Elohim Ministry umum Allah terlalu baik untuk Tidak Adil

Allah terlalu baik untuk Tidak Adil



Renungan Harian, Selasa 24 Februari 2026

Bacaan : Roma 12:14-21

Nats : Roma 12:21, Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Syalom bapak ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus . . . .

Beberapa hari setelah tiba di kampus Texas A&M University pada tahun 1984, Bruce Goodrich dibangunkan pada pukul dua dini hari. Kakak- kakak kelas membangunkannya dari tempat tidur untuk memelonconya melalui program Barisan Kadet, sebuah program orientasi bergaya militer. Bruce dipaksa untuk berolah raga dan berlari beberapa kilometer dalam cuaca yang panas dan lembab. Ketika akhirnya ia tidak kuat lagi dan terjatuh, ia dipaksa bangkit untuk meneruskan larinya. Namun ia terjatuh lagi, mengalami koma, dan meninggal pada hari itu juga. Para siswa yang memaksa Bruce melakukan latihan itu telah diajukan ke pengadilan karena dituduh mengakibatkan kematiannya.

Ayah Bruce mengirimkan sepucuk surat kepada tata usaha universitas, staf pengajar, dan badan mahasiswa. Sekalipun menyesali apa yang terjadi pada Bruce, sang ayah menulis, “Saya hendak menggunakan kesempatan ini untuk menyatakan rasa terima kasih dari keluarga saya atas perhatian dan simpati amat besar yang telah diberikan oleh Texas A&M University dan segenap sivitas akademika atas meninggalnya anak kami Bruce.

Kami tidak menyimpan perasaan sakit hati … Kami tahu, Allah tak pernah salah. Kini Bruce telah selamat sampai di rumah abadinya. Ketika muncul pertanyaan, ‘Mengapa ini terjadi?’ mungkin jawabannya adalah, ‘Supaya banyak orang akan mempertimbangkan ke mana mereka akan menghabiskan waktu dalam kekekalan.’

Keyakinannya akan kedaulatan Allah dapat mengubah kebencian menjadi belas kasihan, dan kebencian menjadi perhatian.

Berbicara tentang kedaulatan Allah itu seperti menatap samudra; sangat luas, dalam, dan terkadang membuat kita merasa kecil. Namun, justru di dalam “kecilnya” kita, kita menemukan keamanan yang luar biasa.

1.Kedaulatan Allah: Dia Adalah Penulis, Bukan Penonton

Banyak orang berpikir Allah hanya menonton dunia dari jauh seperti penonton bioskop. Tapi kedaulatan berarti Allah adalah Penulis skenario sekaligus Sutradara agung.

Tidak ada kebetulan: Dalam kamus Tuhan, kata “kebetulan” itu tidak ada. Segala sesuatu—mulai dari lintasan planet hingga helai rambut yang jatuh—berada dalam kendali-Nya.

Kuasa tanpa batas: Kedaulatan Allah berarti tidak ada rencana-Nya yang gagal karena intervensi manusia atau iblis (Ayub 42:2).

2. Dilema Kedaulatan: Mengapa Ada Penderitaan?

Ini adalah bagian yang sering membuat kita bertanya-tanya. Jika Allah berdaulat, mengapa Dia membiarkan hal buruk terjadi? Perspektif Yusuf (Kejadian 50:20): Yusuf tidak berkata bahwa saudara-saudaranya “tidak berniat jahat”. Dia mengakui kejahatan itu ada, tetapi dia menegaskan bahwa Allah menenun kejahatan tersebut menjadi kebaikan.

Kedaulatan ≠ Ketiadaan Masalah:
Allah tidak menjanjikan hidup tanpa badai, tetapi Dia menjanjikan bahwa tidak ada badai yang bergerak tanpa izin-Nya. Dia memegang kendali bahkan saat keadaan terasa kacau.

3. Respons Kita: Istirahat dalam Kepercayaan

Apa gunanya mengetahui Allah itu berdaulat jika kita tetap kuatir setiap hari? Mengetahui Allah berdaulat seharusnya mengubah cara kita hidup: Melepaskan Kendali: Kita sering stres karena mencoba menjadi “CEO semesta”. Sadarilah bahwa posisi itu sudah terisi, dan bukan oleh kita.

Ketaatan yang Berani: Kita bisa melangkah maju meskipun masa depan gelap, karena kita tahu Siapa yang memegang masa depan. Syukur dalam Segala Hal: Kita bisa bersyukur bukan karena situasinya baik, tapi karena Allah kita baik dan Dia sedang bekerja di balik layar.

Kesimpulan

Kedaulatan Allah bukan sekadar doktrin teologi yang berat untuk diperdebatkan, melainkan bantal yang empuk untuk merebahkan kepala kita yang lelah. Saat kita tidak bisa melihat tangan Tuhan, percayalah pada hati-Nya yang berdaulat.

Hikmat Hari ini:

“Allah terlalu baik untuk tidak adil, dan Ia terlalu bijaksana untuk melakukan kesalahan. Saat kita tidak bisa merunut jalan-Nya, kita harus tetap mempercayai hati-Nya.” — Charles Spurgeon

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800

Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

1 thought on “Allah terlalu baik untuk Tidak Adil”

  1. Amin, luar biasa. Bersyukur dalam Segala Hal: Kita bisa bersyukur bukan karena situasinya baik, tetapi karena Allah kita baik dan Dia sedang bekerja di balik layar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *