Renungan Harian Youth, Selasa 22 Oktober 2024
Matius 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Setiap hari, beberapa kali sehari, alarm kecil bersuara di dalam otak kita? Alarm ini seperti membuat perut kita keroncongan, mulut kita berliur, atau pikiran kita terpaku pada apa yang kita dambakan. Jika mungkin alarm itu dalam bentuk perut keroncongan, hal ini pastinya adalah rasa lapar untuk tubuh jasmani kita. Orang yang lapar dan haus akan terus mencari apapun yang bisa memuaskan rasa lapar dan hausnya. Jika ia berada di tempat yang tandus yang tidak ada air maka ia akan berusaha mencari air agar ia bisa hidup sebab tanpa air ia akan mati.
Dalam ucapan bahagia yang keempat, yang merupakan serangkaian janji Yesus tentang Kerajaan Allah, Yesus mengatakan ini: “Betapa bahagianya orang yang berhasrat untuk melakukan keadilan, karena Allah akan memuaskan mereka.” (Matius 5:6 PBTB2)
Betapa pentingnya kita mengerti apa yg dimaksud dengan “kebenaran” di ayat ini. Ada yang mengatakan kebenaran di sini adalah Firman Tuhan karena Firman Tuhan digambarkan seperti roti (Matius 4:4). Hal ini tidak salah karena nabi Amos juga mengatakan Amos 8:11 (TB) “Sesungguhnya, waktu akan datang,” demikianlah firman Tuhan ALLAH, “Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman TUHAN.
Tetapi seringkali rasa lapar dan haus akan kebenaran ini dilenyapkan oleh kekuatiran duniawi, tipu daya kekayaan (Matius 13:22), keinginan akan berbagai hal (Markus 4:19), dan juga kenikmatan hidup (Lukas 8:14). Hal-hal inilah yang terkadang membuat orang percaya tidak lagi mengalami rasa lapar dan haus akan kebenaran. Oleh karena itu sangatlah penting bahwa orang percaya untuk peka terhadap pekerjaan Roh Kudus yang akan menginsyafkan kita akan hal-hal yang salah dalam diri kita (Yohanes 16:8-13, Roma 8:5-16). Sehingga dengan demikian rasa lapar dan haus akan kebenaran itu dapat terus terpelihara dalam hidup kita.
Sebenarnya ketika rasa lapar dan haus akan kebenaran sudah tidak ada lagi dalam diri orang percaya, maka kita sedang mengalami kematian rohani.
Untuk memahami Matius 5:6 secara akurat kita harus tahu apa Itu kebenaran. Kata “kebenaran” di sini dari kata Yunani: dari kata dasar dikaiosuné yang artinya: justice (keadilan), righteousness (kebenaran) practically a divine righteousness (secara praktis artinya sebuah kebenaran ilahi). Selain Itu kata dikaiosuné juga berarti: the condition acceptable to God (kondisi yg berkenan kepada Allah), integrity (Integritas), purity of life (memurnikan hidup), correctness of thinking feeling, and acting (kebenaran di pikiran, perasaan dan tindakan).
Rekan-rekan youth, Tuhan memberi kita kebutuhan jasmani yang juga mencerminkan kebutuhan rohani kita. Kebutuhan yang harus dipenuhi untuk tetap sehat dan hidup. Kebutuhan yang harus dipenuhi berulang kali. Bahkan, makanan sering digunakan dalam Alkitab sebagai metafora untuk kebutuhan rohani kita (yang disebut “makanan kami” dalam Matius dan “susu murni” Firman dalam 1 Petrus, sebagai contohnya.)
Yesus mengatakan bahwa kebenaran itu sama pentingnya bagi kehidupan rohani seperti makanan dan minuman bagi kehidupan jasmani
Dari sini kita mengerti bahwa yang dimaksud dengan lapar dan haus akan kebenaran bukan hanya keinginan yang kuat mendengar atau belajar Firman Tuhan tapi juga punya komitmen untuk melakukannya dalam kehidupan sehingga memiliki keberadaan atau kondisi yang membuat dirinya berkenan kepada Allah Bapa di Sorga. Kondisi dan keberadaan orang yang berkenan kepada Allah adalah orang yang melakukan kehendak Bapa di Sorga, maka ada terjemahan mengatakan:
Matius 5:6 (BIMK) Berbahagialah orang yang rindu melakukan kehendak Allah; Allah akan memuaskan mereka!
Tuhan Yesus adalah model manusia yang seantero hidup hanya melakukan kehendak Bapa-Nya yang di Sorga.
Rasa lapar dan haus akan Allah harus terus dijaga, karena saat kita kehilangan rasa lapar dan haus itu, pada saat itu sebetulnya kita sedang berhenti bertumbuh dalam roh. Sadar atau tidak, roh kita sedang menjadi “sakit”. Oleh karena itu agar tidak semakin lemah dan mati kerohanian kita, kita harus kembali menjalin hubungan yang intim setiap hari dengan Tuhan. Doa dan segala aktifitas rohani yang kita lakukan pun tidak akan menjadi sebuah rutinitas agamawi ketika kita bersekutu intim dengan Tuhan.
Yesus Kristus tidak hanya memegang kunci untuk “air hidup”, tetapi Dia adalah “Roti Hidup”. Jadi, ketika Anda merasakan Dia mendorong hati Anda—untuk memperjuangkan keadilan, untuk mengasihi yang tidak dikasihi, untuk membela apa yang benar (bahkan ketika hal itu tidak populer).
Dia siap memenuhi semua yang kita butuhkan.
Rekanprekan youth, Orang yang rindu mengenakan kehidupan Kristus dalam hidupnya itulah orang haus akan kebenaran. Jika orang hanya mendengar Firman Tuhan tapi hidupnya tidak berubah bukanlah orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Ketika seseorang rindu mengenakan karakter Kristus yang dikenal sebagai “Man of Integrity” (Manusia yg berintegritas) yang berkenan kepada Bapa, itulah orang yang haus dan lapar akan kebenaran. Kebenaran yang dikenakan melebihi kebenaran Ahli Taurat dan orang Farisi. (Matius 5:20).
Orang percaya harus terus menerus menjaga hati untuk selalu lapar dan haus akan kebenaran karena ia akan dipuaskan. Pada gilirannya orang yang demikian akan tinggal di rumah Bapa di Sorga menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah.
Tuhan Yesus memberkati
RM – DOT