Renungan Harian Youth Kamis, 18 Januari 2024
Rekan-rekan Youth Lebih gampang mana, percaya kepada ALLAH dalam kesuksesan atau kesukaran? Mungkin sebagian orang lebih mudah memercayai ALLAH saat dirinya sehat dan berkelimpahan. Tetapi tidak sedikit orang pula yang mengingkari imannya ketika mengalami kesulitan. Tidak demikian dengan pemazmur. Di tengah pergumulan dan kesulitan, ia masih bisa berharap dan percaya kepada ALLAH.
Dalam Mazmur 57:1-12 Pemazmur memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah dan menganggapnya sebagai modal utama dalam hidupnya. Dalam perjalanannya, pemazmur menghadapi situasi sulit, bahkan ada sekelompok orang yang mencoba merugikannya. Pemazmur menggambarkan mereka sebagai singa buas dengan taring tajam dan lidah seperti pedang. Meski mengalami kesulitan, pemazmur hampir kehilangan keyakinannya, tapi ia memilih untuk memfokuskan hati dan jiwa kepada Allah, memohon belas kasihan-Nya (ayat 2). Kemudian di ayat 3, Pemazmur yakin bahwa Allah akan memberikan pertolongan dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, pemazmur merasa aman dan bisa tidur nyenyak meski dikepung oleh tipu daya musuh-musuhnya.
Pemazmur melihat perlindungan Allah seperti sayap burung yang menopang hidupnya.
Melalui pertolongan Allah, ia menemukan kasih setia dan kebenaran-Nya. Ini membuat pemazmur bersyukur, bernyanyi, dan bermazmur bagi Allah. Dengan begitu, ia memuliakan Allah yang memiliki kemahsyuran, kemuliaan, kasih setia, dan kebenaran yang melampaui segala kekuasaan di bumi
Allah senantiasa peduli dan juga selalu menyertai kita. Segala kesulitan hidup kita tidak lebih besar dari kasih setia-Nya. Oleh karena itu, mari arahkan hati kita kepada-Nya, karena Ia akan menolong kita. Pengalaman mendapat pertolongan Tuhan akan memperkuat iman kita dan memperdalam pengenalan kita terhadap karakter Tuhan yang setia. Jadi, jangan ragu untuk menyanyikan pujian dan doa kepada-Nya ketika menghadapi tantangan hidup.”
Mungkin kita sudah sering mendengar khotbah bahwa satu-satunya pertolongan bagi kita adalah TUHAN yang Maha Kuasa. Namun apakah kita sungguh-sungguh merasa demikian? Daud merasakannya. Saul, raja Israel pada waktu itu, memburu Daud seakan-akan Daud adalah buronan kriminal yang membahayakan. Tanpa alasan yang obyektif, Saul mengejar-ngejar Daud. Bayangkan perasaan Daud. Menghadapi penguasa dengan bala tentara yang dapat dikerahkan kapan saja, apa yang bisa Daud lakukan? Ia hanya bisa melarikan diri ke bukit-bukit dan bersembunyi di dalam gua. Situasi yang dihadapi Daud, membuat ia merasa bagai berada di tengah-tengah singa buas yang tak kenal ampun. Walau demikian, meski ter-sudut Daud tidak merasa berhadapan dengan jalan buntu. Meski dikelilingi musuh, Daud merasa tenang karena masih ada ALLAH yang menjadi tempat pengaduan dan perlindungan bagi dia.
Orang jahat memang tidak akan berjaya selamanya. Kejahatan mereka pun bukan tanpa akhir. Malah bukan tidak mungkin bila kejahatan mereka akan menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Maka bila kita menghadapi orang yang menjahati kita tanpa kita tahu alasannya, tak perlu berniat membalas dendam.
Sebagai orang beriman, kita hanya perlu berlindung pada ALLAH, yang Maha Adil. Ia akan menaungi orang-orang yang mencari Dia. Ia akan menjadi perisai bagi orang-orang yang bergantung pada kuasa-Nya.
Dalam keadaan yang terjepit, Daud berseru kepada ALLAH. Dia tidak larut dalam kesedihan dan ketakutan, melainkan berusaha tetap memfokuskan dirinya pada ALLAH. Ada beberapa hal yang bisa kita teladani dari Daud:
Pertama, ia berseru kepada ALLAH dan mempercayakan hidupnya di dalam tangan ALLAH (Mazmur 57:2-4). Daud mengumpamakan dirinya seperti seekor anak burung elang yang tidak berdaya yang berlindung di bawah naungan sayap induknya. Dalam situasi demikian ia beroleh kekuatan baru.
Kedua, ia memfokuskan perhatiannya pada kemuliaan ALLAH (Mazmur 57:6, 12). Daud mengakui keadaannya yang lemah dan tidak berdaya di tengah-tengah serangan musuh-musuhnya (Mazmur 57:5, 7). Tetapi ia tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh keadaannya. Perhatian Daud yang terutama, bahkan ketika ia memohon pertolongan dari TUHAN, adalah agar nama TUHAN ditinggikan dan dimuliakan, bukan semata-mata keselamatan pribadinya.
Ketiga, ia bersukacita menantikan pertolongan TUHAN (Mazmur 57:8-11). Kita harus membedakan antara bersukacita dan merasa bahagia. Jelaslah bahwa Daud tidak merasa bahagia dengan keadaannya, tetapi ia tidak pernah kehilangan sukacitanya sementara ia menantikan pertolongan TUHAN, karena sukacitanya itu didasarkan pada kasih setia TUHAN dan kebenaran-Nya (Mazmur 57:11).
Penderitaan kita adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa orang beriman tetap bersukacita dan memuji ALLAH.
Pergumulan dalam kehidupan tidak hanya membentuk sikap dan mengubah kebiasaan, tetapi juga membuka watak kita untuk mengungkapkan diri. Meskipun dalam tekanan dan ancaman, Daud menunjukkan bahwa ia tidak tergoda oleh ambisi atau dendam pribadi. Sebagai bukti, ia tidak memanfaatkan kesempatan untuk membunuh Saul yang sedang tertidur di gua. Meskipun banyak yang menganggap tindakannya itu bodoh, namun dalam perspektif Allah, keputusan Daud lebih bijak dan tepat. Mengapa Daud tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk membalas dendam? Seharusnya itu adalah cara yang paling mudah, bukan? Namun, Daud tetap teguh pada prinsip hidup yang benar, yaitu bahwa Tuhan yang memberikan perlindungan, mengendalikan hidupnya, mendengar keluhannya, dan memberikan solusi terhadap masalahnya. Ia percaya bahwa menyelesaikan masalah dengan pertimbangan manusia sendiri hanya akan menciptakan masalah baru.
Dalam pengalaman hidup Daud, terlihat bahwa prinsip hidup yang benar adalah landasan yang kokoh. Meskipun dihadapkan pada kesulitan dan godaan, ia memilih untuk tetap setia kepada Tuhan.
Penyelesaian masalah yang bersumber dari pertimbangan Allah lebih bermakna dan lebih bijak, sedangkan tindakan impulsif dan egois justru dapat menciptakan masalah baru..
TUHAN YESUS menyertai dan memberkati kita semua. Amin.
AH – SCW