Renungan Harian Rabu, 10 September 2025
Ayat Pokok : Matius 15:21-28
Syalom… Selamat Pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus.
Pada tahun 1995 ada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Nikita yang berjudul “Di doa ibuku namaku disebut”. Lagu tersebut ditulis oleh seorang yang bernama Peter Philip Bilhorn (1865-1936) Lagu tersebut berjudul “My name in Mother’s Prayer” lagu tersebut menggambarkan betapa besarnya kasih dan perhatian seorang ibu kepada anaknya. Di Indonesia lagu ini sempat menjadi hits di berbagai tempat. Lagu ini tercipta dan sebuah kisah menarik pengarang syairnya yaitu Peter P. Bilhorn.
Peter adalah seorang anak lelaki yang ketika baru berumur tiga tahun ditinggal ayahnya meninggal saat terjadi perang saudara di Amerika. Dia hanya tinggal bersama ibunya dan saudara lelakinya di suatu rumah yg sederhana di sebuah desa yang tidak begitu ramai. Pada umur 8 tahun, Peter harus meninggalkan sekolahnya karena harus membantu ibunya menghidupi keluarga, serta pada umur 15 tahun mereka harus pindah ke Chicago. Di sana dia dan adik laki-lakinya jadi tukang gerobak. Layaknya sebagai seorang anak, pasti ada kenakalan-kenakalan yang pernah dia lakukan, bahkan mungkin sampai melukai hati Ibunya.
Pada suatu malam yang sangat larut serta sepi, Peter pulang ke rumah, dia melewati pintu kamar ibunya. Peter mendengar sebuah suara, suara yang dia tidak pernah dengar sebelumnya. Dia mendapati ibunya di kamar tidur, sedang bertelut. Ibunya berdoa berurai air mata. Ibunya menutup mata, melipat tangan, dan berdoa, itulah yang terlihat oleh Peter. Peter mungkin tidak pemah menyadari betapa Ibunya ternyata sangat sering mendoakan dia. Dengan jelas Peter dapat menangkap satu kalimat yang sungguh menggetarkan hati “Tuhan Lindungi Peter dalam perjalanannya pulang ke Rumah…..Peter…..Ajari Peter.……Peter…dan Peter…dan Peter dan Peter”.

Singkat kata, begitu banyak nama Peter disebut. Dalam keseharian, Peter memang sering sekali melihat ibunya berdoa, namun Peter tak pernah mencoba untuk mau mengetahui apa yang didoakan Ibu. Sampai tibalah hari itu dimana Peter tahu, betapa ibu ternyata selama ini sangat banyak mendoakan dia. Ibunya sangat mengasihi Peter dan adik-adlknya, sehingga ibunya selalu membawakan Peter kepada Tuhan, agar mereka tidak menderita.
Teks Pokok kita hari ini menceritakan kisah yang kurang lebih sama dimana ekspresi kasih dari seorang ibu untuk anaknya. Seorang ibu, wanita Kanaan mengalami pergumulan berat karena anaknya perempuan kerasukan setan. Dan tidak dicatat secara spesifik hal tersebut telah terjadi berapa lama. Yang menarik adalah Yesus meninggalkan daerah pelayanan-NYA [domba Israel] ke daerah pesisir pantai tirus dan sidon tempat dimana ibu tersebut dan anak perempuannya tinggal. Singkat cerita akhirnya ibu, wanita kanaan tersebut mendapatkan pertolongan dari Tuhan Yesus. Anak perempuannya disembuhkan dan dilepaskan dari kerasukan setan.
Beberapa pelajaran yang dapat kita pelajari, diantaranya;
1. Kasih membangkitkan Pengharapan.
Matius 15:22 mencatat; karena statusnya sebagai wanita Kanaan [dimata orang Yahudi adalah bangsa Kafir] dia tidak berani untuk datang mendekat kepada Yesus, namun ia berseru menyampaikan permohonannya kepada Tuhan Yesus.
Ada permohonan tulus dengan pengharapan yang sungguh pada kesanggupan Yesus untuk memberikan jawaban.
2. Kasih membangkitkan Iman.
Matius 15:23 – Yesus tidak menjawab sama sekali. DIA hanya diam membisu dan tidak bereaksi apa-apa bahkan murid-murid meminta kepada-NYA untuk mengusir wanita tersebut. Bahkan ketika Yesus menjawab, jawaban-NYA bernuansa penolakan. Tetapi dia tidak beranjak pergi namun malah mendekat kepada Yesus dan menyembah DIA dan menyampaikan permohonan-NYA. Dia berkata; “Tuhan, tolonglah aku”. Imannya sama sekali tidak goyah. Kasihnya yang besar melahirkan iman yang kuat walaupun respons Yesus tidak seperti apa yang dia harapkan namun dia tetap percaya kepada-NYA.
3. Kasih melahirkan ketekunan.
Matius 15:26 Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Wanita tersebut mendapatkan jawaban yang lebih keras dari jawaban Yesus yang pertama. Namun apakah respons ibu tersebut? Matius 15:27 (TB) Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” DIA bertekun dalam Imannya kepada Tuhan dan kesanggupan-NYA untuk menjawab doa dan pergumulannya.
4. Kasih melahirkan mujizat.
Matius 15:28 (TB) Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
Ada pujian [hai ibu, besar imanmu] dan jawaban lebih dari apa yang di doakan oleh ibu tersebut. Anaknya wanita disembuhkan dan dilepaskan dari ikatan setan.
Kasih yang sejati selalu melahirkan pengharapan, iman, ketekunan, bahkan mujizat. Dari kisah seorang ibu Kanaan dalam Matius 15:21-28, kita belajar bahwa kasih yang murni tidak mudah menyerah, sekalipun menghadapi penolakan dan kesulitan. Kasih mendorongnya untuk tetap berharap, percaya, dan bertekun sampai akhirnya Tuhan Yesus menjawab doanya dan menyembuhkan anaknya. Demikian juga dengan kita, kasih kepada Tuhan dan sesama akan menuntun kita pada iman yang teguh, ketekunan yang tidak goyah, dan pengalaman akan kuasa Tuhan yang nyata. Biarlah setiap kita hidup dalam kasih yang membangkitkan, agar melalui iman yang terus bertumbuh, kita boleh melihat tangan Tuhan bekerja dan nama-Nya dimuliakan dalam hidup kita.
Bapak, ibu dan saudara terkasih. Kisah wanita Kanaan ini memberikan teladan bagi kita betapa luar biasanya kasih itu. Kasih yang mendorong seseorang untuk berkorban, kasih yang melahirkan kerendahan hati dan keyakinan atau iman yang sungguh kepada Yesus dan kesanggupan-NYA untuk menolong. Amin.
Tuhan memberkati.
DS
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan