Renungan Harian Youth, Senin 11 Maret 2024
ROMA 12 : 9 -10, Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.
Apa yang ada dalam benak kalian tentang identitas? Mungkin yang terlintas dalam pikiran kita adalah biodata kita secara lengkap dengan alamat yang sangat jelas tercantum di dalam KTP kita. Namun, Identitas menurut Stella Ting Toomey (Professor of Human Communication Studies at California State University), merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi. Identitas pada dasarnya merujuk pada refleksi dari diri kita sendiri dan persepsi orang lain terhadap diri kita.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), identitas adalah ciri atau keadaan khusus seseorang yang menunjukkan jati dirinya (bagian dari sifat seseorang yang muncul dengan sendirinya mulai dari kecil).
Rekan-rekan youth, Ternyata identitas bukan hanya tentang siapa namamu, lahir dimana dan kapan, orang mana kamu? tapi identitas juga berbicara tentang bagaimana kamu melihat dirimu, orang seperti apa kamu. Bisa terbentuk secara alami dan sosial. Identitas itu ada identitas agama, identitas nasional, identitas gender, ada juga identitas diri. Identitas diri bisa diartikan sebagai aturan moral pribadi atau prinsip moral yang digunakan seseorang sebagai kerangka normatif dan panduan dalam bertindak, gampangnya adalah prinsip hidup (oh dia tuh orangnya humoris, supel, tapi judes) yang berfungsi sebagai landasan yang memungkinkan individu untuk memahami dirinya dan berinteraksi dengan orang lain.
Secara rohani identitas kita adalah sebagai orang Kristen – yang percaya kepada Tuhan Yesus. Awalnya kita adalah manusia berdosa, ditebus dan diselamatkan (Roma 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 3:24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.) karya penebusannya membawa keselamatan bagi kita, ada hubungan yang Tuhan pulihkan hingga kemudian kita menjadi sahabat Kristus (yohanes 15: 15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.)
Pengenalan akan Tuhan memberikan kita kuasa sehingga kita disebut sebagai anak Allah. Jadi, identitas sejati kita, adalah sebagai ANAK ALLAH, Tuhan yesus Kristus.
Setiap anak pasti membawa DNA orang tuanya, klo orang tua kita kulitnya sawo matang, pasti kulit kita juga jadi sawo matang, klo mata orang tua kita sipit pasti kita ikut sipit juga, lalu jika bapa kita adalah Tuhan, berarti DNA apa yang diwariskan Tuhan ke kita sehingga bisa menjadi jati diri, dan identitas kita sebagai anak Allah? Jawabannya adalah: Kasih! Kasih harus merupakan identitas atau ciri khas para pengikut Kristus.
Karena Tuhan Yesus adalah sumber dan teladan kasih yang sejati, ketika kita percaya bahwa kita adalah anak Allah berarti ada DNA yang diwariskan yaitu KASIH, sebab Allah adalah kasih.
1 Yohanes 4: 7 – 8, Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
Pemahaman akan identitas siapa kita, siapa jati diri kita sebenarnya, membuat kita mengerti bagaimana kita harus berinteraksi dengan orang lain.
Yohanes 13: 34-35, Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
MENGASIHI YANG BAGAIMANA?
Roma 12: 9 -10 (TB),Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. (FAYH) Janganlah hanya berpura-pura mengasihi orang. Kasihilah mereka dengan sungguh-sungguh. Bencilah apa yang jahat. Lakukanlah apa yang baik. Hendaklah Saudara saling mengasihi dengan kasih persaudaraan dan saling menghormati.
Karena kita punya DNA kasih, maka Tuhan ingin kita bisa saling mengasihi dengan tulus, ikhlas, tidak pura-pura.
Filipi 2: 3, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
Kasih yang tulus akan tampak dalam relasi kita dengan sesama, karena Kasih itu aktif dan penuh inisiatif, bukan sesuatu yang kita rasakan tapi sesuatu yang kita lakukan.
1 yohanes 3: 18 (FAYH), Anak-anakku, janganlah kita hanya sekadar mengatakan bahwa kita mengasihi orang lain; marilah kita sungguh-sungguh mengasihi mereka dan menunjukkan kasih kita dengan perbuatan kita.
John Maxwell, penulis buku bertema kepemimpinan, menyatakan bahwa, “Satu hal yang selalu saya temukan dalam daftar kebutuhan orang adalah keinginan untuk merasa dirinya berharga. Setiap orang ingin merasa dirinya penting. Hampir-hampir tak ada sebuah penghargaan yang lebih tinggi yang bisa Anda beri pada seseorang daripada membantu orang itu berguna, menemukan kepuasan dan dianggap penting.”
Setiap insan di dunia ini butuh akan pengakuan, pengertian, dan penghargaan. Dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, Rasul Paulus mengingatkan mereka untuk saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Kata “hormat” dalam bahasa aslinya didefinisikan sebagai pengakuan, nilai, harga, dan dalam bahasa Inggris disebut precious(berharga). Itu berarti Tuhan mau kita memandang dan memperlakukan orang lain berharga seperti Tuhan memandang kita berharga di mata-Ny, karena saat kita menghormati seseorang, kita membuatnya berharga dan memberi nilai yang tinggi kepadanya, baik melalui sikap, tindakan, maupun kata-kata kita.
Faktanya, kita cenderung sulit menghormati orang lain, terlebih menghormati orang yang berbeda dengan kita atau dengan orang yang ada di bawah kita. Tetapi melalui firman hari ini kita disadarkan bahwa kita harus tahu menghargai sesama bahkan diminta untuk lebih dahulu untuk memberi hormat.
Mari jadikan kasih sebagai GAYA HIDUP dan Perlakukan setiap orang dengan hormat.
Buat mereka merasa berharga dari cara kita bersikap, bertindak dan berkata dengannya sehingga kita mampu mengasihi dan membuat orang lain merasa dirinya berharga. .
Semangat untuk hari ini, Tuhan Yesus memberkati kita semua…
EYC 09032024-YDK