Renungan Harian Rabu, 21 Mei 2025
Bacaan: Matius 27:15–26
Shalom, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan!
Hari ini kita akan merenungkan satu tokoh yang sering hanya disebut sekilas dalam kisah penyaliban Yesus, yaitu Barabas. Ia bukan murid Yesus. Ia bukan orang yang hidup dalam kebenaran. Justru sebaliknya—Barabas adalah seorang kriminal kelas berat, pemberontak, dan pembunuh. Namun justru dari dirinya kita bisa melihat betapa dalam dan luasnya kasih karunia Allah. Melalui Barabas, kita belajar bahwa kasih Allah sanggup menjangkau orang yang paling tidak layak sekalipun.
1. Barabas: Si Pendosa yang Layak Dihukum
Matius 27:16 menyebut Barabas sebagai “orang yang terkenal kejahatannya.”
Injil Markus dan Lukas memperjelas bahwa Barabas adalah pemberontak dan pembunuh. Secara moral dan hukum, ia pantas dihukum mati. Namun dalam drama tragis yang kita baca, ia justru yang dibebaskan—bukan karena pertobatannya, tapi karena kerumunan memilih membebaskannya daripada Yesus yang tidak bersalah.
Ada dua pilihan yang diberikan oleh Pilatus kepada orang banyak:
- Yesus, Anak Allah, yang tidak bersalah.
- Barabas, penjahat besar.
Dan mereka memilih siapa? Barabas.
Barabas adalah gambaran kita semua.
👉 Roma 3:23: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”
Kita mungkin tidak membunuh, tetapi kita semua telah memberontak terhadap Allah dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Kita layak dihukum, namun Tuhan memilih untuk menggantikan tempat kita—sama seperti Yesus menggantikan Barabas.
2. Yesus Menggantikan Tempat Barabas
Dalam arti yang sangat harfiah, Yesus mati di tempat Barabas. Yesus secara literal menggantikan tempat Barabas. Barabas dibebaskan. Yesus disalibkan. Ini bukan kebetulan atau sekadar kekeliruan sejarah—ini adalah bagian dari rencana keselamatan Allah.
📖 Yesaya 53:5: “Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita…”
Yesus tidak mati untuk orang-orang yang layak—karena tak ada seorang pun yang layak. Ia mati bagi orang-orang berdosa, bagi yang jahat, bagi yang seharusnya binasa. Inilah Injil. Inilah anugerah.
3. Apa Respons Barabas? Dan Apa Respons Kita?
Menariknya, Alkitab tidak mencatat apa-apa tentang Barabas setelah ia dibebaskan. Kita tidak tahu apakah ia bertobat atau kembali ke kehidupan lamanya. Tetapi satu hal yang pasti: ia telah mengalami kasih karunia Allah secara nyata.
Sekarang pertanyaannya bukan lagi tentang Barabas, tapi tentang kita:
Apa yang kita lakukan setelah ditebus oleh darah Kristus?
Sudahkah hidup kita mencerminkan syukur dan pertobatan sejati?
Ataukah kita menyia-nyiakan kebebasan yang mahal harganya itu dan kembali ke dosa?
Kita telah dibebaskan dari hukuman kekal. Apakah kita hidup untuk Dia? Atau kita menyia-nyiakan kebebasan yang telah dibayar dengan darah? Barabas adalah gambaran kita semua. Kita bersalah. Kita layak dihukum. Tapi Yesus datang, dan Dia berkata, “Aku akan mengambil tempatmu. Aku akan mati agar kamu bisa hidup.” Jangan sia-siakan kasih karunia ini. Mari kita hidup bukan lagi dalam dosa, tetapi dalam syukur dan ketaatan. Karena Dia telah menggantikan tempat kita mari kita gunakan hidup ini untuk memuliakan-Nya.
Yesus menggantikan Barabas. Yesus menggantikan saya. Yesus menggantikan kamu.
Jangan sia-siakan kasih karunia itu. Hidupilah penebusan itu.
🙏 Tuhan Yesus memberkati.
CM
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan
Trimakasih Yesus buat penebusan mu
Aku berjanji setia mengikut engkau Amin