Elohim Ministry youth MAN ON WORD

MAN ON WORD



Renungan Harian Youth, Rabu 18 Desember 2024
MAZMUR 90 : 12
Ada yang berpendapat bahwa menjadi baik lebih penting daripada menjadi benar, sementara ada juga yang meyakini sebaliknya, bahwa menjadi benar lebih utama. Sebagian mengatakan kebaikan itu mutlak, sedangkan kebenaran bersifat relatif, atau sebaliknya. Dalam menghadapi pandangan-pandangan ini, kita perlu bersikap bijaksana karena pilihan yang kita buat akan menentukan arah hidup yang kita jalani. Apakah kita ingin menjadi orang yang baik, atau orang yang benar? Pilihan itu ada di tangan kita, tetapi penting untuk melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan agar tidak menyesal nantinya. Dalam Mazmur 90, Musa mengingatkan bahwa Tuhanlah yang memegang kendali atas hidup manusia dan menentukan batas umur kita.

Dengan momen menyambut natal ini, kita harusnya menjalani kehidupan kita tanpa perlu takut akan pemikiran – pemikiran dari semua orang, jika kita hidup dengan bijak, penuh ucapan syukur dan selalu Bersama dengan Tuhan.

Almarhum Arswendo Atmowiloto, seorang penulis dan wartawan, sekaligus mantan pemimpin redaksi tabloid MONITOR, pernah menulis sebuah buku berjudul Menghitung Hari. Buku ini menceritakan pengalaman pribadinya selama lima tahun mendekam di Lapas Cipinang akibat kasus penistaan agama. Dalam buku tersebut, Arswendo menggambarkan isi hatinya yang penuh harapan, kerinduan agar waktu cepat berlalu menuju kebebasan, serta komitmen untuk menjalani kehidupan dengan lebih hati-hati.
Natal adalah perayaan kelahiran Sang Juruselamat, Tuhan Yesus Kristus. Dalam suasana penuh sukacita ini, sudah seharusnya kita merenungkan, apakah kita akan bertindak dengan hati yang bersih atau malah membiarkan noda hati merusak momen bahagia ini, baik di masa sekarang maupun di waktu-waktu yang akan datang. Kelahiran Yesus adalah sumber sukacita besar, dan kita sering kali “menghitung hari” dengan antusias, menanti-nanti Natal. Anak-anak, misalnya, begitu bersemangat menyambut hari raya ini. Kita pun seharusnya memiliki semangat yang sama, menjalani hari-hari dengan hati yang tulus dan dipenuhi pengharapan.
Firman Tuhan, seperti yang diajarkan oleh Musa, mengingatkan kita untuk meminta kepada Tuhan hati yang bijaksana dalam menjalani kehidupan. Dalam Amsal 14:17 tertulis, “Orang yang suka marah bertindak bodoh; orang bijaksana bersikap sabar.” Kehidupan yang diberkati bergantung pada pilihan dan arah yang kita ambil. Bahkan, perdebatan mengenai apakah lebih penting menjadi “baik” atau “benar” sering kali tidak menemukan akhir. Namun, kita tahu bahwa kunci kehidupan yang bermakna adalah menjalani setiap hari dengan hikmat, ketulusan, dan kesabaran, sambil terus melibatkan Tuhan dalam setiap langkah kita.

Waktu yang masih kita miliki tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Sebaliknya, waktu itu harus digunakan untuk memuliakan Tuhan. Sebab, melalui tindakan dan perbuatan kita, identitas sejati kita akan terlihat. Sering kali kita mengaku sebagai orang baik, tetapi tindakan kita belum sepenuhnya mencerminkan apa yang kita katakan. Bahkan,

jika seseorang menyebut dirinya benar tetapi hidupnya tidak sejalan dengan perintah Allah, itu sama saja dengan kebohongan.

Pada akhirnya, orang baik belum tentu benar, tetapi orang benar pasti baik jika hidupnya sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita yakin telah menjadi benar hanya karena melakukan hal yang menurut kita baik, padahal di mata Tuhan itu tidak baik dan tidak benar? Sudahkah kita bertindak dengan bijaksana?
Sejauh apa pun kita melangkah, jika hidup tidak disertai Tuhan, yang akan kita rasakan hanyalah kehampaan. Jangan biarkan diri terjebak dalam kesakitan yang tak berujung tanpa jawaban. Berharap pada dunia hanya akan membawa kekecewaan pada akhirnya. Adalah sifat manusia untuk cenderung mengandalkan kekuatannya sendiri atau orang lain, tetapi tanpa Tuhan, semua itu tidak akan membawa kepuasan sejati. Mari kita introspeksi diri dan menyerahkan setiap langkah hidup kita kepada Tuhan, agar sukacita dan damai-Nya selalu melingkupi kehidupan kita.

Bagaimana kita bisa menentukan apa yang lebih penting atau lebih mutlak? Sebenarnya, hal ini menjadi sederhana jika kita berdoa dengan hati yang tulus, memohon hikmat dari Tuhan untuk membantu kita membuat keputusan. Yang sering kali membuatnya terasa sulit adalah ego kita sendiri—ketidakmauan untuk berserah dan meminta kepada Tuhan hati yang bijaksana.
Pernyataan jujur mengenai kelemahan kita mungkin tetap ada, tetapi jika kita ingin berubah, diperlukan komitmen yang disertai dengan iman. Apa yang kita ucapkan dan lakukan dalam hidup ini pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, Kita perlu bersungguh-sungguh dalam memperhatikan sikap, tindakan, dan perbuatan kita. Jadikanlah diri kita berkat bagi orang lain. Ucapkanlah kata-kata yang menguatkan dan memberkati, karena Tuhan memperhatikan setiap hal baik yang kita lakukan. Dia adalah Allah yang setia dan akan membalas semua perbuatan baik pada waktu-Nya, yang selalu terbaik.

Tuhan Yesus memberkati

LW – NDK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *