Renungan Harian Youth, Jumat 12 Desember 2025
https://open.spotify.com/episode/0IN4dny49bXcVPvxiUFwOz?si=i60gNTNKQ1SKDWNNbsMrhg
Lukas 19:1–10 “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”
Dunia kita mudah sekali menilai orang lain dari penampilan, latar belakang, atau kesalahannya di masa lalu. Tak jarang, bahkan orang percaya pun tanpa sadar terjebak dalam sikap menghakimi. Rasul Paulus pernah menegur orang-orang Kristen Yahudi di Roma karena mereka merasa lebih rohani dibanding saudara seiman yang lain hanya karena perbedaan tradisi dan kebiasaan ibadah (Roma 14). Mereka lupa bahwa semua orang berdiri karena kasih karunia Tuhan, bukan karena kebaikan diri sendiri.
Hal serupa terjadi di kota Yerikho ketika Yesus berjumpa dengan Zakheus, seorang kepala pemungut cukai yang terkenal sebagai pendosa besar. Bagi masyarakat Yahudi, Zakheus adalah simbol pengkhianatan dan ketamakan—orang yang tidak layak dikasihi. Namun Yesus justru memanggilnya dari atas pohon ara dan berkata, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Luk. 19:5)

Tindakan Yesus mengejutkan banyak orang. Mereka bersungut-sungut karena menganggap Yesus tidak pantas bergaul dengan orang berdosa.
Tetapi kasih Kristus tidak pernah dikurung oleh stigma manusia. Ia datang bukan untuk orang yang merasa benar, melainkan untuk orang yang sadar bahwa ia membutuhkan anugerah.
Pertemuan itu mengubah hidup Zakheus. Ia tidak hanya menerima Yesus dengan sukacita, tetapi juga menunjukkan pertobatan nyata — memberikan setengah dari hartanya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat kepada mereka yang pernah ia rugikan. Inilah bukti bahwa kasih Kristus yang diterima dengan sungguh dapat melahirkan perubahan sejati.
Kini, pertanyaannya bagi kita: Apakah kita mau meneladani Kristus dan menjadi pembawa kasih bagi “Zakheus-Zakheus” di sekitar kita? Mungkin mereka adalah teman sekolah yang dikucilkan, rekan kerja yang jauh dari Tuhan, atau orang yang kita pandang “tidak layak.” Natal mengingatkan kita bahwa Yesus datang untuk mereka — dan Ia ingin memakai kita menjadi saluran kasih-Nya.
Pada zaman Jemaat Mula-mula, jemaat di kota Roma terdiri dari dua kelompok. Ada orang Kristen yang dulu berasal dari bangsa Yahudi, dan ada juga yang bukan Yahudi. Mereka semua percaya kepada Tuhan Yesus, tapi cara mereka hidup dan beribadah masih berbeda. Orang-orang Yahudi masih punya kebiasaan lama, seperti tidak mau makan makanan tertentu dan masih merayakan hari-hari khusus seperti Sabat. Tapi orang-orang yang bukan Yahudi tidak melakukan itu, karena mereka tahu bahwa di dalam Yesus, mereka sudah bebas dari aturan lama.
Nah, karena perbedaan itu, mereka jadi saling menghakimi. Orang Yahudi berkata, “Kamu tidak taat pada Tuhan karena kamu makan makanan yang dilarang!” Sedangkan orang bukan Yahudi berkata, “Kamu terlalu kaku, Tuhan sudah memberikan kebebasan!” Paulus, rasul Tuhan Yesus, menulis surat untuk menegur mereka. Ia berkata, “Jangan saling menghakimi! Semua orang percaya adalah hamba Tuhan, bukan hamba manusia.”
Itulah sebabnya Paulus menulis di Roma 14:4: “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entah ia berdiri atau jatuh, itu urusan tuannya sendiri. Tapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia tetap berdiri.”
Dua Pesan Utama untuk Mengasihi yang Terhilang
1. Jangan cepat menghakimi, tetapi belajarlah menerima.
Ketika kita menghakimi, kita menutup kesempatan bagi kasih Allah untuk bekerja melalui kita. Zakheus tidak akan mengalami kasih Kristus jika Yesus berpikir seperti orang banyak. Yesus menembus batas stigma sosial dan menunjukkan kasih yang memulihkan.
Dalam konteks kehidupan remaja dan pemuda masa kini, kita bisa meneladani Yesus dengan menjadi pribadi yang mau mendengar, mengerti, dan mendampingi mereka yang sedang jatuh, bukan menambah beban dengan penghakiman. Dunia sudah cukup keras—biarlah kita menjadi wajah kasih Allah yang lembut bagi mereka yang terluka.
2. Jadilah pembawa kabar baik seperti Kristus.
Yesus tidak hanya menerima Zakheus, tetapi juga membawa keselamatan ke rumahnya. “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini.” (Luk. 19:9). Kasih yang sejati tidak berhenti pada empati; kasih sejati mengarahkan seseorang kepada Allah.
Natal adalah momen untuk mengingat tujuan kedatangan Kristus: mencari dan menyelamatkan yang hilang.
Mari jadikan masa Natal ini kesempatan untuk berbagi kasih kepada orang-orang di sekitar kita — bukan hanya lewat kata, tetapi lewat sikap dan tindakan nyata. Jadilah terang bagi mereka yang masih berjalan dalam gelap, agar mereka juga merasakan kasih Kristus yang mengubahkan seperti yang dialami Zakheus.
Kadang kita juga suka cepat menilai teman, misalnya berkata, “Dia kok jarang ke gereja sih?” “Atau, dia bukan anak Tuhan karena masih suka berbuat salah.” Tapi Tuhan mengingatkan kita untuk tidak cepat menghakimi. Mungkin teman itu sedang dalam proses, sedang belajar, atau sedang mengalami hal sulit. Tuhan tetap sayang dan sedang menolong dia.
Jadi, tugas kita bukan menghakimi, tapi mendoakan dan mengasihi. Tuhan mau kita saling menguatkan, karena setiap anak Tuhan berharga di mata-Nya.
Yesus datang bukan untuk mencari orang sempurna, tetapi untuk memulihkan yang hancur. Ia melihat nilai di balik dosa, potensi di balik kegagalan, dan jiwa yang perlu diselamatkan di balik penolakan dunia.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk meneladani kasih itu — mengasihi tanpa syarat, menerima tanpa menghakimi, dan membawa kabar baik bagi mereka yang terhilang.
Natal bukan hanya tentang lilin, lagu, dan perayaan, melainkan tentang kasih Allah yang menjangkau Zakheus-Zakheus di sekitar kita melalui hidup kita.
💭 Hikmat Hari Ini
Kasih Kristus tidak mencari yang layak dikasihi, tetapi membuat yang tidak layak menjadi berharga di mata Allah.
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan