Renungan Harian Youth, Kamis 09 Januari 2025
Amsal 23:24-25
Ketika kita melakukan perbuatan baik, kita pasti akan menerima berkat berlimpah karena Allah selalu memperhatikan setiap tindakan kita. Salah satu perbuatan baik yang berkenan di hadapan-Nya adalah berbakti dan taat kepada orang tua. Tindakan ini tidak hanya menyenangkan hati Tuhan, tetapi juga membawa balasan yang luar biasa, melebihi apa yang bisa kita bayangkan. Dalam Alkitab tertulis, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu.” Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan dan penghormatan kepada orang tua akan mendatangkan berkat serta umur panjang.
Tidak hanya kepada orang tua, menghormati orang yang lebih tua juga mendatangkan berkat. Memiliki sikap dan tata krama yang baik adalah hal yang penting.
Setiap perbuatan baik yang kita lakukan dengan keramahan kepada semua orang akan membuat hidup penuh makna dan banyak cerita. Tuhan mengajarkan kita untuk saling mengasihi, bersikap ramah kepada orang tua, dan memperlakukan sesama dengan penuh kasih. Ketika kebaikan dilakukan secara konsisten tanpa mengharapkan balasan, bahkan kegagalan dan kesulitan tidak akan mampu menghentikan kita. Semua itu menjadi ringan jika dijalani tanpa keluhan dan selalu disertai dengan rasa syukur.
Man was created for something beyond his life’s span on earth.
God has placed within each of us a longing for something higher and greater than we can ever get on earth. Any man, woman or child, can know the truth about God and Jesus Christ, if he seeks it with an open mind and with all his heart.
Ada sebuah ilustrasi yang menggambarkan bagaimana menghormati dan menghargai orang tua dapat membawa kita kepada kehidupan yang diberkati. Kisah ini berkisah tentang seorang ibu yang tindakannya mungkin terlihat tidak adil jika hanya dilihat secara sepintas. Tika, misalnya, mendengar kisah ini secara sepotong-sepotong dan berprasangka buruk terhadap ibu tersebut. Namun, jika mendengarnya secara utuh, barulah ia akan memahami maksud di balik sikap sang ibu. Di suatu kesempatan, ibu ini sangat marah kepada salah satu anaknya karena anak tersebut enggan bekerja, meskipun sudah memiliki istri dan anak. Anak itu hanya menghabiskan waktu dengan nongkrong dan merokok, bahkan rokoknya didapatkan dari utang di warung. Sebaliknya, ibu ini tampak sangat senang ketika didatangi oleh anaknya yang lain. Anak ini rajin bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga membantu ibunya. Tetangga-tetangganya pun memujinya karena ia dikenal murah hati dan suka menolong. Sikap ibu ini tidak didasarkan pada keinginan mendapatkan keuntungan materi, melainkan pada penghargaan terhadap kebenaran dan tanggung jawab. Kisah ini mengajarkan bahwa sebenarnya tidak sulit untuk membuat orang tua kita bahagia, yaitu dengan menjalani hidup yang baik dan benar.
Dalam Amsal 23:25 tertulis, “Biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita, biarlah beria-ria dia yang melahirkan engkau.” Ayat ini bukan hanya sebuah pernyataan biasa, tetapi merupakan anjuran sekaligus perintah dari Tuhan. Membuat orang tua senang adalah kehendak Tuhan. Amsal 23:24 juga menjelaskan cara untuk menyenangkan hati orang tua, yaitu dengan menjalani hidup yang benar. Hidup benar berarti hidup sesuai dengan hukum—baik hukum pemerintah maupun hukum Tuhan. Tentu saja, orang tua akan merasa sangat sedih jika anak-anaknya hidup melawan hukum atau bertindak tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka, pertanyaannya adalah: apakah kita mau membuat hati orang tua kita sedih? Ataukah kita mau menghormati dan menyenangkan hati mereka dengan hidup benar sesuai kehendak Tuhan?
Allah tidak pernah menutup mata terhadap apa yang terjadi dalam hidup kita.
Life after death is more important than life on earth. Eternity is more important than time. Where we are going to spend eternity is far more important than where and how we spend our lives on earth. The foolish person is short-sighted and thinks only in terms of this life. The wise person looks to the future and prepares for eternity
Ketika menghadapi kegagalan dan hambatan, sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, kita tidak boleh menyerah pada proses yang sedang kita jalani. Sebaliknya, kita harus belajar dari setiap kegagalan dan hambatan itu, karena semuanya dapat membentuk kita menjadi pribadi yang lebih dewasa. Ketika kita melakukan kesalahan, hal itu pasti membuat orang tua merasa sangat sedih, terutama jika kesalahan tersebut melanggar hukum. Namun, sebaliknya, orang tua akan merasa bangga dan bahagia jika anaknya menjalani hidup yang sesuai dengan hukum, terlebih lagi jika hidup itu sejalan dengan firman Tuhan.
Hidup dengan bijak mencakup semua aspek kehidupan. Kebijaksanaan tercermin dalam cara kita berbicara, bertindak, dan menjalani kehidupan jasmani, termasuk bagaimana kita mengatur kebutuhan seperti makan, minum, serta hal-hal lainnya. Selain itu, kebijaksanaan juga terlihat dalam keteraturan hidup, baik dalam mengelola waktu secara pribadi maupun bersama dengan orang lain. Jika seorang anak menjalani hidupnya dengan bijak, ia pasti akan mengalami keberuntungan, dan orang tua pun akan merasa bangga serta bersukacita. Hidup bijaksana tidak hanya membawa kebahagiaan bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan sukacita bagi orang tua dan menyenangkan hati Tuhan.
There is more that God offers us. He also promises to come and live in our hearts by His Spirit and to give us the power to overcome our sinful habits so that the record in the video-tape of our memory, in the coming days, can be one of purity, holiness and goodness.
Berbicara tanpa disertai tindakan hanyalah kesia-siaan, tetapi tindakan yang benar tanpa perlu banyak kata menunjukkan keseriusan dan ketulusan. Orang yang bertindak dengan benar selalu mempertimbangkan segala hal serta konsekuensi yang mungkin terjadi di masa depan. Hidup bukan hanya tentang mencintai diri sendiri, tetapi juga mencintai dan peduli terhadap orang lain.
“It’s not about to loving our self alone, but to loving and caring for others too.”
Seperti yang diajarkan Allah melalui tindakan dan kasih-Nya, hidup yang benar adalah hidup yang penuh perhatian terhadap sesama. Hal ini bisa diibaratkan dengan kisah cinta sepasang kekasih. Ketika mereka benar-benar saling mengasihi, mereka akan melakukan apa saja untuk menyenangkan satu sama lain. Namun, kita harus mengambil sisi positif dari hal ini—bahwa tindakan mereka berasal dari hati yang tulus—tanpa mengabaikan fakta bahwa cinta tidak berarti memberikan segalanya secara membabi buta. Sebagai anak, kita memiliki kewajiban untuk tidak membuat orang tua kita susah. Sebaliknya, kita harus membuat mereka senang. Mari jalani hidup dengan bijak, termasuk dalam mengelola waktu dan uang. Dengan begitu, orang tua kita akan merasa bangga dan bahagia.
Allah Bapa senantiasa mengingatkan dan memampukan kita untuk hidup sesuai dengan hukum, serta memberikan hikmat agar kita dapat menjalani kehidupan dengan bijak.
Yakinkan diri kita dan katakanlah, “Dalam nama Tuhan Yesus, aku pasti akan menyenangkan hati orang tuaku. Bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai kewajiban, dan aku pasti akan mewujudkannya dengan hidup benar dan bijak.”
Tuhan Yesus memberkati
LW – SCW