Pribadi yang Istimewa

Pribadi yang Istimewa

Renungan Harian, Kamis 14 Oktober 2021

Menjadi pribadi istimewa adalah idaman setiap manusia, banyak orang berusaha untuk menjadi pribadi yang istimewa dengan banyak cara. Namun hari ini kita mau belajar dari seorang tokoh Alkitab, Yusuf salah satu pribadi istimewa yang dicatat Alkitab. Sekolah kehidupan telah membentuknya sehingga menjadi pribadi istimewa. Apa saja yang dapat kita pelajari dari kisah perjalanan kehidupan Yusuf, pribadi yang istimewa:

Dipaksa Keluar

Tuhan telah banyak memberi dalam kehidupan kita. Namun, terkadang pemberian Allah itu belum dipakai maksimal. Untuk itu Allah seringkali “memaksa” kita berada dalam situasi sukar. Situasi sukar adalah sarana yang tepat untuk “memaksa” potensi tersembunyi keluar dari diri kita.

Yusuf anak ke-11 dari Yakub. Bagi saudara-saudaranya, Yusuf dianggap kurang menguntungkan. Namun fakta berbicara sebaliknya. Yusuf adalah pribadi yang berhasil. Ia menjadi penguasa di Mesir. Penilaian manusia memang berbeda dengan penilaian Allah. Dahulu orang berpikir IQ sangat menentukan keberhasilan seseorang. Namun fakta berbicara lain. Data menunjukkan 70%-80% orang ber- IQ tinggi tidak selalu berhasil dalam pekerjaannya. Ia harus punya EQ, kecerdasan emosi. Keberhasilan diawali dengan sikap mencintai pekerjaan. Yusuf pun melakukannya.

Mampu Menghadapi Tekanan

Yusuf menghadapi beragam tekanan. Tekanan-tekanan itu sangat menyakitkan. Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya. Mimpinya menghantar Yusuf tidak disukai oleh orang-orang terdekat. Yusuf diserang oleh orang-orang terdekat. Ia dianiaya dan difitnah. Ini hal menyakitkan secara manusia (Kej. 37).

Akan tetapi, semua kesulitan di atas berhasil dilalui. Apa rahasianya? Kejadian 39:7-9 menjelaskannya.

  • Yusuf tahu batas kekuasaannya. Ketika istri tuannya—Potifar mengajaknya berselingkuh, Yusuf tahu batas kekuasaannya. Ia berterus terang, engkau adalah istrinya.
  • Yusuf tahu bahwa mata Tuhan tertuju kepadanya (Kej. 39:8). Karena itu dalam segala keadaan, Yusuf tidak pernah menangisi dirinya. Ia juga tidak bersikap mengasihani diri. Bagiannya adalah melakukan segala sesuatu dengan level terbaik. Mengapa demikian? Jawabannya jelas! Yusuf tahu persis bahwa mata Tuhan tertuju kepadanya.
  • Yusuf punya integritas. Apa artinya integritas? Integritas berbicara, yang di dalam dengan yang di luar sama. Integritas adalah aset tertinggi dan mahal harganya.
  • Yusuf tegas menolak segala bujukan dalam bentuk apa pun. Ada slogan kesempatan dalam kesempitan. Slogan tersebut bisa berarti menjual integritas dalam waktu pendek. Alkitab katakan, “Jalan orang jahat gelap seperti kelamnya malam. Mereka tersandung dan jatuh tanpa mengetahuinya. Sebaliknya, jalan yang dilalui orang baik adalah seperti terbitnya matahari; makin lama makin terang, sampai akhirnya menjadi terang benderang.” (Ams. 4:18).

Disertai Tuhan

Yusuf adalah pribadi yang disertai Tuhan. “Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya” (Kej. 39:3). Pernahkah Anda memikirkan ayat ini? Ada satu pertanyaan yang saya lontarkan untuk kita renungkan. Bagaimana Potifar tahu bahwa Tuhan menyertai Yusuf? Tentu, kesaksian dalam hidup sehari-hari membuktikannya.

Segala sesuatu ada dalam rencana jangka panjang Allah. Ini terbukti. Perhatikanlah, dalam penjara pun Yusuf menjadi kepala penjara. Rupanya, rencana jahat orang-orang terdekat Yusuf dipakai Allah demi kebaikan Yusuf.

Ingat “Kanaan”

Kejadian 50:24-26. “Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: “Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.” Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: “Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.” Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir.”

Kita belajar, Yusuf telah hidup enak di Mesir. Namun Mesir bukan tempat permanen baginya. Kanaan adalah tempatnya. Dunia ini bukanlah tempat permanen bagi kita. Surga adalah tempat bagi kita dalam kekekalan.

Tuhan Memberkati

CM

Melemparkan Kesalahan

Melemparkan Kesalahan

Renungan harian Youth, Kamis 14 Oktober 2021

Hallo rekan-rekan youth,salam sehat selalu, Gimana kabarnya?  Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan kuasa Tuhan Yesus Kristus! 

Teman-teman, pernah gak kita mengalami kondisi di mana kita sudah melakukan kesalahan tapi kita malah mempersalahkan orang lain? Coba diingat-ingat, pernah gak?  kalo pernah, coba deh baca ayat berikut ini:

Kejadian 3: 11-13, Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang?Apakah engkau makan v  dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”   Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku,dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

Dari pembacaan kita barusan, kita dibawah kepada situasi di mana nenek moyang kita (Adam dan Hawa) sebenarnya sudah berbuat salah, namun saling melemparkan kesalahan seakan-akan mereka itu gak berbuat salah. Biar lebih jelas, coba deh simak kisah berikut:

Mat terlambat bangun. Otomatis dia terburu-buru saat berangkat ke kantor. Dengan kecepatan tinggi, Mat ngebut dijalan. Tapi sayang, tiba-tiba saja…”Priiiitttt! Polisi datang menemuinya. Ooh .. Mat kena tilang. Karena tidak ada surat-suratnya, maka motor nya ditahan polisi.  Mat berusaha meyakinkan polisi bahwa suratnya ketinggalan, bahkan ia menyalahkan pembantu rumahnya yang tidak membangunkannya.  

Tanpa kita sadari, semakin kita gak mengakui kesalahan-kesalahan kecil, membuat kita bakal terus berkompromi dengan ego kita dan memandang bahwa semua itu salah orang lain, dan kitalah yang menjadi korban.

Manusia selalu mencari alasan untuk membenarkan diri. Sebagai generasi muda gereja, kita pun seringkali bersikap seperti Mat, sukanya melemparkan kesalahan. Kita mengkambinghitamkan orang lain dikala kita disalahkan. Padahal kalo dipikir-pikir tidak ada hubungannya antara polisi dan pembantu, benar nggak ??! Yang jelas, itu kesalahan Mat sendiri karena terlambat bangun.

Coba renungkan ya temen-temen.  Bukankah kita sering seperti itu, berusaha membenarkan diri saat telah melakukan kesalahan, lalu mencari obyek yang dapat dipersalahkan? Kita sering menyalahkan orang tua, teman, jalan macet, dan lain sebagainya, padahal semuanya tidak ada kaitannya dengan kesalahan yang kita buat. Bahkan, sebelum adanya pandemic, tidak sedikit pula anak–anak muda yang terlibat pelayanan mengkambinghitamkan pelayanan yang terlalu padat sehingga menyebabkan anjloknya nilai mata kuliah atau mata pelajaran mereka.  Semoga kita semua tidak memiliki sikap buruk yang merugikan diri sendiri seperti tema kita hari ini “ Mempersalahkan Orang lain.”

Hal mempersalahkan orang lain pernah dilakukan oleh Adam dan Hawa. Ketika Tuhan menanyakan mengapa  mereka memakan buah terlarang, mereka justru saling melemparkan kesalahan.  Walaupun memang sebenarnya ada godaan dari si ular, namun keputusan berbuat salah itu semua berasal dari Adam dan Hawa.  Dan semua ujian itu benar-benar menunjukkan bahwa betapa rapuhnya seorang manusia jika tidak memiliki hikmat untuk memegang teguh perintah Tuhan.

Seringkali, Kita pun cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan yang tidak ada hubungannya dengan kesalahan kita. Mungkin sesekali kita berhasil menghindar dengan mengkambinghitamkan hal-hal yang lain, dilain waktu Tuhan akan mengajar kita dengan hal serupa sampai  kita benar-benar secara terbuka mengakui kesalahan kita. Karena itu,

belajarlah bertanggung jawab atas apa yang kita perbuat! Memang berat sih, tapi semua itu untuk kebaikan kita dihadapan Tuhan.

Komitmen Kita:

Belajar untuk bertanggung jawab untuk segala keputusan dan kesalahan kita, dan terus berlaku jujur supaya nilai kehidupan dan karakter Allah dalam hidup kita tetap dipandang benar.

Amin,

Tuhan Yesus Memberkati

RM – SCW

“Menolak Atau Menerima Injil”

“Menolak Atau Menerima Injil”

Renungan Harian Anak, Kamis 14 Oktober 2021

Ayat Alkitab : Kisah Para Rasul 4: 7-14

Hallo adik-adik Elohim Kids … Selamat Pagi.Sudah siap untuk mendengar dan merenungkan Firman Tuhan yach…

Hari ini kakak mempunyai sebuah kisah tentang Keluarga Harsono

Keluarga Harsono sangat membenci Kang Dayat yang hidup sebatang kara, karena diduga Kang Dayat ini pernah mencuri anjing mereka. Meskipun hal itu dibantah Kang Dayat dan tidak pernah terbukti tetapi kebencian tu tetap dilekatkan pada Dayat.

Suatu hari Bintang bermain dengan Markus, anak Pak Harsono.  karena kecerobohannya Markus dan sepedanya masuk ke selokan perumahan yang dalam. Ketika Bintang bingung tidak tahu apa yang harus diperbuat, waktu melihat Kang Dayat yang sedang lewat dia berteriak dan meminta tolong untuk mengeluarkan Markus dan sepedanya dari selokan. Rupanya setelah jatuh Markus pingsan dan tidak sadarkan diri, kemudian Kang Dayat membersihkan kotoran yang menempel di badan dan pakaian Markus, dia memijit-mijitnya dan ketika ia mulai siuman memberi minum Markus air hangat. Setelah itu Kang Dayat menyerahkan Markus kepada Bintang, Kang Dayat pergi meninggalkan mereka berdua.

Keluarga Harsono sangat berterima kasih kepada Bintang yang telah menolong dan mengantarkan Markus ke rumah. Banyak orang yang datang dan berkerumun di depan rumah keluarga Harsono membicarakan hal itu sambil memandang kagum kepada Bintang. Tidak terduga oleh mereka dan keluarga Harsono ketika tiba-tiba Bintang berkata, “Sebenarnya yang menolong dan merawat Markus adalah Kang Dayat, saya tidak bisa membantu apa-apa tadi.” Seorang yang sudah ditolak keluarga Pak Harsono ternyata melakukan kebaikan hati buat anaknya

Adik-adik, Siapa yang ditolak dan siapa yang Tuhan sadarkan dalam kisah di atas? Walaupun Kang Dayat sudah ditolak oleh keluarga Pak Harsono, tetapi dia tetap mau untuk menolong Markus anak Pak Harsono, Inilah contoh kasih yang mau untuk melayani. Dalam pembacaan kita hari ini dalam Kisah Rasul pasal 4, Rasul Petrus dan Yohanes sedang memberitakan Injil Keselamatan dari Tuhan Yesus, namun ternyata mereka mendapat penolakan dari para Iman dan kepala pengawal bait Allah dan orang Saduki. Sampai-sampai mereka ditahan dan dimasukkan kedalam penjara.

Namun Rasul Petrus dan Yohanes tetap mau untuk memberitakan Injil Keselamatan, bahkan mereka semakin berani untuk memberitakan Injil.

Kisah Rasul 4:13 Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.

Walaupun demikian ada banyak orang yang mendengarkan berita tentang Keselamatan dan mereka percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Adik-adik hari ini kita belajar untuk mau menerima berita Injil dan Firman Tuhan dalam kehidupan kita.

Sejak kecil adik-adik sudah dikenalkan tentang Tuhan Yesus yang adalah Juru selamat yang menyelamatkan kita dari hukuman dosa. Adik-adik semuanya harus terus menerima Firman Tuhan supaya iman adik-adik tetap bertumbuh.

Jangan pernah menolak Firman kebenaran Firman Tuhan dengan tidak mau mempercayainya, tetap terima Firman Tuhan dan tanamkan dalam hati adik-adik semuanya, pastinya Firman itu akan bertumbuh dan Iman adik-adik kepada Tuhan Yesus semakin kokoh

Ayat Hafalan:

Kisah para rasul 4 : 12, Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Komitmen ku hari ini:

Saya mau menerima kebenaran Injil bahwa Tuhan Yesus menjadi juru selamatku, dan aku mau terus menjaga Imanku tetap bertumbuh dalam Kristus

Tuhan Yesus memberkati

Yu – RS