Renungan Harian Anak, Rabu 18 Desember 2024
Syalom, adik-adik Elohim Kids! Bagaimana kabar kalian hari ini? Kakak harap semuanya dalam keadaan sehat dan penuh semangat. Sebelum kita memulai aktivitas hari ini, mari kita merenungkan firman Tuhan tentang bagaimana kita bisa tetap bertahan di tengah kesusahan.
Adik-adik, pernahkah kalian merasa kesusahan atau mengalami hal yang tidak menyenangkan? Mungkin kalian pernah sakit, kehilangan sesuatu yang kalian sukai, atau bahkan menghadapi teman yang membuatmu sedih. Nah, terkadang Tuhan mengizinkan kesusahan terjadi dalam hidup kita untuk mengajarkan sesuatu yang sangat penting.
“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena kenyataan-kenyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” 2 Korintus 12:7

Rasul Paulus pernah diberikan “duri dalam daging” oleh Tuhan. Apa itu duri dalam daging? Itu adalah perumpamaan untuk suatu penderitaan yang Paulus rasakan. Meski Paulus sudah berdoa agar duri itu diambil, Tuhan tidak mencabutnya. Mengapa? Karena Tuhan ingin Paulus belajar bahwa dalam kelemahannya, kuasa Tuhan menjadi sempurna. Dengan kata lain, kesusahan itu mengingatkan Paulus untuk selalu bergantung kepada Tuhan.
Adik-adik, kisah Paulus dan Silas di penjara juga mengajarkan kita banyak hal. Ketika mereka dipenjara karena memberitakan firman Tuhan, mereka tidak putus asa atau mengeluh. Sebaliknya, mereka berdoa dan memuji Tuhan di tengah penderitaan. Apa yang terjadi? Tiba-tiba terjadi gempa bumi yang membuka pintu penjara dan membebaskan mereka. Tapi bukan itu saja, kepala penjara dan keluarganya akhirnya bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus.
Kisah ini menunjukkan bahwa ketika kita tetap percaya kepada Tuhan dan memuji-Nya meskipun dalam kesusahan, Tuhan dapat memakai situasi itu untuk membawa kebaikan.
Adik-adik pasti pernah mendengar kisah Ayub, bukan? Ayub adalah seorang yang sangat kaya dan taat kepada Tuhan, tetapi ia diuji dengan kehilangan semua miliknya, bahkan sepuluh anaknya meninggal. Tidak hanya itu, Ayub juga jatuh sakit parah. Namun, meski menderita, Ayub tidak menyalahkan Tuhan. Ia tetap setia dan memuji Tuhan. Pada akhirnya, Tuhan memulihkan hidup Ayub dan memberkati dia lebih besar dari sebelumnya.
Berbeda dengan Ayub, Yunus adalah seorang nabi yang awalnya melarikan diri dari perintah Tuhan. Karena ketidaktaatannya, Yunus akhirnya dilempar ke laut dan ditelan oleh seekor ikan besar. Di dalam perut ikan itulah Yunus menyadari kesalahannya dan berdoa kepada Tuhan. Tuhan pun mengampuninya dan memberikan kesempatan kedua. Kisah Yunus mengingatkan kita bahwa ketika kita berbuat salah, kita harus segera bertobat dan kembali kepada Tuhan. Jangan menunggu sampai sesuatu yang buruk terjadi baru kita sadar.
Adik-adik, cobaan dan kesusahan bisa datang kapan saja. Tapi ingatlah, Tuhan selalu menyertai kita. Jika kita tetap bertahan seperti Paulus, Silas, dan Ayub, kita akan melihat kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita. Bahkan, kesusahan yang kita alami bisa menjadi berkat bagi orang lain.
Adik-adik, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita akan selalu mudah. Tetapi Tuhan berjanji akan selalu menyertai kita, bahkan di tengah kesusahan. Jadi, mari kita belajar untuk tetap bertahan, percaya, dan berserah kepada Tuhan dalam setiap situasi.
Ayat Hafalan: II Korintus 12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
Komitmenku hari ini
Aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan aku, bahkan disaat kesusahan aku percaya Tuhan senantiasa menyertaiku
Tetap semangat, adik-adik! Tuhan Yesus selalu menyertai kita semua. 😊
ID – GCT