Renungan Harian Jumat, 17 November 2023
Kata IBADAH, dalam bahasa Inggris “ whorship “, yang artinya menyatakan layak atau penghargaan pada seseorang yang dinilai layak untuk diberi penghormatan.
Oleh karena itu, di dalam ibadah yang menjadi HAL UTAMA adalah Pribadi Yesus, yaitu pribadi yang layak kita beri Penghormatan dan Pengagungan
Ibadah merupakan suatu wujud ketaatan orang percaya kepada Allah dan Ucapan syukur orang percaya atas apa yang ditetapkan sebagai suatu keharusan untuk pertumbuhan rohani dan untuk berbakti kepada Allah, sebagai umat kepunyaanNya
Salah satu faktor penting bagi pertumbuhan rohani adalah mengenal hakikat ibadah yang benar.
Tuhan Yesus mengatakan, “Allah itu Roh dan barangsiapa yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” Yohanes 4:24
Lebih lanjut dikatakan bahwa ibadah bukan saja menggunakan roh, tetapi juga kebenaran. Dalam bahasa aslinya, “kebenaran” yang mempunyai arti dari segi negatifnya adalah “tidak munafik dan tidak jelek,” dari segi positifnya adalah “tulus, jujur, dan penuh kesungguhan”. Dengan kata ini, Tuhan Yesus mau memberitahukan bahwa ibadah yang benar adalah ibadah yang disertai ketulusan, kejujuran, dan kesungguhan hati.
Penulis surat Ibrani menegaskan bahwa, persekutuan dengan Kristus adalah dasar dari ibadah orang percaya. Penulis surat Ibrani menjelaskan dasar ibadah yang sesungguhnya bagi orang percaya yaitu DARAH YESUS
Dalam Ibrani 10:19 dikatakan, “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.” Di sini penulis surat Ibrani memberikan suatu penekanan penting bahwa oleh darah Yesus, orang percaya dengan penuh keberanian dapat masuk ke tempat kudus.
Penulis surat Ibrani manyatakan bahwa darah Yesus telah membuka jalan menuju ke tempat kudus. Oleh karena kematian Yesus Kristus, orang percaya dapat masuk dan berdiam di dalam tempat yang kudus. J. Wesley Brill mengatakan, Faedah darah Perjanjian Lama (aturan korban simbol) dengan faedah darah Perjanjian Baru, menyatakan bahwa darah Yesus menyucikan orang yang percaya dari dosa dan menyucikan hati nurani, dan ini tidak dapat dilakukan oleh darah Perjanjian Lama.
Kristus menjadi pengantara antara Allah yang Mahasuci dengan orang berdosa. Kematian Kristus di atas kayu salib menghilangkan rintangan yang ada antara Allah dan orang berdosa, yakni rintangan dosa. Kematian Kristus berkuasa untuk menghapus dosa yang dilakukan manusia sebelum dan sesudah kematianNya. Dia telah mati untuk orang-orang dalam Perjanjian Lama dan orang orang dalam Perjanjian Baru.
YESUS Sebagai IMAM BESAR
Kata Imam Besar yang diberikan kepada Yesus melebihi imam-imam pada saat itu yang memberi korban persembahan kepada Allah. Hal ini terbukti karena Yesus memberi nyawaNya sebagai korban penghapus dosa umat kepunyaan Allah.
Yesus telah diperkenalkan sebagai Imam Besar untuk pertama kalinya dalam Ibrani 2:17, Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. di situ Ia disebut “yang menaruh belas kasihan dan yang setia”.
Kutipan di atas membuktikan bahwa Yesus sanggup melakukan tugasNya sebagai Imam Besar yang diberikan Allah dan tidak seorang pun imam yang sanggup melakukan tugas seperti yang pernah Yesus lakukan. Jabatan imam diadakan demi melayani persembahan korban, sebagai pengantara yang mewakili manusia datang ke hadapan Allah untuk memohon pengampunanNya dan juga membawa berkat Allah kepada manusia.
Dalam surat Ibrani, Yesus disebut sebagai Imam Besar karena Ia menjadi pengantara yang menghubungkan antara manusia dengan Allah, melalui pengorabananNya di kayu salib sebagai korban persembahan kepada Allah mewakili umatNya.
SIKAP yang DIBANGUN Dalam IBADAH
Dalam ayat 22, ada beberapa sikap yang diungkapkan penulis surat Ibrani dalam pertemuan ibadah orang percaya, yaitu menghadap Allah dengan hati yang tulus ilkhlas, dengan keyakinan iman yang teguh, dengan tubuh yang sudah dibasuh dan berpegang pada pengakuan.
- Dengan hati yang TULUS
Penulis surat Ibrani menekankan bahwa setiap umat(Nya harus datang menghampiri Dia dengan mempersiapkan diri secara rohani dan dengan kepastian tanpa ragu(ragu atau dengan hati yang utuh agar dapat bersekutu dengan Allah. J. Wesley Brill mengatakan bahwa hati yang tulus adalah kebalikan dari kemunafikan dan kepalsuan. Tuhan melihat ke dalam hati dan Dia melihat segala sesuatu yang pura(pura. Hati yang tulus adalah hati yang sungguh-sungguh menginginkan kesucian.
- Dengan IMAN yang TEGUH
Dari beberapa terjemahan dapat disimpulkan bahwa penulis surat Ibrani menekankan orang Kristen datang dengan iman yang didasari kepercayaan kepada Kristus sebagai Juruselamat, tanpa keragu raguan untuk datang menghampiri Allah.
- Dengan Tubuh Yang Sudah DIBASUH
Setelah membahas tentang keyakinan iman yang teguh dalam menghadap Allah, penulis surat Ibrani menekankan lagi tentang “hati yang bersih.” Penulis surat Ibrani menjelaskan dalam menghadap Allah, sikap yang tepat adalah menghadap Dia dengan hati yang telah disucikan oleh darah Yesus dari hati nurani yang jahat.
- BERPEGANG Kepada PENGAKUAN
Selanjutnya ketika mengerti akan sikap hati yang bersih, penulis surat Ibrani menjelaskan sikap dalam menghadap Allah dengan “berpegang pada pengakuan”. Pengakuan tentang pengharapan berarti berharap dan beriman kepada Yesus Kristus. Iman kepada Kristus memberikan pengharapan yang tidak menaruh kebimbangan, tidak bimbang mengenai Kristus, mengenai apakah akan tetap mengikuti Dia ataukah mundur dari Dia
J.A. C. Rullmann mengatakan, “Pengakuan ini disebut pengakuan pengharapan orang percaya. Jadi, bukan kepercayaan, akan tetapi pengharapanlah yang disebut di sini.
Karena seluruh isi pengharapan itu terletak dalam Perjanjian Tuhan. Itulah yang diharapkan, karena orang percaya mempunyai keyakinan yang tetap, bahwa segala sesuatu yang telah dijanjikan oleh Tuhan, tentu akan terlaksana, karena yang berjanji itu SETIA.”
Pdt Budi Wahono