Elohim Ministry youth LIFE WITH NO REGRET

LIFE WITH NO REGRET



Renungan Harian Youth, Senin 15 Januari 2024

Apa yang kalian sesali setelah melewati tahun 2023? Mungkin ada resolusi yang belum tercapai atau apa ada kegagalan yang terjadi yang sangat membuat kita baper?  Tentu ini harus menjadi sebuah evaluasi dalam diri kita, supaya di awal tahun 2024 ini kita benar-benar mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, sehingga tidak ada suatu penyesalan yang terjadi; dan selebihnya itu biar Tuhan yang berkehendak apa yang menjadi segala rancangan kita.

Di Belgia pernah dilakukan survey terhadap warga berusia 60 tahun tentang penyesalan terbesar yang mereka rasakan. Hasilnya? Ternyata 72% menyesal karena mengabaikan waktu untuk bekerja dengan baik pada masa muda; 67% karena merasa salah memilih pekerjaan; 63% karena tidak mendidik anak dengan benar; 58% karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan; dan 11% karena tidak memiliki cukup banyak uang.

Rekan-rekan youth, penyesalan adalah emosi negatif yang kamu rasakan saat menyadari atau mengimajinasikan situasi saat ini akan jauh lebih baik jika kamu melakukan sesuatu yang berbeda di masa lalu.

Kebanyakan perasaan itu lebih banyak tercipta ketika kita tidak melakukan apa-apa ketimbang melakukan sebuah kesalahan.                     

Kita tentu sudah tahu bahwa hidup tak selamanya berjalan mulus. Ada hari-hari di mana kita begitu semangat menjalaninya, namun terselip pula hari-hari saat kita melakukan kesalahan yang membuat kita menyesal dan merasa bersalah. Tak jarang pula, penyesalan masa lalu masih membayangi kita hingga detik ini, saat kamu membaca artikel ini.  Namun apakah “penyesalan” itu? Menurut Melanie Greenberg, Ph.D., penyesalan adalah kondisi emosional atau kognitif yang membuat kita menyalahi diri sendiri secara terus-menerus karena hasil yang tidak sesuai, merasa kehilangan atau sedih atas hal yang kita harapkan terjadi, atau berharap kita tidak melakukan tindakan tersebut.

Selama penyesalan dikelola dengan baik, dapat membantu kita untuk tahu letak kesalahan kita dan mengajarkan kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.  

Matius 27:5, Ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. (Matius 27:1-10)

Setiap orang mempunyai respons yang berbeda sesaat setelah kesalahan fatal yang diperbuatnya. Sebagian orang berespons benar dengan menyadari kesalahan, minta maaf, dan bertobat. Tetapi tidak sedikit pula yang meski sadar akan kesalahannya, namun setelah itu mereka justru berlarut-larut dalam penyesalan dan… mengakhiri hidup.

Yudas, sangat menyesali kesalahannya. Tetapi penyesalan itu tidak membawanya kepada pertobatan. Ia justru berlarut-larut dalam penyesalan dan akhirnya bunuh diri. Petrus pun sangat menyesal. Penyangkalannya tentang siapa dirinya kepada Kristus adalah sama fatalnya dengan kesalahan Yudas. Namun Petrus menyikapi penyesalannya dengan pertobatan. Dan ia pun kembali mengikut Tuhan.

Dalam bagian Alkitab yang lain dukacita Yudas disebut sebagai dukacita dari dunia (2Kor. 7:10). Pusatnya adalah diri sendiri. Sementara, dukacita yang menurut kehendak Allah “menghasilkan pertobatan”. Kata pertobatan dalam bahasa Yunani adalah metanoia, yang artinya berubah pikiran atau berbalik dari dosa.

Tak seorang pun pernah luput dari berbuat kesalahan. Bahkan mungkin sebuah kesalahan fatal yang membuat orang-orang terdekat kita begitu kecewa. Kesalahan itu mungkin membawa kita kepada sebuah penyesalan yang mendalam. Namun ingatlah bahwa anugerah Tuhan masih tersedia bagi kita hari ini. Ampunilah diri sendiri, mintalah maaf kepada orang-orang yang telah kita kecewakan, mintalah pengampunan kepada Tuhan. Percayalah bahwa penyesalan yang benar akan membawa kita pada pertobatan dan menjadikan hidup kita jauh lebih indah dari sebelumnya.

PENYESALAN YANG BENAR PASTILAH AKAN MEMBAWA KITA KEPADA PERTOBATAN

Yudas juga menyesali kekeliruannya. Sayang, ia memilih jalan bunuh diri untuk membayar kesalahannya. Tidak sedikit orang menunjukkan penyesalannya dengan cara yang salah.

Pengkhotbah 5 : 2 menuliskan “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.”

Saya pikir, itulah yang juga dirasakan Yudas setelah menjual Yesus.Tenggelam dalam penyesalannya, Yudas pergi menggantung diri. Mungkin ia terlalu malu untuk kembali dan mengakui kesalahannya kepada murid-murid yang lain.

Ia kehilangan kesempatan menerima pengampunan Tuhan. Kontras dengan Petrus yang menangisi dosanya, tetapi kemudian kembali mengikut Tuhan (baca pasal 26:75, Yohanes 21). Dalam bagian Alkitab yang lain dukacita Yudas disebut sebagai dukacita dari dunia (2 Korintus 7:10). Pusatnya adalah diri sendiri. Sementara, dukacita yang menurut kehendak Allah “menghasilkan pertobatan”.

Rekan-rekan youth, Dalam hidup ini, kita pasti pernah berbuat kesalahan. Sama seperti Yudas yang mengambil keputusan keliru yang berujung pada penyesalan, demikian juga dengan kita. Namun, ada satu hal yang dapat kita lakukan agar kita tidak terjatuh ke dalam penyesalan semata.  Ketika keputusan keliru telah diambil dan membuat kita menyesal, jangan sampai penyesalan membawa kita kepada tindakan yang bersifat menghancurkan diri sendiri   Jika penyesalan hadir di dalam hati kita, apalagi jika penyesalan itu bisa mendatangkan dosa yang makin besar, maka janganlah kita pergi menjauhi Tuhan, tetapi rendahkanlah diri kita dalam pertobatan!  

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

EYC 13012024-YDK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *