Renungan Harian Youth, Rabu 27 Agustus 2025
Pernahkah kita dengan penuh kesadaran mengambil Keputusan untuk berbahagia tanpa memikirkan apa kata orang dan tanpa membandingkan diri kita dengan apa yang dimiliki orang lain. Kita mungkin sering terganggu dengan konisi baik dari seseorang, tapi apakah kita benar-benar memilih untuk mengesampingkan itu semua dan focus pada diri kita sendiri? Kadang-kadang kita juga bisa menjadi sinis dengan kondisi orang lain yang ada sekitar kita.
Sinisme bisa menjadi jalan keluar yang mudah saat kita diperhadapkan dengan pemikiran atau situasi yang tidak kita setujui. Semakin kita sinis, semakin kita menghakimi orang lain atas tindakan mereka. Dan, jika kita tidak hati-hati, kita bisa bertumbuh menjadi orang yang angkuh dan arogan.
Penawar dari pemikiran seperti ini adalah tidak menjadi benar dalam segalanya, atau memiliki pendapat yang benar tentang segala sesuatu. Sebaliknya,
Cara untuk pulih dari hati yang sinis adalah dengan berterima kasih dan bersyukur.
1 Tesalonika 5:16-18 berisi pesan untuk bersukacita senantiasa, berdoa tanpa henti, dan mengucap syukur dalam segala hal, karena hal itu merupakan kehendak Allah bagi orang percaya dalam Kristus Yesus. Karena keseluruhan ayat ini mengajarkan untuk menjalani hidup dengan sikap hati yang positif, terhubung dengan Tuhan melalui doa, dan selalu bersyukur atas segala berkat dan pengalaman
Bersukacitalah senantiasa
Sukacita ini bukan hanya perasaan sesaat, tetapi sikap hati yang terpancar dari dalam, bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Roh Kudus yang Allah berikan tinggal dalam kita akan menghasilkan sukacita dalam hati kita sebagai bagian dari buah Roh. Sukacita itu bukan dari dunia ini dan tidak bisa dihilangkan oleh dunia ini. Yesus Kristus itu adalah sumber sukacita kita senantiasa. Kita akan dimampukan bersukacita senantiasa karena kita diyakinkan oleh Roh Kudus bahwa nama kita terdaftar di Sorga dan segala sesuatu senantiasa terjadi sesuai dengan kehendak Allah dan mendatangkan kebaikan bagi kita.
Tetaplah Berdoa
Doa adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan, dan merupakan ungkapan ketergantungan kita pada-Nya. Berdoa tanpa henti berarti menjaga hubungan yang terus-menerus dengan Tuhan dalam segala aspek kehidupan. Doa yang tak henti-hentinya adalah alat Tuhan, yang dengannya Dia menghasilkan kehendak-Nya dalam hidup kita sehingga ada sukacita dan rasa syukur yang terus-menerus.
Doa adalah hal yang selalu dapat dilakukan. Intensitas adalah inti dari berdoa tanpa henti. Hal ini harus menjadi gaya hidup kita. Kata ἀδιαλείπτως (adialeiptos)memiliki arti berkesinambungan, konstan. Tetapi bukan bermakna non-stop (tidak berhenti) melainkan berulang-ulang, berkelanjutan. Kehidupan doa pribadi maupun jemaat Tuhan seperti membuka sebuah percakapan dengan Tuhan yang tidak ada tanda TITIK (.) tetapi terbuka hanya ada koma dan titik koma.
Kehidupan yang tidak berdoa atau kurang berdoa adalah bentuk kesombongan dan pemberontakan terhadap ALLAH. Keyakinan terhadap kedaulatan dan kesetiaan Tuhan akan janji-Nya justru akan menuntun kita kepada kerendahan hati. Membangun sikap ketergantungan terhadap Tuhan.
Mengucap syukurlah dalam segala hal
Ucapan syukur adalah bentuk pengakuan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan kendali Tuhan. Bahkan dalam keadaan sulit, ada kebaikan yang bisa ditemukan dan disyukuri. Ada saat-saat di mana kita sulit mengucap syukur, misalnya ketika mengalami sakit, ditimpa musibah, atau menghadapi situasi yang sama sekali tidak kita harapkan. Tentu saja kita bukan bersyukur atas segala kesukaran itu, tetapi dalam situasi itu Tuhan ingin kita tetap dapat mengucap syukur. Inilah salah satu nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, dan juga bagi kita. Sikap bersyukur mengajarkan kita mampu melihat karya Tuhan dalam segala situasi. Kiranya kita senantiasa belajar bersyukur.
HATI YANG BERSYUKUR TIDAK SELALU MAMPU MENGUBAH SITUASI, NAMUN MAMPU MENOLONG KITA MELIHAT KARYA ALLAH DALAM SEGALA SITUASI
Ketika kita bersyukur, kita akan mengalihkan fokus dari diri sendiri dan menaruhnya kepada Tuhan. Saat kita bersyukur atas sesuatu, kita tidak lagi menghakimi dengan tidak seharusnya; Anda menghargai apa adanya.
Dalam perikop ini, Paulus mendorong semua jemaat di Tesalonika untuk terus bersyukur atas siapa Tuhan dan apa yang telah Dia lakukan. Dia menyuruh mereka untuk terus bersukacita. Bagaimana mungkin? Bagi Paulus, oleh karena anugerah Tuhan yang luar biasa, akan selalu ada hal yang bisa membuat kita bersukacita.
Semakin kita bersyukur dan bersukacita, kita akan terhubung lebih dekat lagi dengan hati dan keinginan Tuhan.
Kita akan terhubung dengan Tuhan lebih dalam lagi, dan memungkinkan untuk bertekun dalam doa. Saat kita terlalu berfokus pada diri sendiri, kita tidak lagi memiliki kapasitas untuk bersekutu dengan Tuhan.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – IT
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan