Renungan Harian Senin, 05 Februari 2024
Sebagai anak Tuhan Penting untuk kita hidup dengan nilai-nilai Ilahi. Nilai adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan kita dan kita akan memprioritaskan nilai-nilai yang kita pegang.
Seperti seorang pelajar yang menjunjung nilai kejujuran, meskipun ada kesempatan untuk berbohong dan menyontek maka dia akan tetap mengerjakan ujiannya dengan jujur. Seorang pengusaha yang menjunjung nilai kebenaran dia akan menghormati nilai yang dia pegang bahkan walaupun dia mendapatkan untung yang sedikit.
Belajar dari kehidupan Yakub dan Esau.
Esau memiliki sistem nilai yang tidak lurus dan kacau dibandingkan dengan kehidupan Yakub. Esau bertumbuh menjadi pemuda yang gagah dan suka petualangan. Dalam Kejadian 25:30-31 dikisahkan bagaimana Esau dalam keletihannya melihat Yakub sedang memasak Sup Merah.
Ayat 30-34 Kata Esau kepada Yakub: “Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah.” Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom. Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” Kata Yakub: “Bersumpahlah dahulu kepadaku.” Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya. Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.
Yakub dengan kelicikannya menggoda Esau untuk melepaskan berkat dan Hak Kesulungannya. Dan masalahnya adalah ESAU juga memandang RENDAH dari HAK KESULUNGAN dan dia tidak menyesalinya.
MASALAH APA DALAM KEHIDUPAN ESAU – dengan analogi puncak Gunung ES permasalahan kehidupan ESAU
1. Masalah yang pertama adalah ESAU bersikap IMPULSIF
Impulsif adalah “Melakukan sesuatu secara spontan tanpa perencanaan dan tanpa memikirkan dampaknya” (Cambridge).
Esau memiliki karakter yang IMPULSIF, terserah apa yang dia mau dan melakukan semuanya dengan terserah dirinya sendiri
Dalam Kejadian 26:34-35, Ketika Esau telah berumur empat puluh tahun, ia mengambil Yudit, anak Beeri orang Het, dan Basmat, anak Elon orang Het, menjadi isterinya. Kedua perempuan itu menimbulkan kepedihan hati bagi Ishak dan bagi Ribka.
Dalam kisah ini menunjukkan Tindakan IMPULSIF dari ESAU yang memilih pasangan hidup dengan semaunya sendiri. Sangat berbeda dengan Yakub dalam mencari pasangan hidup yang tidak sembarangan. Tepat seperti yang penulis surat IBRANI katakan
Ibrani 12:16, Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.
2. Masalah yang Kedua adalah SISTEM NILAI KEHIDUPAN YANG KACAU
Hak kesulungan adalah hal yang sangat berharga dan menguntungkan, namun ESAU memandang rendah hak itu. Berarti ESAU tidak melihat berkat Tuhan adalah hal yang berharga. Bahkan Esau menukarkan hak kesulungannya dan tidak merasa kehilangan hal yang penting.
Sekarang ini begitu banyak terjadi pergeseran nilai-nilai kebenaran bahkan dalam kehidupan orang percaya. Dunia ini sedang membentuk nilai kehidupan yang bertolak belakang dengan nilai kebenaran Firman Tuhan. Dunia yang bebas ini sedang membentuk nilai kehidupan kita jadi kita harus waspada.
3. Masalah yang paling mendasar adalah ESAU JAUH DARI ALLAH
Ibrani 12:16. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah (fasik; masa bodoh terhadap Allah; tidak pernah berpikir tentang Allah) seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.
Esau memiliki nafsu yang rendah karena dia masa bodoh dengan kebenaran, hatinya tidak terusik dengan kebenaran, tidak merasa apa-apa ketika jatuh dan berbuat dosa.
Kejadian 27:27-33, Ketika Ishak memberkati Yakub dan dengan kelicikannya menerima berkat Istimewa dari Ishak yang seharusnya buat Esau. Ayat 34, Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: “Berkatilah aku ini juga, ya bapa!”
Ibrani 12:17, Sebab kamu tahu bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.
Esau menyesal namun penyesalannya sudah tidak bisa merubah apapun, sikap Impulsif, nilai yang Kacau karena Jauh dari Allah dan pada akhirnya ESAU kehilangan segalanya
Tabel ini akan merangkum apa yang dia dapatkan dan apa yang dia kehilangan.

Dari kehidupan ESAU kita perlu belajar untuk senantiasa menghidupi NILAI NILAI KEBENARAN FIRMAN TUHAN, jangan biarkan nafsu yang rendah membuat kita kehilangan berkat yang sudah Tuhan siapkan bagi kita.
Rangkuman Khotbah
Pdt. Soerono