Renungan Harian Youth, Senin 29 April 2024
Apakah makna menjadi seorang Kristen? Menjadi Kristen bukan hanya sekedar Label saja, penting untuk menemukan makna menjadi Murid Kristus yang sesuai dengan kerinduan Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing. Karena Relasi bukan hanya sekedar status melainkan sebuah kualitas.
Hari ini kita belajar dari kisah THOMAS – Injil Yohanes 20:24-29, Seringkali kita memberikan label kepada THOMAS yaitu “Si peragu” (Doubting Thomas) dan kita memandang Thomas adalah murid Yesus yang tidak memiliki Iman yang kokoh. Namun Faktanya ada pada saat itu semua murid mengalami sebuah Krisis kepercayaan. Padahal jika kita mundur kebelakang, Yohanes memberikan sebuah ruangan khusus bagi Tomas. Sebenarnya Thomas adalah Murid Tuhan Yesus yang penuh dengan kepercayaan – Yohanes 11:6 – Thomas berkata “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama dengan Dia” … Bahkan dalam Injil Yohanes hanya Thomas yang tercatat sebagai Murid Yesus yang paling berani untuk membela Imannya …
Namun Tragedi Kematian Yesus menggoncang Iman seluruh Murid-MuridNya. Injil yohanes kembali menceritakan tentang Kisah Kebangkitan Yesus dan tercatat bahwa Yesus menjumpai Maria Magdalena dan juga Murid-murid yang lain, tetapi Thomas tidak ada … Dan betapa hatinya tergoncang ketika murid-murid yang lain menyampaikan sebuah pesan “Kami telah melihat Tuhan” – kemudian Thomas mengungkapkan sebuah pernyaatn “Sebelum aku melihat bekas paku ditangannya dan mencucukan tanganku kedalam Lambunya, sekali-kali aku tidak percaya”
Ini sebenarnya bukan menunjuk kepada kelemahan iman Tomas tetapi dia belum mengalami “KEBANGKITAN KRISTUS” – karena itulah wajar Thomas dengan karakternya mempertanyakan keabsahan berita Kebangkitan Kristus. Delapan hari kemudian …. Thomas bersama dengan murid yang lain berkumpul, Yesus hadir ditengah-tengah mereka
Ayat 26-27 Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.“
Setiap kita harus Membangun iman kita dengan otentik, bukan hanya sekedar ikut-ikutan saja.
Terkesan tidak ada ungkapan kekecewaan kepada Thomas karena Yesus mengenal Thomas secara utuh. Perjumpaan ini penting bagi Thomas. Dan Thomas mendeklarasikan IMAN nya dan dalam Identitas Yesus ini adalah KLIMAKS/PUNCAK dari identitasnya “ya TUHANKU dan ALLAHKU”.
THOMAS menjadi PERCAYA – dalam Injil Yohanes Percaya bukan hanya sekedar perasaan yang biasa namun PERCAYA menjadi salah satu tema pokok dalam Injil Yohanes. Dan Percaya memiliki sebuah kata PERCAYA merujuk kepada sebuah kualitas hubungan, melekat kepada sumber (Abiding), dililitkan bersama – Percaya adalah seperti apa yang Yesus sampaikan – Aku Tinggal didalam kamu dan kamu Tinggal didalam Aku.
Percaya – sebuah kata kerja aktif, bukan sebuah titik pencapaian … namun sebuah proses yang senantiasa dibangung.
Bagaimana kita membangun kualitas relasi kita dengan Tuhan ?
Setiap kita harus Membangun iman kita dengan otentik, bukan hanya sekedar ikut-ikutan saja.
Belajar dari kisah perjumpaan Yesus dengan Thomas setelah kebangkitan, Tuhan Yesus secara spesial/khusus menjumpai Thomas dan juga dengan murid-murid yang lain. Tuhan kenal keberadaan kita dan Tuhan mau kita mengasihi Dia dengan seluruh keberadaan kita.
Markus 12:30 (TB) Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Mengasihi Tuhan dengan segenap aspek/secara utuh seluruh kehidupan kita dan Tuhan mau cinta kita yang otentik, karena Tuhan menciptakan kita sesuai dengan karakter, hasrat dan passion masing-masing.
OTENTIK – Eksplorasi dirimu secara Kreatif bagaimana engkau mengasihi Tuhan… ada banyak anak Tuhan yang tidak menjadi dirinya sendiri karena dia mengekpresikan cintanya sama Tuhan dengan meniru orang lain.
Building a Faith that Fits You Perfectly
Tuhan ingin kita mengalami kehadiran-Nya dan memiliki hubungan pribadi dengan-Nya.
Karena Dia menciptakan kita berbeda-beda, kita juga berbeda-beda dalam cara kita berhubungan dengan-Nya. Kita harus menemukan bentuk cinta yang otentik dari diri kita untuk kita persembahkan kepada Tuhan dan Tipe spiritualitas menunjukkan kekhasan ungkapan iman seseorang, di mana dia merasa lebih otentik dan nyaman di dalam berhubungan dengan Tuhan.
C.S. LEWIS menyatakan Jika semua orang mengalami Tuhan dengan cara yang sama dan memberikan kepada-Nya penyembahan yang sama, maka lagu kemengan gereja tidak akan memiliki simfoni. Itu akan menjadi seperti orkestra di mana semua alat musiknya dimainkan hanya pada nada yang sama.
Temukanlah Cara membangun Iman yang paling PAS buat hidupmu, Satu tujuannya adalah untuk mengasihi Tuhan dengan cara yang terbaik yang bisa kamu lakukan buat Tuhan, membangun Iman dengan cara yang tepat bagi masing-masing pribadi untuk semakin mengenal dan mengasihi Tuhan.
Tidak ada jalan yang terbaik karena semuanya baik, namun yang sama adalah membangun relasi yang berkualitas bersama dengan Tuhan. Kitapun akan belajar juga untuk menghargai saudara kita yang lainnya, dan membangun harmoni yang indah untuk memuliakan Tuhan
Tuhan Yesus memberkati
EYC 270424 – YDK