Renungan Harian Youth, Jumat 22 Maret 2024
Ratapan 3:22-23, Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
Apa yang terjadi jika kita bisa melihat masa depan? Bagi kita yang memiliki masa depan cerah, tentu akan bersemangat dan memiliki pengharapan karena tahu seperti apa kehidupan kita nanti. Namun, bagaimana jika kita tahu masa depan kita suram? Tentu kita akan menjadi putus asa dan mungkin berniat segera mengakhiri hidup. Kita berpikir, buat apa susah-susah berjuang kalau akhirnya tidak ada kesuksesan. Untungnya, kita tidak bisa melihat masa depan. Kita “buta” dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Di dalam kondisi ini, kita tentunya masih bisa memiliki pengharapan akan masa depan. Sayangnya, terkadang ada orang yang pesimis dengan masa depannya karena melihat kondisi saat ini.
Kitab Ratapan merupakan suatu catatan yang salah satunya berisi tentang penghiburan bagi umat Allah.. Jika kita membaca kitab Ratapan secara menyeluruh, kita bisa melihat bahwa ayat ini adalah bagian dari respons penulis terhadap apa yang sedang terjadi dimana Allah murka oleh karena ketidaksetiaan umat-Nya.
Nabi Yeremia mengalami pergumulan yang dalam. Ia melihat kondisi bangsa Israel yang mengalami kehancuran dan pembuangan akibat dosa-dosa yang mereka lakukan. Ia meratap dan menangisi umat yang mengalami penderitaan. Mereka menyembah allah lain, sehingga Allah memakai bangsa lain menduduki tanah mereka untuk membawa umat-Nya bertobat dan kembali kepada-Nya. Di dalam situasi tersebut, penulis Kitab Ratapan ini menaruh pengharapan kepada Tuhan karena ia tahu bahwa sekalipun Allah murka karena kesalahan umat-Nya, tapi Allah adalah Allah yang setia dan penuh rahmat, penuh belas kasihan dan menerima pertobatan umat-Nya.
Meskipun berada di dalam situasi sulit, Yeremia masih memiliki pengharapan.
Yeremia tahu bahwa Allah sudah memilih bangsa Israel sebagai umat kesayangan-Nya sehingga takkan pernah meninggalkan mereka. Kasih setia-Nya selalu ada dan baru bagi bangsa Israel. Yeremia percaya bahwa Allah tetap memberikan masa depan yang indah bagi mereka.
Dalam situasi apa pun yang terjadi di dunia ini, kasih setia TUHAN tak kan pernah habis.
Dalam kitab Ratapan ini, kita melihat bagaimana nabi Yeremia menghadapi berbagai penderitaan dan kesedihan sehingga ia meratapi keadaan itu di hadapan TUHAN. Yeremia meratap atas kerusakan yang dialami Yerusalem secara tragis. Kesedihan Yeremia digambarkan bagaikan seorang yang meratap pada saat penguburan kerabat dekat yang mati secara tragis. Yeremia mengakui bahwa tragedi yang menimpa Yerusalem merupakan akibat dari pemberontakan pemimpin dan penduduk Yerusalem itu sendiri sehingga murka Allah dinyatakan atas mereka. Tetapi di dalam situasi seperti itu “kasih setia Tuhan” menjadi titik pijak bagi nabi Yeremia untuk selalu berpengharapan pada Tuhan.
Yeremia menggunakan tiga kata yang maknanya sangat berdekatan (LAI:TB “kasih setia, rahmat, dan kesetiaan”). Semua kata ini merujuk pada kebaikan Allah, walaupun aspek yang ditekankan berbeda-beda. Kata khesed (LAI:TB “kasih setia”) biasanya digunakan untuk kesetiaan Allah atas perjanjian-Nya. Ini adalah kasih dalam konteks perjanjian. Kata “rahmat” (rahămîm) dapat diidentikkan dengan belas kasihan atas orang berdosa atau orang yang menderita. Kata “kesetiaan” (’ĕmûnâh) lebih mengarah pada kepastian atau keteguhan dalam melakukan sesuatu. Makna di balik kata ’ĕmûnâh cenderung lebih luas daripada kata khesed. Melalui penggunaan tiga kata yang nyaris sinonim ini, Yeremia berniat untuk menegaskan keutamaan kebaikan Allah.
Kasih setia Allah menjamin bahwa perjanjian dengan umat-Nya akan terus ada.
Pemazmur pernah menulis dalam Mazmur 90:12, ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Cobalah untuk tidak terlalu memikirkan serta berhenti menghitung segala masalah dan sengsara kita. Serahkan segalanya kepada Tuhan karena setiap sengsara kita telah Tuhan hitung dan air mata kita Dia taruh ke dalam kirbat-Nya (Mzm. 56:9). Bagian Allah adalah menghitung air mata dan kesusahan kita, sedangkan bagian kita adalah menghitung kasih setia, berkat-berkat dan kebaikan Tuhan. Tuhan tidak pernah lupa akan janjiNya. Ia akan menepatinya tepat pada waktunya karena Ia tahu waktu yang tepat untuk membebaskan kita dari kesengsaraan kita.
Allah tidak akan membatalkan perjanjian. Rahmat-Nya memastikan bahwa umat Allah yang berdosa tetap mengalami kebaikan-Nya. Kesetiaan-Nya merupakan sauh yang kuat untuk menyandarkan hidup kita yang terus bergoncang.
Ratapan 3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
Pada saat Yeremia mengatakan bahwa TUHAN adalah bagiannya, ia sedang membedakan TUHAN dengan semua pemberian-Nya. TUHAN berbeda dengan berkat-berkat-Nya. Bagian terbaik kita adalah TUHAN sendiri, bukan pemberian-Nya. Sebagian pemberian TUHAN bersifat sementara, misalnya kesehatan, kekayaan, dan keberhasilan. Semua itu dapat hilang karena kecelakaan, kejahatan, atau kesalahan kita sendiri. Hanya satu yang akan terus ada bagi kita, yaitu TUHAN sendiri.
Pada saat menuliskan ratapan ini Yeremia memang tidak memiliki berkat TUHAN apapun. Tanah perjanjian lenyap. Yerusalem rata dengan tanah. Bait Allah tinggal reruntuhan. Tatkala semua berkat ini seakan tak terlihat, masih ada bagian terbaik kita: TUHAN! Sebagai anak anak Allah yang telah ditebus oleh darah Kristus dan diberikan jaminan kemenangan seiring dengan kebangkitan Tuhan Yesus, kita seharusnya percaya bahwa kita selalu mempunyai pengharapan. Bukan karena kita bisa menjamin masa depan kita sendiri dengan kepandaian, kekayaan atau kekuasaan kita, melainkan karena Allah yang telah memilih dan menjadikan kita umat-Nya adalah Allah yang setia.
Kita mempunyai Tuhan yang dapat kita percayai dan dapat kita imani untuk memberikan kekuatan, jalan keluar, dan kepastian pengharapan.
Di dalam kasih setia Allah, kita dimampukan untuk terus berharap kepada Allah;
Rekan-rekan youth, jika kita saat ini diizinkan mengalami pergumulan dan penderitaan, yakinlah bahwa Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Terlebih saat kita memasuki tahun baru ini, marilah menatap tahun baru di dalam pengharapan kepada Allah yang setia seperti yang Yeremia sampaikan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer. 29:11).
Pertolongan, kasih setia, dan anugerah Tuhan bukan barang basi, yang telah lewat waktu atau terlambat di dalam hidup kita. Tetapi pertolongan, kasih setia dan anugerah-Nya selalu baru dan selalu ada disediakan-Nya untuk kita karena besar kesetiaan-Nya bagi kita. Dia tetap Setia sekalipun kita tidak setia kepada-Nya sebagaimana firman Tuhan yang menyatakan : “selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (ay. 23).
Kasih karunia Allah mengundang kita menyambut setiap hari sebagai kesempatan baru untuk mengalami kasih setia Tuhan.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – TVP