Renungan Hari Youth, Jumat 05 Januari 2024
Diawal tahun ini tentunya ada banyak Impian, resolusi baru yang ingin kita capai. Namun menjadi pengingat kita adalah kita harus tetap berjuang dan mengakhiri semuanya dengan baik. Ada begitu banyak anak Tuhan yang dengan semangat mengawali sebuah perubahan dan resolusi namun banyak yang menyerah dan pada akhirnya gagal.
Demikian pula dengan perjalanan dan perjuanga Iman kita, Rasul Paulus memberikan peringatan dan motivasi yang mendalam untuk kita terus berjuang.
Dalam Ibarani 12:1-2,Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Bayangkan kita sedang berdiri di garis start dari sebuah lomba jarak jauh. Suasana Kegembiraan begitu terasa. Kita melihat semua atlet meregangkan otot, menyesuaikan perlengkapan mereka, dan menatap kemenangan mereka. Namun, tidak seperti lomba biasa, ini adalah maraton iman, dan garis finish terletak bukan pada kemuliaan duniawi, tetapi pada kehidupan kekal bersama Tuhan. Seperti desakan Paulus dalam surat Ibrani, kita dikelilingi oleh “awan besar para saksi” pria dan wanita setia sepanjang jaman yang berlari dalam perlombaan mereka dengan ketekunan dan menyelesaikannya dengan baik sedang memberikan semangat untuk kita terus berjuang dan tidak menyarah. Dari iman Abraham yang tak tergoyahkan hingga kasih tanpa pamrih Bunda Teresa, kisah mereka menginspirasi kita untuk terus berlari, bahkan ketika jalannya tampak gelap atau jalannya terasa tak berujung.
Ada tantangan dan rintangan yang harus kita hadapi. Yaitu tanggalkanlah dosa dan manusia lama kita yang adalah beban yang membuat kita tidak bisa berlari. “Dosa yang dengan mudah menjerat” dapat berupa daya tarik dunia, kepahitan dari ketidakampunan, atau keraguan yang menggerogoti hati kita. Beban-beban ini membebani kita dan mengancam untuk menggagalkan perjalanan iman kita. Namun kita haru tetap untuk berjuang.
Jangan terjebak dengan puncak pencapaian yang sementara karena fokus kehidupan kita adalah pencapaian yang kekal.
Belajar dari Perjanjian Lama dalam 2 Tawarikh pasal 26. Tentang kehidupan Raja UZIA
Awal yang Baik
Pada mulanya Uzia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan mencari NYA selama hidup Zakharia yang menjadi pembimbingnya. Nama raja itu termasyhur sampai ke Mesir dan negeri-negeri yang jauh, karena ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kuat.. Ia mendirikan menara di Yerusalem dan di padang gurun, menggali sumur untuk peternakannya, mempunyai banyak petani dan penjaga-penjaga kebun anggur. Uzia mengawali pemerintahannya dengan baik. Ayat 4-5 memberikan kesaksian bagaimana ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Kemudian atas kesetiaannya itu, ia diberkati oleh Tuhan dengan kemenangan atas musuh, nama yang mashyur, dan sebagainya.
Akhir yang Buruk
Sayangnya, ia berubah menjadi tinggi hati (ayat 16). Ia mengambil alih tugas imam di bait Allah yang seharusnya tidak boleh ia lakukan. Akhirnya, ia pun ditimpakan sakit kusta oleh Tuhan. Kita harus belajar dari kisah tragis ini. Kita bisa saja memiliki permulaan yang baik dalam kehidupan iman kita. Namun, jangan kita lupa untuk setia sampai akhir. Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan sekalipun sudah dicegah oleh imam Azarya. Uzia ditimpa penyakit kusta oleh TUHAN dan akhirnya dikucilkan. Selebihnya dari riwayat Uzia, dari awal sampai akhir, ditulis oleh nabi Yesaya bin Amos. Ia dikuburkan d ladang dekat pekuburan raja-raja karena ia berpenyakit kusta, kata orang. Maka Yotam, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.
Rekan-rekan Youth, Finisihing WELL harus menjadi Impian kita, jangan menjadi jatuh karena kegagalan kita bahkan juga jangan jatuh karena keberhasilan kita, ingatlah untuk kita senantiasa mengarahkan kepada garis akhir perjuangan Iman kita.
Jadi bagaimana kita bisa “membuang segala sesuatu yang menghalangi” dan menyelesaikannya dengan baik?
Fokus pada Yesus, Dia adalah “pelopor dan penyempurna iman,” Dialah yang membuka jalan dan mengatasi setiap rintangan di hadapan kita. Fokuskan pandangan Anda pada-Nya, bukan pada diri kita sendiri atau godaan yang mengelilingi kita.
Lari dengan ketekunan, Ini bukan sprint, tetapi maraton kesetiaan. Akan ada saat-saat kelelahan, kekecewaan, dan bahkan tersandung. Tapi jangan menyerah! Ingat garis finish – kehidupan kekal bersama Kristus. Tarik kekuatan dari komunitas iman kita, bersandar pada janji-janji Tuhan, dan teruslah maju, satu langkah demi satu.
Pangkuan kasih karunia Ingatlah, kita tidak berlari dalam perlombaan ini sendirian. Kasih karunia Tuhan cukup bagi kita (2 Korintus 12:9). Ketika kita tersandung, pengampunan-Nya mengangkat kita. Ketika goyah, kasih-Nya akan tetap mendorong kita maju.
Bersandarlah pada kasih karunia-Nya dengan penuh keyakinan, dengan mengetahui bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.
Finishing Well berarti Menyelesaikan dengan baik tidak berarti mencapai garis finish tanpa goresan atau tersandung. Itu berarti menyeberangi garis dengan mata tertuju pada Yesus, hati penuh kasih, dan semangat yang tidak patah. Itu berarti berlari dalam perlombaan dengan iman, harapan, dan kasih, meninggalkan warisan inspirasi bagi mereka yang mengikuti teladan Iman kita.
Tetap Semangat untuk BERJUANG, Tuhan Yesus memberkati dan Menyertai
YNP – TVP