Renungan Harian Youth, Kamis 01 Mei 2025
Hidup sebagai orang percaya menuntut kita untuk setia dan mempercayai Allah dengan iman yang murni. Kita diselamatkan bukan karena usaha kita, tetapi karena kasih karunia dan rencana keselamatan yang telah Allah tetapkan sejak semula melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Karena itu, jangan pernah meragukan kasih dan rancangan-Nya yang sempurna. Mengikut Tuhan bukan berarti hidup kita akan bebas dari masalah. Justru, ada kalanya Tuhan mengizinkan badai menerpa untuk menunjukkan bahwa Dia peduli, dan bahwa Dia adalah Pribadi yang bertanggung jawab atas hidup kita. Ia tidak membawa kita ke tengah badai untuk menenggelamkan, melainkan untuk membawa kita tiba di tujuan-Nya yang mulia — agar kita menyaksikan sendiri kebaikan, kasih, dan kuasa-Nya yang tidak pernah gagal.
Dalam proses itu, kita belajar berjalan bersama Dia, berharap hanya kepada-Nya, dan menjadi kuat karena penyertaan-Nya.
Sebab seperti yang tertulis: “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5). Mari kita terus bersandar kepada Tuhan, memohon dukungan doa, mencari wajah-Nya, dan tetap percaya bahwa jika badai datang, itu bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menyatakan bahwa rancangan keselamatan-Nya berlaku juga atas kita — agar nama-Nya dipermuliakan melalui hidup kita. Percaya dan berdoalah serta hiduplah dalam kebenaran agar rencana keselamatan dari Allah tetap berlaku untuk kita.
We never realized that when we got on our knees to pray, that GOD was stirred to action. God just doesn’t listen to us, even though that would be enough. We also never realized that we had strong protection when we prayed to God. Even before we said our first word to God, and God first sent His angels to set up camp around us and form a protective circle.
Ketika Yesus memerintahkan para murid untuk mendahului-Nya menyeberangi danau dengan perahu, mereka taat dan melangkah sesuai dengan perintah-Nya. Namun siapa yang menyangka bahwa di tengah ketaatan itu, badai besar datang menerpa, dan perahu mereka dihantam ombak serta angin yang kencang. Demikian pula dalam perjalanan kita mengikut Yesus — sering kali ada hal-hal tak terduga yang mengguncang iman dan menimbulkan banyak pertanyaan dalam hati: “Mengapa ini terjadi?”
Para murid Yesus juga pernah mengalami keraguan dan ketakutan. Di tengah situasi yang mencekam itu, mereka hampir tak mampu mengendalikan perahu mereka. Namun Yesus datang menghampiri mereka dengan cara yang ajaib — berjalan di atas air — dan berseru, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Matius 14:27). Ketika Yesus naik ke dalam perahu, badai pun reda, dan para murid pun tersungkur menyembah-Nya, berkata: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” (Matius 14:33). Melalui peristiwa ini dan mujizat-mujizat lain yang dilakukan Yesus, kita belajar bahwa tidak ada satu pun yang terjadi di luar kendali-Nya. Semua telah ada dalam rancangan Allah yang sempurna. Setiap badai dan setiap keajaiban adalah cara-Nya menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang penuh kuasa — dan melalui itu, iman kita diteguhkan, serta hati kita semakin mengenal siapa Dia sesungguhnya. Jangan pernah ragu dengan rencana keselamatan yang sudah Allah persiapkan lewat anakNya yang mati di kayu salib.
We probably all can think of some big sin that we committed (or are committing), and we wonder how things have gotten that bad. But if we are honest and examine our lives, we can trace our big sins to a lot of smaller and lesser choices that have led us there.
Kurangnya iman dan keraguan yang dibiarkan tumbuh dalam hati bisa berdampak serius dalam kehidupan rohani.
Hati yang ragu tidak akan mengalami berkat sepenuhnya, karena iman adalah dasar bagi kita untuk mengalami kuasa dan kebenaran Allah. Terkadang, seseorang yang ragu memilih diam dan berpura-pura percaya hanya agar tidak dicap tidak beriman. Namun, menyembunyikan keraguan tidak menghapuskan dampaknya — sebaliknya, hal itu dapat membawa seseorang semakin jauh dari keyakinan sejati, bahkan sampai kehilangan kepercayaan sama sekali.
Alkitab mengingatkan kita bahwa orang yang bimbang seperti kapal di tengah laut yang diombang-ambingkan angin dan gelombang — tak punya arah, tak punya keteguhan (Yakobus 1:6). Hati yang diliputi keraguan akan mudah digoyahkan oleh masalah, situasi, atau ketakutan. Dalam kehidupan ini, badai bisa datang secara tiba-tiba. Apa yang tadinya tampak tenang bisa seketika berubah menjadi guncangan yang hebat. Kisah Para Rasul 27:13-14 memberi gambaran yang jelas tentang hal ini. Ketika Paulus dalam perjalanan ke Roma, angin sepoi-sepoi dari selatan membuat semua orang di kapal menyangka perjalanan mereka akan lancar. Namun, tak lama kemudian, badai besar yang disebut angin “Timur Laut” menghantam kapal itu dan membuat mereka terombang-ambing di tengah lautan. Inilah gambaran hidup tanpa iman yang teguh — tampaknya tenang, tapi rapuh saat badai datang. Namun pada akhirnya badai sehebat apapun, Tuhan tetap punya rancangan keselamatan dan semua terselamatkan.
The fact that praying is not completely reduced to a neat collection of formulas, methods, or spiritual laws. It’s better to understood the mystery of prayer when we came to see the Christianity as a relationship with God rather than a religion for God.
Banyak orang merasa perlu melihat bukti terlebih dahulu sebelum mereka bisa benar-benar percaya. Bahkan, di antara kita — anak-anak Allah, orang-orang percaya — sering kali ada kecenderungan untuk menilai mereka yang seperti itu sebagai orang yang kurang percaya atau kurang beriman. Namun, ketika mereka bertanya atau meragukan, respons terbaik bukanlah menghakimi, melainkan menjawab dengan keyakinan penuh: “Percayalah saja.”
Bagaimana dengan kita sendiri? Pernahkah kamu merasa ragu ketika sesuatu yang tak diharapkan tiba-tiba terjadi? Atau saat kenyataan hidup tak sesuai harapan, lalu kamu dituntut untuk tetap percaya? Keraguan bisa menyelinap dalam hati siapa saja, bahkan yang sudah lama berjalan bersama Tuhan. Namun saat itu terjadi, jangan diam. Berdoalah. Mintalah hikmat dari Tuhan. Renungkan kembali firman-Nya dan ingatlah akan segala kebaikan-Nya dalam hidupmu. Itulah yang akan menguatkan imanmu dan menjaga hatimu agar tidak jatuh ke dalam jurang keraguan.
Hati-hatilah — jangan biarkan keraguan menguasai hidupmu. Sebab Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam iman, bukan dalam ketakutan.
Ia tidak menuntut hal yang sulit dari umat-Nya, melainkan memerintahkan agar kita memperkatakan yang benar, yang membangun, dan yang penuh harapan — bukan hal-hal negatif yang meruntuhkan iman. Mari kita belajar untuk percaya — percaya kepada rencana Allah yang menyelamatkan kita. Sebab untuk itu, telah dibayar harga yang sangat mahal: darah Kristus yang menebus kita dari dosa. Iman yang teguh pada kasih dan kuasa-Nya adalah dasar dari hidup yang diberkati dan penuh pengharapan.
Biarkanlah diri kita menjadi berkat untuk orang lain demi membayar keselamatan yang Allah anugerahkan disetiap rencana yang sudah dikerjakan Yesus.
LW – SCW
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan