Renungan Harian, Selasa 01 Agustus 2023
Bacaan : 1Korintus 9:19-27
Nats : 1Korintus 9:27, Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak
Syalom Bapak Ibu Saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus . . . .
Delapan puluh tahun yang lalu, Eric Liddell menggemparkan dunia ketika merebut medali emas Olimpiade dalam perlombaan lari 400 meter pertandingan yang tidak diduga akan dimenangkannya. Liddell adalah atlet yang diunggulkan untuk lari 100 meter, tetapi ia mengundurkan diri setelah tahu bahwa babak penyisihan diadakan pada hari Minggu, yang baginya adalah hari untuk beribadah dan beristirahat. Ia tidak meratapi kesempatan yang hilang pada lari 100 meter, tetapi ia menghabiskan 6 bulan berikutnya berlatih lari 400 meter. Dan akhirnya ia mencatat rekor Olimpiade baru.
Paulus menggunakan perumpamaan tentang olahraga untuk menekankan perlunya disiplin rohani bagi orang kristiani. “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal” (1 Korintus 9:25), yakni melakukan latihan secara ketat. “Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” Paulus rindu untuk tetap setia kepada Kristus karena ia ingin membawa pesan keselamatan bagi orang lain (ayat 19,27).
Dengan ketaatan dan penyerahan kepada Allah, sifat manusia lama kita dapat berubah dan diubahkan. Ada bagian kita untuk berubah. Kita harus belajar dan melatih tubuh kita. Rasul Paulus mengatakan bahwa dia melatih dan menguasai seluruh tubuhnya. Ini penting ! Kita perlu terus belajar dengan sifat-sifat baik. Ada kebiasaan-kebisaan baru yang harus kita lakukan yang mungkin berat sebab dalam diri kita ada sifat kedagingan yang berlawanan. Sifat kedagingan itulah yang harus kita serahkan kepada Allah agar Dia memberi kemampuan kepada kita untuk menguasainya.
Mungkin sulit rasanya mewujudkan diri kita bebas dari kedagingan, namun Roh Kudus akan menolong kita untuk berlatih dan berjuang. Selamat bekerja., Selamat beraktifitas, Selamat melayani.
Di sepanjang hidupnya, Liddell melatih diri secara rohani setiap hari dengan meluangkan waktu untuk membaca firman Tuhan dan berdoa. Ia tetap setia sampai ia meninggal karena tumor otak yang menyerangnya dalam kamp pengasingan Jepang selama Perang Dunia II.
Karena dikuatkan oleh anugerah dan kuasa Allah, Eric Liddell dapat berlari dengan baik dan tetap kuat saat menyelesaikan pertandingan kehidupan. Kita pun bisa berbuat seperti itu menguasai dan melatih tubuh kita agar kuat sampai akhir. Sehingga tidak akan mengoyahkan Iman percaya kita kepada Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat yang mulia !
Dalam pertandingan kehidupan ini, dibutuhkan ketekunan dan kedisiplinan agar kuat sampai akhir
Tuhan menyertai dalam perjuangan melatih tubuh dan diri kita. Amin…
TC