Renungan harian Kamis, 23 Januari 2025
Ayat pokok : Ibrani 13:5, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
Shalom… Selamat pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Penulis surat Ibrani mengakhiri suratnya dengan nasehat-nasehat yang memberikan dorongan agar pembaca surat Ibrani memiliki kehidupan yang berpadanan dengan nasehat tersebut. Nasihat ini tidak hanya relevan di zaman para rasul, tetapi juga sangat penting bagi kita saat ini. Di tengah godaan untuk terus mengejar harta, Tuhan mengingatkan bahwa rasa cukup dan kepercayaan kepada pemeliharaan-Nya adalah kunci untuk hidup damai sejahtera. Salah satu nasehatnya adalah jangan menjadi hamba uang, dan mencukupkan diri dengan apa yang ada.
Seorang bernama Phineas Taylor Barnum mengatakan ; “Uang adalah Tuan yang jahat, tetapi Pelayan yang sangat baik.” Ungkapan ini mengingatkan bahwa uang adalah alat, bukan tujuan hidup. Sebelum Barnum mengeluarkan statement ini, jauh sebelumnya Alkitab telah memberikan nasehat agar kita tidak menjadi hamba uang, dengan kata lain uang menjadi tuan kita karena uang adalah tuan yang jahat. Sejarah uang dalam peradaban manusia cukup panjang hingga akhirnya uang menjadi alat tukar utama dalam sebuah transaksi. Hampir segala transaksi harus menggunakan uang dan akhirnya uang menjadi hal yang dibutuhkan untuk banyak hal.
1 Timotius 6:10 mengingatkan: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.” Tuhan tidak melarang kita bekerja keras atau memiliki kekayaan, tetapi Ia memperingatkan kita agar tidak mengutamakan harta benda lebih dari-Nya.
Dan Alkitab melanjutkan peringatan tersebut dengan nasehat untuk mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita, jadi dengan kata lain rasa cukup kita bisa menjadi sesuatu yang menjaga seseorang dari jerat perhambaan uang. Kata “cukup” dalam Ibrani 13:5 mengandung makna penting:
- Mengelola apa yang ada dengan bijaksana, Kita dipanggil untuk hidup sesuai kemampuan, bukan memaksakan diri demi gaya hidup atau persaingan dengan orang lain.
- Tidak serakah, Rasa cukup membantu kita menjaga hati dari keserakahan dan ambisi duniawi.
- Percaya pada pemeliharaan Tuhan. Tuhan telah berjanji untuk tidak membiarkan atau meninggalkan kita. Janji ini memberi kita kekuatan untuk bersyukur atas apa yang ada. Sebab bersama dengan DIA dan di dalam DIA, kita tidak akan mengalami kekurangan.
Dari teks Ibrani 13:5 ini ad beberapa pelajaran yang dapat kita ambil;
1. Belajar mengatasi rasa kuatir akan masa depan.
Rasa kuatir akan masa depan bisa membuat kita menginginkan lebih agar kita merasa aman dan cukup di masa depan, ini bukan sesuatu yang salah tetapi bisa jadi hal yang keliru jika akhirnya kita kerja dengan sangat keras dan mendisiplinkan diri begitu rupa sampai kita melupakan persekutuan dengan Tuhan karena sepanjang hari mengumpukan rejeki untuk masa depan.
Paulus menasehatkan jemaat Filipi [Filipi 4:6-7] “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Kita tidak boleh takut akan keadaan, jangan berhenti berusaha, dan selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Bawa semua permintaan kita dalam doa, jika itu berkenan dan sesuai dengan rencana Tuhan, kita percaya, kita hanya perlu sabar untuk menunggu waktu Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan kita lebih besar dari semua masalah yang kita hadapi.
2. Mengatasi rasa iri hati kita.
Iri hati sering kali membuat kita membandingkan hidup kita dengan orang lain. Akibatnya, kita merasa tidak puas dan ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain. Namun, Firman Tuhan mengajarkan untuk bersyukur atas apa yang kita miliki. Ketika kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain, kita dapat menemukan kedamaian dalam hati.
Jika patokan hidup kita adalah orang yang lebih mampu dari kita dalam segi harta dan penampilan, ini akan mendorong kita untuk berlomba mencari materi dan mengejar duniawi dengan cara yang keliru. Ini tidak boleh kita lakukan. Seperti kata pepatah, jangan kau pandang ke atas dan jangan kau lihat matahari, nanti silau mata kamu.
Orang yang belajar mencukupkan diri adalah orang yang memiliki Hati yang bersyukur, Mereka melihat segala sesuatu sebagai anugerah dari Tuhan. Keseimbangan hidup, Mereka bekerja dengan bijaksana, tidak berlebihan, dan tetap menyediakan waktu untuk Tuhan dan Ketenangan jiwa, Mereka percaya bahwa Tuhan mencukupi kebutuhan mereka sesuai waktu-Nya.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Buanglah rasa kuatir dan iri hati kita. Marilah kita belajar untuk mencukupkan hidup dengan apa yang ada pada kita, yang kita miliki dari hasil usaha kita sendiri yang berkenan di hadapan Tuhan. Mari kita belajar mencukupkan diri dengan apa yang Tuhan sediakan. Rasa cukup adalah pelindung kita dari perbudakan uang dan ambisi duniawi. Percayalah, Tuhan adalah sumber segala sesuatu, dan Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Ketika kita bersyukur dan percaya pada pemeliharaan-Nya, hidup kita akan dipenuhi damai sejahtera dan sukacita.
Amin. Yuhan Yesus Memberkati
DS
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan