Renungan Harian Jumat, 01 November 2024
Kata traveller digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebuah artikel dalam media Kompas menyebutkan bahwa aktivitas traveling memiliki dampak mendalam bagi hidup seseorang, karena melalui perjalanan, kita dapat mengenali diri sendiri dan memahami orang lain lebih baik. Traveling juga dapat membantu kita menggali minat, menemukan passion, dan membangun ketertarikan terhadap hal-hal baru di sekitar kita.
Hal-hal yang biasanya menarik orang dalam dunia traveling antara lain pengalaman baru, keindahan alam, kekayaan budaya, atau bahkan kenangan menyenangkan saat berbelanja dan mencoba kuliner setempat. Namun, sebagai orang percaya, kita diingatkan bahwa hidup ini pun adalah sebuah perjalanan, dan kita semua hanyalah pengembara atau musafir di dunia ini.
Kehidupan Orang Percaya Sebagai “The Traveller”
Dalam salah satu kutipan terkenal, Billy Graham berkata, “My home is in Heaven. I am just traveling through this world” (Rumahku ada di surga. Aku hanya sedang melewati dunia ini). Sebagai orang percaya, kita diingatkan bahwa tujuan akhir kita bukanlah di dunia ini, tetapi di surga, rumah sejati kita. Hidup kita di dunia ini hanyalah perjalanan sementara yang menuju kepada Tuhan. Hal ini digambarkan dalam himne seperti “Berjalan ke Sion” atau lagu “Tuntun Aku Tuhan Allah”, yang menyebutkan bagaimana hidup ini adalah perjalanan melewati dunia untuk mencapai tujuan akhir di kota Allah.
Gambaran Perjalanan Bangsa Israel: Bayangan Perjalanan Rohani
Perjalanan kita sebagai orang percaya digambarkan dalam perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Seperti yang tercatat dalam Ulangan 6:23, Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir bukan untuk menetap di padang gurun, tetapi untuk masuk ke Tanah Perjanjian yang telah dijanjikan-Nya kepada nenek moyang mereka. Berikut adalah tiga fase dalam perjalanan ini, yang juga merupakan bayangan bagi perjalanan spiritual kita.
1. Keluar dari Mesir: Meninggalkan Perbudakan Dunia
Mesir sering kali digambarkan dalam Alkitab sebagai “rumah perbudakan” (Ulangan 6:12). Bangsa Israel ditindas dan diperbudak di Mesir oleh Firaun. Mereka menjadi terbiasa dengan kenyamanan, kekayaan, dan budaya Mesir, meskipun sebenarnya hidup mereka terikat dan tertindas. Bagi kita, Mesir melambangkan dunia yang penuh dengan ikatan, kebiasaan yang salah, dan kenikmatan sementara yang bisa menjerat hati kita.
Namun, melalui firman Tuhan, bangsa Israel disadarkan oleh Musa bahwa hidup mereka bukan untuk diperbudak. Mereka dipanggil untuk keluar dari Mesir dan mengikuti Tuhan ke Tanah Perjanjian. Begitu pula dengan kita, kita dipanggil untuk meninggalkan “Mesir” kita—hal-hal duniawi yang menjerat dan memperbudak kita. Tuhan ingin kita menyadari bahwa kita diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar, yaitu hidup di dalam janji-janji-Nya.
2. Melewati Padang Gurun: Menantikan Janji Tuhan dengan Setia1
Setelah keluar dari Mesir, bangsa Israel menjalani perjalanan di padang gurun yang penuh tantangan. Di sinilah iman mereka diuji, karena padang gurun bukanlah tempat tinggal permanen, tetapi sebuah fase peralihan. Walaupun Tuhan memberikan manna, burung puyuh, dan air di padang gurun, bangsa Israel tetap diarahkan pada Tanah Perjanjian. Mereka harus menjaga hati untuk tetap percaya dan menantikan janji Tuhan meskipun mereka belum melihatnya dengan nyata.
Dalam kehidupan kita, ada masa-masa yang serupa dengan padang gurun, di mana kita menantikan janji Tuhan namun belum melihat pemenuhannya. Kita mungkin menikmati beberapa berkat sementara, tetapi kita tidak boleh terjebak dalam kenyamanan dunia ini. Sebagaimana padang gurun hanya sementara, kita harus tetap fokus pada tujuan akhir kita di dalam Tuhan dan tidak menetap di “padang gurun” duniawi ini. Percayalah bahwa Tuhan menyediakan tempat yang jauh lebih baik di surga yang telah dijanjikan-Nya.
3. Masuk ke Tanah Perjanjian: Mencapai Tujuan Kekal
Tahap terakhir dalam perjalanan bangsa Israel adalah memasuki Tanah Perjanjian. Ini menggambarkan fase peneguhan iman, di mana kita memperjelas visi kita akan janji Tuhan dan mengarahkan hidup kita pada tujuan kekal. Banyak orang percaya kehilangan fokus di tahap ini karena tertarik pada hal-hal duniawi. Seperti sepuluh dari dua belas pengintai yang gagal melihat janji Tuhan dan justru terintimidasi oleh tantangan yang ada di depan mereka, kita pun bisa kehilangan visi tentang hidup kekal jika terlalu berfokus pada masalah atau kesenangan dunia.
Namun, jika kita tetap teguh dalam visi yang Tuhan berikan, kita akan mampu memenangkan tanah perjanjian hari demi hari. Pengkhotbah 12:13-14 mengingatkan kita untuk hidup dalam takut akan Tuhan dan berpegang pada perintah-Nya, karena pada akhirnya, segala perbuatan akan dihakimi oleh Tuhan. Salomo, raja paling bijaksana, mengingatkan bahwa segala sesuatu di dunia ini sia-sia jika kita tidak hidup dengan fokus pada Tuhan.
Hidup Sebagai Pengembara yang Menuju Rumah Sejati
Kita hidup di dunia ini sebagai “traveller,” pengembara yang menuju rumah sejati kita di surga. Dalam perjalanan ini, kita harus belajar meninggalkan keterikatan pada dunia, menjaga hati kita tetap setia pada janji Tuhan, dan mempertajam visi akan hidup kekal bersama-Nya.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk tidak berfokus pada kesenangan atau kemewahan dunia yang hanya sementara, tetapi mengarahkan hidup kita pada hal-hal kekal. Seperti kata Billy Graham, kita hanya “melewati dunia ini” dan rumah sejati kita ada di surga.
Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Budi Wahono
Bacaan Alkitab hari ini : Kitab Mazmur pasal 58-59