Elohim Ministry umum Rethinking The Will of God

Rethinking The Will of God



Renungan Harian Senin, 13 Juli 2026

Bacaan Firman: 1 Tesalonika 4:1–8

Shalom. Puji Tuhan! Saya percaya kita semua ada dalam pemeliharaan Tuhan. Sering kali kita merasa sudah memahami apa itu kehendak Allah. Namun, kenyataannya, pemahaman kita tidak selalu utuh. Ada kalanya kurang tepat, bahkan keliru. Karena itulah kita perlu terus memperbarui cara berpikir kita berdasarkan Firman Tuhan. Salah satu pergumulan yang hampir tidak pernah selesai dalam hidup orang percaya adalah mencari dan memahami kehendak Allah. Apakah kehendak-Nya tentang pekerjaan? Tentang pasangan hidup? Tentang masa depan? Ataukah sebenarnya ada sesuatu yang lebih mendasar daripada semua itu? Melalui 1 Tesalonika 4:1–8, Rasul Paulus mengajak kita memikirkan kembali apa yang dimaksud dengan kehendak Allah.

Hidup yang Berkenan kepada Allah

Pada awal pasal ini, Paulus menasihati jemaat Tesalonika seperti seorang ayah yang penuh kasih kepada anak-anaknya. Ia “meminta dan menasihati” mereka supaya tetap hidup berkenan kepada Allah. enariknya, jemaat sebenarnya sudah melakukannya. Namun Paulus tetap mendorong mereka agar melakukannya dengan lebih sungguh-sungguh. Ini mengajarkan bahwa kehidupan yang berkenan kepada Allah bukanlah tujuan yang sekali tercapai lalu selesai. Setiap hari kita dipanggil untuk terus bertumbuh dalam ketaatan.

Lalu seperti apakah hidup yang berkenan kepada Allah? Paulus memberikan jawaban yang sangat jelas: “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu…” (1 Tesalonika 4:3) Dengan kata lain, kehendak Allah yang paling jelas dinyatakan dalam Alkitab adalah agar hidup kita semakin kudus. Sering kali kita mengira keselamatan hanya berarti dilepaskan dari hukuman dosa. Namun Allah tidak berhenti di sana. Ia juga memanggil kita untuk hidup kudus. Pengudusan berarti dipisahkan dari dosa dan semakin serupa dengan Kristus.

Paulus memberikan contoh-contoh yang sangat praktis, seperti menjauhi percabulan, pengendalikan hawa nafsu, menjaga kekudusan dalam relasi, serta memperlakukan sesama dengan jujur dan penuh hormat. Kekudusan ternyata bukan hanya berbicara tentang hubungan kita dengan Allah, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kabar baiknya, Allah tidak membiarkan kita berjuang sendirian. Roh Kudus telah dikaruniakan kepada setiap orang percaya untuk menolong, menguatkan, dan memampukan kita hidup sesuai dengan panggilan-Nya.

Refleksi 1: WHO or DO?

Kehendak Allah Tentang “Siapa Kita” atau “Apa yang Kita Lakukan”?

Banyak orang ketika berbicara tentang kehendak Allah langsung memikirkan keputusan-keputusan besar dalam hidup: Di mana saya harus kuliah? Pekerjaan apa yang harus saya pilih? Dengan siapa saya akan menikah? Haruskah saya pindah kota?

Semua pertanyaan itu baik. Namun menariknya, Alkitab hampir tidak pernah memberikan jawaban spesifik mengenai hal-hal tersebut. Sebaliknya, Firman Tuhan berulang kali menegaskan bahwa kehendak Allah pertama-tama berbicara tentang siapa diri kita. Allah lebih dahulu membentuk hati sebelum mengarahkan langkah. Itulah sebabnya Alkitab berkata bahwa Tuhan melihat hati, bukan sekadar penampilan.

Yesus sendiri menegaskan prinsip ini dalam Khotbah di Bukit. Membunuh berawal dari kebencian di hati. Perzinahan berawal dari keinginan di hati. Dengan demikian, kekudusan selalu dimulai dari dalam. Namun apakah berarti Allah tidak peduli terhadap perbuatan kita? Tentu tidak.Yesus berkata bahwa pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Karakter yang diubahkan akan menghasilkan tindakan yang benar.

Urutannya selalu demikian: Hati yang diubahkan → Karakter yang dibentuk → Perbuatan yang benar.Sebaliknya, tindakan yang dilakukan terus-menerus juga akan membentuk kebiasaan, dan kebiasaan membentuk karakter. Karena itu, pertumbuhan rohani selalu melibatkan perubahan hati yang kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi 2:  FUTURE or NOW?

Kehendak Allah: Tentang Masa Depan atau Hari Ini?

Banyak orang membayangkan kehendak Allah seperti sebuah peta rahasia yang harus ditemukan agar hidup tidak salah arah. Karena itu mereka terus mencari petunjuk mengenai masa depan. Namun Yesus justru berkata: “Janganlah kamu khawatir akan hari besok…” (Matius 6:34)

Hari esok berada di dalam tangan Allah. Tanggung jawab kita adalah hidup taat pada hari ini. Yakobus juga mengingatkan bahwa orang yang mengetahui apa yang baik untuk dilakukan tetapi tidak melakukannya, ia berdosa. Dengan kata lain, Allah tidak meminta kita mengetahui seluruh rencana masa depan-Nya. Ia meminta kita setia melakukan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan sekarang. Firman Tuhan sudah sangat jelas mengajarkan bagaimana kita harus hidup: menjauhi dosa, hidup kudus, mengendalikan hawa nafsu, mengasihi sesama, berlaku jujur, dan menghormati orang lain. Semua itu bukan tugas untuk esok hari, tetapi panggilan untuk hari ini.

Sering kali kita lebih tertarik pada prediksi masa depan daripada pada ketaatan yang sederhana setiap hari. Padahal ketika kita setia menjalankan bagian kita, Allah sendiri yang akan menuntun dan mengatur masa depan sesuai kehendak-Nya yang sempurna.

Kesimpulan

Memikirkan kembali kehendak Allah akan mengubah cara kita menjalani kehidupan. Kehendak Allah bukan terutama tentang mengetahui setiap detail masa depan, melainkan tentang mengalami pembaruan hati yang menghasilkan kehidupan yang kudus. Ketika Roh Kudus mengubah hati kita, karakter kita akan dibentuk dan tindakan kita akan semakin mencerminkan Kristus. Karena itu, marilah kita berhenti terobsesi pada apa yang belum Tuhan nyatakan dan mulai setia melakukan apa yang sudah Tuhan perintahkan. Saat kita taat hari ini, kita dapat mempercayakan seluruh masa depan kita ke dalam tangan-Nya yang sempurna.

Refleksi

Sering kali kita lebih sibuk mencari jawaban Tuhan mengenai masa depan daripada memeriksa apakah hidup kita hari ini sudah sesuai dengan Firman-Nya. Melalui renungan ini, Tuhan mengingatkan bahwa kehendak-Nya yang terutama adalah agar kita hidup dalam pengudusan. Karena itu, marilah kita membuka hati bagi pekerjaan Roh Kudus, membiarkan Dia mengubah karakter kita dari dalam, lalu mewujudkan perubahan itu melalui ketaatan, kasih, kejujuran, dan kekudusan dalam setiap aspek kehidupan. Ketika kita setia menjalani kehendak Allah hari ini, kita dapat menyerahkan hari esok sepenuhnya kepada pemeliharaan-Nya.

Hikmat Hari Ini

Kehendak Allah yang paling penting bukanlah mengetahui apa yang akan terjadi besok, melainkan menjadi pribadi yang semakin kudus dan taat kepada-Nya hari ini.

Doa Merespons Firman Tuhan Hari Ini

Bapa di surga, terima kasih karena melalui Firman-Mu Engkau mengingatkan kami bahwa kehendak-Mu yang terutama adalah pengudusan hidup kami. Ampunilah kami jika selama ini kami lebih sibuk mencari jawaban tentang masa depan daripada membangun kehidupan yang berkenan kepada-Mu hari ini. Roh Kudus, ubahkan hati kami, bentuk karakter kami, dan mampukan kami hidup dalam kekudusan, kejujuran, kasih, serta ketaatan kepada Firman-Mu. Ajarlah kami mempercayakan masa depan sepenuhnya ke dalam tangan-Mu sambil setia melakukan kehendak-Mu setiap hari. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Rangkuman Khotbah
Pdt. Soerono Tan

1 thought on “Rethinking The Will of God”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *