Renungan Harian Kamis, 18 Januari 2024
Ayat pokok : Markus 1:12-13
Shalom bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Hari ini, kita akan merenungkan pengalaman Yesus di padang gurun, yang dicatat dalam Injil Markus 1:12-13. Padang gurun sering kali menjadi tempat pembentukan rohaniah dan ketaatan yang mendalam. Sebelum memulai pelayanan-Nya, Yesus dipimpin Roh Kudus ke padang gurun untuk diuji dan disucikan.
Padang gurun adalah tempat yang sunyi dan tandus. Hampir-hampir tidak ada kehidupan di sana. Lazimnya, padang gurun dijauhi karena tempat itu penuh bahaya dan ancaman. Ke tempat yang seperti itulah Roh Allah mendesak Yesus (Markus 1:12), segera sesudah IA dibaptis oleh Yohanes pembaptis. Kata Yunani untuk kata “mendesak” dalam ayat ini adalah “Ekballo” yang mengandung arti “mengutus dengan paksa”. Kata ini menunjukkan bahwa Yesus, oleh pimpinan Roh, harus masuk ke padang gurun.
Di tengah kesunyian dan keterpencilan padang gurun, Yesus menghadapi pencobaan dari Iblis. Namun, dengan tetap teguh dalam firman Allah, Ia menolak godaan dan memperkuat iman-Nya. Ini mengajarkan kita bahwa dalam keheningan dan keterpencilan, kita bisa mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas dan memperkuat iman kita.
Yesus memang harus masuk ke padang gurun. Ini adalah tempat yang disediakan Allah Bapa bagi-Nya untuk mempersiapkan jalan keselamatan bagi umat-Nya (bandingkan dengan Markus 1:3-4). Sama seperti bangsa Israel masuk ke dalam padang gurun sebelum menikmati keselamatan di tanah perjanjian, Yesus pun harus masuk ke dalam padang gurun agar Ia membawa keselamatan di Tanah Perjanjian yang kekal, yakni surga, kepada manusia.
Padang gurun juga menjadi tempat di mana Yesus diuji. Selama empat puluh hari DIA diuji dan berhasil mengatasi pencobaan Iblis. Setelah melewati ujian itu para malaikat datang untuk melayani Dia (Markus 1:13).
Pengalaman di padang gurun mengajarkan kita untuk bertahan dalam iman dan kepatuhan kita kepada Allah bahkan ketika kita dihadapkan pada cobaan dan kesulitan.
Ini adalah waktu di mana kita dapat mencari dan mendapatkan kekuatan dari Allah, sehingga kita dapat tumbuh dan matang dalam iman kita. Di padang gurun Yesus tidak hanya mengalami kelaparan dan kehausan, tetapi sekaligus bahaya dan ketandusan. Namun, ketaatan-Nya terbukti membawakan keamanan bagi-Nya di tengah padang gurun itu. Pengalaman Yesus di padang gurun memberi makna khusus bagi orang percaya. Di dunia ini, orang percaya terus mengalami berbagai bahaya, ancaman, penderitaan, dan pencobaan. Namun, di dunia yang sama ini pula Yesus menjanjikan kemenangan dan kehidupan bagi setiap orang yang beriman.
Pengalaman Yesus di padang gurun juga mengajarkan kita tentang pentingnya mengandalkan firman Tuhan dalam menghadapi pencobaan.
Setiap kali Iblis mencoba menggoda-Nya, Yesus merespon dengan firman Alkitab. Hal ini menunjukkan bahwa firman Tuhan adalah senjata yang ampuh untuk melawan godaan dan menguatkan iman kita.
Saat kita menghadapi situasi sulit atau godaan, kita dapat memperkuat diri dengan memahami dan mengandalkan firman Tuhan. Firman-Nya adalah sumber kebijaksanaan, petunjuk, dan kekuatan bagi kita. Sebagaimana Yesus menjawab Iblis dengan firman yang tepat, kita juga dapat menemukan panduan dan kekuatan dalam firman Tuhan.
Pengalaman padang gurun menunjukkan pentingnya kesabaran dan ketekunan dalam perjalanan kehidupan kita. Tuhan Yesus tidak hanya melewati ujian itu, tetapi juga tumbuh dalam ketaatan dan kematangan rohani. Demikian juga, dalam setiap tantangan yang kita hadapi, kita diajarkan untuk bertahan dan tumbuh, bukan hanya melewati. Sebagai umat-Nya, kita juga memiliki jaminan bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian di padang gurun kehidupan ini. Ia akan selalu menyertai kita, dan melalui setiap ujian, Ia bekerja untuk membentuk karakter kita menjadi serupa dengan Kristus.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada tahun ini dan hari-hari serta bulan-bulan mendatang. Namun, Yesus menjamin bahwa segala bentuk bahaya dan ancaman sekalipun tidak akan memisahkan kita dari kasih-Nya, seperti yang tertulis dalam surat Roma 8:35.
Marilah kita menjalani hidup sebagai orang percaya yang melangkah dengan iman dan keyakinan bahwa Yesus, Tuhan kita. DIA adalah Allah yang setia yang tidak pernah meninggalkan kita. Di kondisi seperti apapun hidup kita, bahkan mungkin bagaikan ada di padang gurun yang gersang, selalu ada harapan akan masa depan yang luar biasa, karena Tuhan yang berjanji, SETIA. Amin.
Tuhan Yesus Memberkati
DS