Elohim Ministry umum “Penguatan Teologi Tritunggal Anak Sekolah Minggu GPdI Trinil dalam Menghadapi Stigma Agama di sekolah”

“Penguatan Teologi Tritunggal Anak Sekolah Minggu GPdI Trinil dalam Menghadapi Stigma Agama di sekolah”

Ester Wijayanti

esterwijayanti2402@gmail.com

SEKOLAH TINGGI ANUGRAH INDONESIA

Tantangan iman Kristen di era modern tidak hanya dihadapi oleh orang dewasa, melainkan sudah merambah ke dunia anak-anak di lingkungan sekolah umum. Di GPdI Trinil, terdapat sebuah realitas pelayanan yang unik sekaligus menantang, di mana Sekolah Minggu memiliki empat orang anak didik dengan satu orang guru sekolah Minggu. Di tengah keterbatasan kuantitas ini, tiga diantara keempat anak tersebut harus menghadapi tekanan mental dan spiritual yang cukup berat di sekolah mereka, yaitu berupa ejekan dan stigma dari teman-teman sebaya yang mengatakan bahwa orang Kristen menyembah tiga Tuhan. Stigma “Tuhan ada tiga” ini jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat mengguncang keyakinan iman anak, membuat mereka merasa rendah diri, bingung, atau bahkan menarik diri dari pergaulan karena merasa keyakinannya dianggap aneh oleh lingkungan mayoritas.

Sebagai seorang guru Sekolah Minggu tunggal yang sekaligus merupakan mahasiswa semester 6, melihat kondisi ini bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai sebuah panggilan teologis yang mendesak. Pembekalan yang diterima penulis melalui mata kuliah “Karakter Kristus” yang diampu oleh Bapak Dosen Dr. Yeffri Hendra Lesmana, M.Th.,M.Pd., menjadi kompas dan fondasi utama dalam merancang strategi pengajaran ini.

Gambar 1. perkuliahan pada Mata Kuliah ” Karakter Kristus

Ilmu yang didapat di bangku perkuliahan tidak boleh berhenti menjadi teori akademis belaka, melainkan harus dimanifestasikan ke dalam tindakan nyata untuk menolong keempat anak Sekolah Minggu GPdI Trinil ini. Dengan memadukan pemahaman doktrin yang kokoh dan pembentukan karakter yang menyerupai Yesus, tantangan di sekolah ini dapat diubah menjadi peluang bagi anak-anak untuk bersaksi melalui kehidupan mereka. Doktrin Allah Tritunggal adalah pengajaran penting dan sentral dalam iman Kristen yang berhubungan dengan  pengakuan  akan  Tuhan (Suryaningsih,2019).  

Langkah awal yang sangat krusial adalah memperkuat fondasi teologis anak-anak mengenai doktrin Tritunggal. Mengajarkan konsep Satu Allah dengan Tiga Pribadi (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) kepada anak-anak membutuhkan kreativitas tingkat tinggi karena rasionya yang abstrak. Oleh karena itu, peneliti menggunakan metode pendekatan analogi konkret yang ada di sekitar kehidupan mereka sehari-hari.

Gambar 2. aktivitas pada ibadah sekolah Minggu,

(Guru menjelaskan  Tritunggal menggunakan alat peraga)

Pertama, guru membacakan ayat Firman Tuhan dalam Yoh 1:1,14, 10:30, Mat 3:16-17, 2 Kor 13:13, bahkan menerangkan Tritunggal memakai alat peraga (gambar), kemudian guru membawa air dalam tiga wujud ke dalam kelas: es batu (padat), air minum di dalam botol (cair), dan uap yang keluar dari termos (gas). Kepada keempat anak ini, guru menjelaskan bahwa meskipun wujudnya berbeda dan memiliki fungsi yang berbeda, es, air, dan uap tersebut pada hakikatnya adalah satu zat yang sama, yaitu air. Kedua, peneliti menggunakan analogi matahari, di mana matahari itu sendiri melambangkan Allah Bapa sebagai sumber utama, cahaya terang yang memancar ke bumi melambangkan Tuhan Yesus sebagai Terang Dunia, dan kehangatan atau panas yang dirasakan oleh kulit melambangkan Roh Kudus yang bekerja menghibur dan menguatkan hati manusia. Melalui visualisasi sederhana ini, pikiran anak-anak dibersihkan dari kebingungan sehingga mereka memiliki keyakinan batin yang teguh bahwa Allah orang Kristen adalah Allah yang Esa (Satu).

Setelah pemahaman teologis mereka dirasa cukup kuat, strategi berikutnya adalah memperlengkapi anak-anak dengan keterampilan praktis untuk merespons ejekan di sekolah. Melalui inspirasi dari mata kuliah Karakter Kristus asuhan Bapak Yeffri, penulis yang sekaligus guru Sekolah Minggu GpdI Trinil mengajarkan bahwa respons terbaik terhadap sebuah stigma bukanlah perdebatan teologis yang sengit atau sikap defensif yang penuh amarah. Sifat Kristus yang lemah lembut, penuh kasih, namun tegas dalam kebenaran harus menjadi identitas mereka. Guru melatih keempat anak ini melalui metode role-play atau simulasi drama kecil di kelas. Dimana berpura-pura menjadi teman sekolah yang mengejek mereka, lalu mengajarkan mereka untuk merespons dengan senyuman yang tenang sembari mengucapkan kalimat kesaksian yang singkat dan mudah diingat: “Tuhanku tetap satu, tapi Dia sangat luar biasa karena Dia adalah Bapa yang menciptakanku, Yesus yang menyelamatkanku, dan Roh Kudus yang selalu menjagaku di sekolah.” Jawaban yang tenang dan tidak emosional ini dirancang untuk mematahkan intimidasi verbal dari teman-teman mereka secara elegan.

Gambar 3. anak-anak mendoakan teman-teman yang pernah menyakiti hati mereka

Lebih jauh lagi, penguatan yang sesungguhnya terletak pada pembuktian karakter sehari-hari di sekolah. Anak-anak diajarkan bahwa cara paling ampuh untuk meruntuhkan stigma negatif tentang iman Kristen adalah dengan menunjukkan kualitas hidup yang di atas rata-rata. Merujuk pada keteladanan Kristus, guru menanamkan nilai-nilai kebaikan praktis kepada mereka: bagaimana menjadi murid yang paling jujur saat ujian, bersedia meminjamkan alat tulis kepada teman yang membutuhkan, sabar, mendoakan teman yang pernah menyakiti hati kalian, dan selalu menghormati guru. Ketika teman-teman yang mengejek melihat bahwa anak-anak Sekolah Minggu GPdI Trinil ini memiliki karakter yang begitu baik, suka menolong, dan tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, maka ejekan tersebut lama-kelamaan akan berubah menjadi rasa hormat. Karakter Kristus yang terpancar dari hidup mereka akan menjadi jawaban paling kuat yang membungkam segala stigma.

Kondisi pelayanan dengan rasio satu guru dan empat anak ini pada akhirnya menjadi sebuah keuntungan besar yang patut disyukuri. Karena walaupun jumlah murid masih terbatas, namun guru memiliki kesempatan untuk memberikan bimbingan pastoral yang sangat personal dan mendalam bagi setiap anak, sesuatu yang sulit dilakukan di kelas besar yang beranggota puluhan anak. Setiap memulai ibadah Sekolah Minggu, guru selalu menyediakan sesi khusus selama 10 hingga 15 menit sebagai ruang aman bagi mereka untuk mencurahkan isi hati (sharing session) mengenai apa saja yang mereka alami di sekolah selama seminggu terakhir. Pendekatan yang intim ini membuat anak-anak merasa didengar, divalidasi perasaannya, dan didukung sepenuhnya secara emosional serta rohani. Melalui sinergi antara doktrin Tritunggal yang disederhanakan, penerapan Karakter Kristus dari perkuliahan Bapak Yeffri Hendra Lesmana, serta kedekatan relasi dalam kelas kecil, empat anak Sekolah Minggu GPdI Trinil ini tidak lagi menjadi korban dari stigma agama, melainkan bertumbuh menjadi pahlawan-pahlawan iman yang tangguh di lingkungan sekolah mereka.

Sumber:

Suryaningsih, E. W. (2019). Doktrin tritunggal kebenaran alkitabiah. PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen15(1), 16-22.

Lesmana, Y.H. (2026) ”Modul ajar Karakteristik Kristus. (Modul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *