Elohim Ministry umum Saat Yesus Berhitung

Saat Yesus Berhitung



Renungan Harian Senin, 24 Agustus 2026

Bacaan Firman Tuhan: Markus 6:30–44

Shalom, Bapak ibu Saudara yang dikasihi Tuhan. Hidup kita sehari-hari tidak pernah lepas dari perhitungan. Kita menghitung penghasilan dan pengeluaran, waktu dan tenaga, peluang dan risiko, bahkan sering kali kita juga menghitung apakah sesuatu layak untuk dilakukan atau tidak. Dunia mengajarkan kita untuk berhitung dengan cermat: jika persediaan berkurang, kita harus berhati-hati; jika kemampuan terbatas, kita merasa tidak mungkin; jika waktu terganggu, kita menganggapnya sebagai kerugian. Namun, dalam perjalanan iman, kita akan menemukan bahwa cara Tuhan berhitung sering kali berbeda dengan cara manusia berhitung.

Dalam Markus 6:30–44, kita melihat para murid yang sedang menghadapi situasi yang sangat tidak ideal. Mereka lelah setelah melayani, membutuhkan istirahat, tetapi justru orang banyak datang dan memenuhi waktu mereka. Kemudian, ketika hari mulai larut, mereka berhadapan dengan ribuan orang yang lapar, sementara yang tersedia hanyalah lima roti dan dua ikan.

Menurut perhitungan manusia, semuanya tidak cukup. Waktu tidak cukup. Tenaga tidak cukup. Uang tidak cukup. Persediaan juga tidak cukup. Tetapi ketika Yesus hadir, perhitungan manusia bukanlah akhir dari cerita. Yesus mampu melihat apa yang kita anggap sebagai pengurangan menjadi kesempatan untuk menambahkan berkat. Yesus juga mampu memakai sesuatu yang kecil untuk menghasilkan dampak yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan.

Hari ini kita belajar dua kebenaran penting dari kisah ini: pengurangan bisa menjadi penambahan, dan yang kecil bukan berarti tidak bermakna.

1. Pengurangan Bisa Jadi Penambahan Markus 6:30–35

Setelah melakukan pelayanan, para rasul kembali kepada Yesus dan menceritakan semua yang telah mereka lakukan. Mereka tentu membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga. Yesus pun memahami kondisi mereka dan berkata: “Marilah mengasingkan diri ke tempat yang sepi dan istirahat sebentar.” —Markus 6:31

Namun, rencana untuk beristirahat ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Ketika mereka pergi ke tempat yang sepi, orang banyak justru mengenali mereka dan datang lebih dahulu. Bagi para murid, situasi itu dapat terasa seperti sebuah gangguan. Waktu istirahat yang seharusnya mereka miliki berkurang. Tenaga yang sudah terkuras harus kembali digunakan. Rencana yang sudah dibuat berubah. Bukankah sering kali demikian juga dengan kehidupan kita? Kita sudah menyusun rencana dengan baik, tetapi tiba-tiba ada masalah yang muncul. Kita sudah berharap memiliki waktu untuk beristirahat, tetapi ada kebutuhan mendesak yang harus ditangani. Kita merasa semuanya sudah berjalan sesuai jadwal, tetapi keadaan berubah tanpa kita duga. Sering kali kita langsung menyebutnya sebagai gangguan.

Hal yang luar biasa—jika seseorang mampu melakukannya—adalah berhenti memandang segala hal yang tidak menyenangkan sebagai gangguan terhadap kehidupan kita….Padahal, kenyataannya justru hal-hal yang kita sebut sebagai gangguan itulah kehidupan kita yang sesungguhnya—kehidupan yang Tuhan anugerahkan hari demi hari. – CS LEWIS

Para murid mungkin melihat orang banyak sebagai tambahan beban. Namun, Yesus melihat mereka dengan cara yang berbeda. Markus 6:34 menyatakan: “Ketika Yesus sampai di darat, Dia melihat ada sangat banyak orang, dan Dia jatuh belas kasihan kepada mereka karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Karena itu, Yesus mulai mengajar mereka tentang banyak hal.”

Di sinilah kita melihat perbedaan antara perhitungan manusia dan hati Yesus. Para murid mungkin melihat waktu yang berkurang, tetapi Yesus melihat orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Para murid mungkin melihat energi yang semakin terkuras, tetapi Yesus melihat kesempatan untuk melayani. Para murid mungkin melihat rencana yang terganggu, tetapi Yesus melihat ladang pelayanan yang terbuka. Yesus tidak membiarkan belas kasihan hanya menjadi perasaan. Belas kasihan-Nya diwujudkan dalam tindakan. Ia mengajar orang banyak karena mereka membutuhkan tuntunan dan kebenaran. Mungkin hari ini ada seseorang yang membutuhkan perhatian kita. Mungkin kita merasa tidak punya cukup waktu untuk mendengarkan. Mungkin ada keluarga, teman, atau sesama yang membutuhkan pertolongan, tetapi kita berpikir bahwa membantu mereka akan mengurangi kenyamanan, waktu, tenaga, atau sumber daya kita.

Matematika Yesus berbeda. Pengurangan tidak selalu berarti kerugian. Di tangan Tuhan, pengurangan dapat menjadi kesempatan untuk menambahkan nilai dan berkat dalam kehidupan sesama.

Ketika hari mulai larut, para murid kembali mulai berhitung. Orang banyak membutuhkan makanan, tempat itu terpencil, dan persediaan mereka sangat terbatas. Solusi para murid sangat masuk akal. Mereka berkata kepada Yesus agar orang banyak disuruh pergi untuk membeli makanan sendiri.

Tetapi Yesus memberikan jawaban yang mengejutkan: “Kamulah yang memberi mereka makan.”
—Markus 6:37 Murid-murid segera memikirkan biaya dan keterbatasan mereka. Mereka melihat besarnya kebutuhan dan membandingkannya dengan kecilnya kemampuan yang mereka miliki. Lalu Yesus mengajukan pertanyaan yang sederhana: “Ada berapa roti yang kamu punya? Coba pergi dan lihat!” —Markus 6:38 Jawabannya: lima roti dan dua ikan. Sangat sedikit. Jika dibandingkan dengan jumlah orang yang ada di sana, apa arti lima roti dan dua ikan? Secara manusiawi, jawabannya jelas: tidak cukup. Namun, Yesus tidak bertanya tentang apa yang belum mereka miliki. Ia bertanya tentang apa yang sudah ada pada mereka. Ini adalah pelajaran yang sangat penting. Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang tidak kita miliki. Kita berkata, “Kemampuan saya terlalu sedikit.” “Pengalaman saya belum cukup.” “Saya tidak punya banyak uang.” “Saya bukan orang yang hebat.” “Apa yang bisa saya lakukan hanyalah hal kecil.”

Apa yang kecil di tangan manusia menjadi sarana yang luar biasa di tangan Yesus. Yang kecil bukan berarti tidak bermakna. Yang sederhana bukan berarti tidak dapat dipakai Tuhan.

Kesaksian Gladys Aylward\

Kebenaran ini dapat kita lihat dalam kisah kehidupan seorang misionaris bernama Gladys Aylward. Jika dinilai berdasarkan ukuran manusia, Gladys bukanlah sosok yang paling diunggulkan. Ia berasal dari latar belakang sederhana dan pernah mengalami penolakan ketika berusaha mempersiapkan diri untuk pelayanan misi. Kemampuannya dianggap tidak cukup untuk memenuhi standar yang diharapkan.

Namun, Gladys memiliki satu hal yang sangat penting: ia bersedia. Ia tidak membiarkan keterbatasannya menjadi alasan untuk berhenti menaati panggilan Tuhan. Dengan apa yang sedikit yang dimilikinya, ia terus melangkah. Ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari hasil pekerjaannya dan akhirnya berangkat ke Tiongkok untuk melayani. Dalam perjalanan hidupnya, Gladys menghadapi berbagai kesulitan. Namun, Tuhan memakai hidupnya untuk melayani masyarakat dan menolong banyak orang, termasuk anak-anak yang membutuhkan perlindungan di tengah situasi perang.

Sebuah perkataan yang sering dikaitkan dengan kesaksian hidupnya menggambarkan kerendahan hati dan kesediaannya: “Aku bukanlah pilihan pertama Tuhan untuk apa yang telah kulakukan di Tiongkok. Aku tidak tahu siapa orangnya. Pastilah seorang pria. Pria yang berpendidikan tinggi. Entahlah apa yang terjadi. Mungkin dia meninggal. Mungkin dia tidak bersedia, lalu Tuhan memandang ke bawah dan melihat Gladys Aylward dan Tuhan berfirman, ‘Lihat, dia bersedia.’”

Terlepas dari bagaimana kisah itu diceritakan kembali, pesannya sangat kuat: Tuhan mencari hati yang bersedia dipakai-Nya. Gladys mungkin merasa dirinya kecil. Ia mungkin tidak memiliki pendidikan, kemampuan, atau sumber daya seperti orang lain. Namun, ia menyerahkan apa yang ada padanya kepada Tuhan. Dan itulah yang membuat perbedaan. Bukan karena kita hebat, tetapi karena Tuhan sanggup memakai kehidupan yang bersedia diserahkan kepada-Nya.

Mungkin kita hanya memiliki “lima roti dan dua ikan” dalam hidup kita. Kemampuan kita mungkin terbatas. Sumber daya kita mungkin tidak banyak. Kesempatan yang kita miliki mungkin terlihat kecil. Tetapi jangan pernah meremehkan apa yang dapat dilakukan Tuhan melalui sesuatu yang kecil yang diserahkan kepada-Nya. Tuhan tidak selalu memulai dengan sesuatu yang besar. Sering kali, Tuhan memulai dengan apa yang ada di tangan kita.

Refleksi

Kita sering kali menjalani hidup dengan perhitungan kita sendiri. Ketika waktu berkurang, tenaga terkuras, rencana berubah, atau kemampuan terasa terbatas, kita mudah berpikir bahwa semuanya sedang menjadi lebih buruk. Namun, melalui kisah lima roti dan dua ikan, kita belajar bahwa perhitungan kita bukanlah kata terakhir. Kita perlu belajar melihat setiap perubahan bukan hanya sebagai gangguan, tetapi sebagai kesempatan untuk melihat karya Tuhan. Kita juga tidak perlu merasa bahwa apa yang kita miliki terlalu kecil untuk dipakai-Nya. Ketika kita menyerahkan waktu, kemampuan, sumber daya, dan seluruh kehidupan kita kepada Yesus, Dia sanggup memakai apa yang kecil untuk menjadi berkat yang besar bagi banyak orang.

Hikmat Hari Ini

Matematika kita mungkin berkata, “Tidak cukup.” Tetapi kuasa Yesus sanggup mengubah apa yang sedikit menjadi berkat yang melimpah.

Doa Meresponi Firman Tuhan Hari Ini

Tuhan Yesus, terima kasih untuk firman-Mu hari ini. Ampunilah kami jika selama ini kami terlalu sering melihat hidup hanya berdasarkan perhitungan dan keterbatasan kami sendiri. Ajarlah kami untuk tidak memandang setiap perubahan sebagai gangguan, tetapi menolong kami melihat kesempatan di mana Engkau sedang bekerja. Ketika kami merasa tidak memiliki cukup waktu, tenaga, kemampuan, atau sumber daya, ingatkan kami bahwa Engkau sanggup memakai apa yang kecil ketika kami menyerahkannya kepada-Mu. Berikan kami hati yang penuh belas kasihan untuk melihat kebutuhan sesama dan hati yang bersedia untuk dipakai oleh-Mu. Ambillah hidup kami, Tuhan, dengan segala keterbatasannya, dan jadikanlah kami alat untuk membawa berkat dan kemuliaan bagi nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Rangkuman Khotbah
Pdt. Soerono Tan

JOIN GRUP RENUNGAN HARIAN

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan
atau Klik tombol dibawah ini :

Anda juga bisa mengikuti saluran Renungan Harian Kristen Elohim.id di WhatsApp dengan klik tautan berikut:
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7dcZJL7UVRcABBMw1f

Atau klik tombol dibawah ini >>>

1 thought on “Saat Yesus Berhitung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *