Renungan Harian Anak, Selasa 16 Januari 2024
Halo adik-adik, salam sehat, semangat dan sukacita bagi kita semua.
Tentu semua sudah paham dan juga sering menyanyikan lagu-lagu mengenai kasih. Kasih kepada Tuhan dan juga kepada sesame harus selalu ada pada kita. Karena sering kita diajarkan bahwa kasih itu memaafkan, memberi, mengampuni dan melakukan hal-hal baik, tapi pertanyaannya adalah apakah kita sudah mengerjakan semua itu di dalam diri kita.
Bacaan kita kali ini adalah tentang Stefanus. Adayang sudah pernah baca tentang Stefanus di dalam Alkitab? Alkitab mencatat bahwa Stefanus hidup satu zaman dengan Rasul Paulus. Bahkan menurut catatan Alkitab, saat Stefanus mati dilempari batu oleh orang-orang yang membenci dia, Paulus juga ada di lokasi di mana Stefanus mati
Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka! “( Kisah Para Rasul 7:60a)
Adik-adik, Stefanus di sebut sebagai pengikut Kristus pertama yang adalah seorang martir. Martir itu sama artinya dengan mati sahid atau lebih jelasnya, Stefanus dilempari batu sampai ia mati karena dia tidak berdosa atau berbuat salah dan juga karena dia beriman kepada Tuhan Yesus. Di dalam kisah ini terdapat sebuah contoh nyata mengenai rasa murka dan kemarahan para penganiaya yang melempari stefanus. Stefanus memberitakan injil Tuhan namun ditentang oleh anggota-anggota Mahkamah Agama. Mereka sangat marah dengan pengajaran Stefanus, mereka menyeretnya ke gerbang kota dan merajam (= melempari batu) Stefanus sampai mati. Namun sebelum meninggal ia sempat berdoa mengampuni mereka, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!”

Betapa mengerikannya yang dialami Stefanus. Jangankan dianiaya sampai mati seperti dia, mendapat hinaan dari orang lain saja terasa menyakitkan di hati kita. Bagaimana Stefanus bisa punya kebaikan hati seperti itu? Dia tidak marah dan tidak mendendam, dia menyerahkan dan percaya Tuhan sendiri yang akan melakukan yang terbaik bagi semua orang.
Adik-adik, Stefanus sangat paham bagaimana mengerjakan kasih. Sekalipun dia kehilangan nyawanya, dia tahu bahwa Tuhan sangat mengasihi dia dan menyambut dia. Dia juga tidak lupa untuk memohon pengampunan kepada mereka yang menganiaya. Dia memohon sesuatu yang baik kepada orang yang membencinya.
Sebagai anak-anak yang dikasihi Tuhan. Kita juga harus meneladani hal-hal baik yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh yang dicatat dalam Alkitab. Marilah kita menjadi anak-anak yang mengerjakan kasih, untuk Tuhan dan kepada sesama kita. Dengan demikian Tuhan kita dikenal dengan cara hidup kita.
Ayat Hafalan
Filemon 1:5 karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus.
Komitmenku hari ini
Aku menjadi anak-anak yang mengerjakan kasih, untuk Tuhan dan kepada sesama. Dengan demikian Tuhan dikenal melalui kehidupanku
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – KCP