Renungan Harian, Sabtu 14 Oktober 2023
Bacaan: Galatia 6:1-10
Nats: Galatia 6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu ! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
Syalom saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan . . . .
Tidak ada manusia ang bisa hidup sendiri pedoman ini juga berlaku dalam hal pertumbuhan rohani kita sebagai orang percaya. Tanpa kehadiran dan peran sesama kita yang lain, iman kita tidak akan bertumbuh.
Paulus di dalam Galatia 6 menegaskan kebenaran ini, kita didorong untuk bertolong-tolongan di dalam menanggung beban kita (ay. 2). Karena tidak ada satu pun di antara kita yang sempurna, sehingga tidak patut kita menghakimi dan menjatuhkan orang lainnya (ay. 3-4). Kita sama-sama bergumul dan membutuhkan anugerah Allah serta pertolongan satu sama lain. Di ayatnya yang pertama, Paulus berkata: kalau seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kita yang lebih kuat dan rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut (ay. 1a). Selain menolong orang lain, kita pun diingatkan untuk menjaga diri kita sendiri, agar kita pun bisa menjadi teladan dan tidak jatuh dalam pencobaan yang sama (ay.1b).
Inilah keindahan gereja Tuhan. Ketika kita sadar bahwa kita bukanlah orang yang sempurna dan kita membutuhkan orang lain, kita akan terhindarkan dari kesombongan. Dan melalui kebenaran ini, kita diyakinkan bahwa kita tidak perlu berlelah-lelah menampilkan pesona dan menunjukkan bahwa kita sempurna. Kita dapat dengan terbuka saling membagi pergumulan dan mendukung satu sama lain. Indahnya gereja Tuhan bila kita bersama boleh bergandeng tangan dan bertolong-tolongan di dalam perjalanan kita mengikut Tuhan.
Jika sudah dilakukan maka hidup mereka sebagai pengikut Kristus senantiasa harus sepadan dengan firman Tuhan. Sikap demikian juga seharusnya kita lakukan di dalam hidup bersama dengan saudara seiman, kita harus saling memperhatikan, saling menolong, saling mengingatkan, dalam menanggung beban, karena tidak ada seorangpun yang kuat daripada yang lain. Adakalanya orang lain lemah dan kita harus menolongnya. Adakalanya kita lemah dan membutuhkan dukungan saudara yang lain.
Jangan sampai kita merasa paling rohani dan benar sehingga menegur dengan arogan. Kita juga jangan acuh sehingga tidak mau tahu, apalagi menolong. Dengan rendah hati dan lemah lembut kita menegur saudara yang jatuh sembari terus mawas diri agar tidak terjatuh dalam dosa. Saat jatuh ke dalam dosa, kita wajib membuka diri terhadap teguran dari saudara seiman karena kita pun tidak luput dari berbagai kelemahan.
Tuhan memberkati
EW