kita
Salib menjadi bukti kasih dan pengorbananNya bagi kita (Yohanes 15:13)
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”
Kasih Tuhan untuk kita bukanlah kasih yang hanya ucapan belaka. Kasih Tuhan terbukti dan nyata dari dulu, sekarang sampai selamanya. Dari ayat diatas menunjukkan bahwa kasih Tuhan sangatlah besar bagi kehidupan kita. Melalui pengorbananNya, Ia memberikan nyawaNya diatas kayu salib untuk memulihkan relasi kita dengan Allah.
Yohanes 15:15 “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku”
Yang perlu digaris bawahi adalah, jangan sampai kasih dan pengorbanan yang kita berikan bagi sahabat kita itu hanya “pura-pura”, lakukan dengan tulus seperti Tuhan yang telah menjadi teladan tentang kasih yang begitu TULUS dan MURNI, dalam kehidupan kita.
2. Memberi nasihat dan menegur agar kita berada di jalan yang benar
Kita tahu bahwa Tuhan selalu memberi nasihat kepada kita melalui kebenaran Firman Tuhan. Dan nasihat itu bertujuan untuk membuat hidup kita menjadi lebih baik. Mengapa Ia memberi nasihat kepada kita? Kembali lagi pada poin pertama, karena Ia sangat mengasihi kita dan ingin kita hidup sesuai dengan kehendak Bapa, sehingga akhirnya kita bisa menggapai rencana Allah yang besar dan ajaib dalam kehidupan kita.
2 Timotius 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”
Firman Tuhan hadir untuk menegur kita, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan kita. Terkadang ketika kita ditegur, ego dalam diri kita meronta-ronta, artinya teguran itu kebanyakan bukan hal yang menyenangkan untuk kita. Namun kita harus bersyukur ketika masih menerima teguran, karena itu berarti masih ada perhatian yang diberikan untuk mencapai kebaikan diri kita.
Amsal 27:6 “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.”
Versi Terjemahan Sederhana Indonesia “Seorang sahabat memukul dengan tujuan baik, tetapi seorang musuh memeluk dengan maksud tersembunyi.”
Sahabat yang baik kita perlu berani memberi teguran, memberi nasihat yang didasarkan kasih dan yang membangun sahabat kita agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Dan pada akhirnya Amsal 28:23 “Orang yang menegur sesamanya dengan terus terang pada akhirnya akan lebih disukai daripada orang yang memuji dengan tidak tulus.” (TSI)
3. Mengenal kita dengan sangat baik bahkan lebih dari yang kita mengerti
Mazmur 139: 1-4 “Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.”
Yesus, Dia mengenal dengan baik sifat kita, kecenderungan kita, semua tentang kita. Dan hal ini merupakan sebuah anugerah yang indah bagi manusia yang memang butuh untuk dimengerti dan dipahami. Di usia-usia kita, tidak jarang kita merasa kehilangan arah, sering juga kita ada di situasi yang membuat kita merasa tidak mengenal diri kita. Namun satu penghiburan datang bagi kita, bahwa ketika kita mulai kehilangan arah, kehilangan kepercayaan diri kita, kita punya Sahabat yang sangat mengerti kita dan bisa mengingatkan kembali siapa diri kita yang sebenarnya.
4. Menerima kita apa adanya dan tetap mengasihi apapun keadaan kita
Menemukan seseorang yang bisa menerima kita bukan hanya hal-hal baik, namun juga hal-hal yang kurang baik dari kita, tentu akan menciptakan rasa aman dan nyaman. Kenapa banyak orang berpura-pura dan berusaha sedemikian rupa untuk menutupi kekurangan mereka? Jawabannya karena takut ditolak, takut ditinggalkan.
Bersyukurnya kita, ketika kita menjalin relasi persahabatan dengan Tuhan, kita tidak perlu takut untuk ditolak dan ditinggalkan karena kelemahan dan kekurangan kita. Ia tahu apa yang jadi kelemahan dan kekurangan kita, tapi Ia tidak menjadi malu karena kelemahan dan kekurangan kita. Ia mampu menerima kita, mengasihi kita, bahkan tetap mengerjakan hal-hal baik bagi kehidupan kita. Sebagai sahabat yang baik kita belajar untuk menerima bukan hanya kelebihan sahabat kita, namun juga apa yang menjadi kekurangannya. Sebagai sahabat yang baik, kita belajar untuk mengasihi bukan hanya ketika sahabat kita dalam posisi yang baik-baik saja, namun juga ketika ia sedang dalam keterpurukan, dalam kegagalan mereka.
Roma 5:7 “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah”
Masih ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa Dia adalah SAHABAT SEJATI bagi kita. Namun poin-poin yang sudah kita pelajari ini dapat mengingatkan kembali akan PribadiNya, KasihNya, perhatianNya bagi kita yang telah ditebus, dan disebut sebagai sahabat-sahabatNya. Hari ini kita juga belajar untuk menjadi sahabat yang baik bagi orang-orang yang Tuhan percayakan ada dihidup kita.
Dia sudah memberikan teladan bagi kita, sekarang waktunya untuk kita belajar menerapkan apa yang telah Tuhan buat dalam hidup kita, supaya semakin banyak orang yang bisa merasakan kasih Tuhan yang tidak terbatas oleh keadaan kita, merasakan PribadiNya yang setia dalam kehidupan kita.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
EYC 25112023-YDK