Elohim Ministry umum “Kembali kepada Tujuan yang Semula”

“Kembali kepada Tujuan yang Semula”



Renungan Harian Kamis, 26 September 2024

Ayat Pokok: Efesus 2:10 “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”

Shalom, selamat pagi bapak, ibu, dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus! 

Hari ini kita akan merenungkan tentang panggilan Tuhan dalam hidup kita sebagai anak-anak-Nya. Setiap kita diciptakan dengan tujuan yang jelas—untuk melakukan pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan oleh Allah sejak awal. Ayat ini dengan indah mengingatkan kita bahwa hidup kita bukanlah kebetulan. Kita adalah karya Allah, dibuat dalam Kristus untuk hidup sesuai dengan panggilan-Nya.

Untuk membuka renungan ini, mari kita lihat kisah inspiratif dari seorang pengusaha terkenal asal Amerika, Warren Buffet. Pada tahun 2006, Warren Buffet menyumbangkan sejumlah besar kekayaannya—sebanyak 30,7 miliar USD (sekitar 300 triliun rupiah) ke Gates Foundation. Jumlah ini merupakan salah satu sumbangan amal terbesar dalam sejarah. Namun, yang luar biasa adalah, meskipun ia telah memberi dengan jumlah yang begitu besar, dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 2008, Buffet justru naik peringkat menjadi orang terkaya di dunia, menggantikan posisi Bill Gates yang telah memegang gelar itu selama 13 tahun!

Kisah ini mengingatkan kita pada firman Tuhan dalam Amsal 11:24-25, yang berbunyi:  “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, tetapi selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

Kita bisa melihat bagaimana prinsip ilahi tentang memberi dan menerima bekerja dalam kehidupan Warren Buffet. Ketika seseorang memberi dengan hati yang tulus dan benar, Tuhan akan memberkati hidupnya secara luar biasa. Kita sering berpikir bahwa dengan memberi, kita akan kehilangan. Namun, firman Tuhan justru mengajarkan sebaliknya—ketika kita memberi dengan hati yang benar, kita tidak akan kekurangan, bahkan Tuhan akan melimpahkan berkat-Nya atas hidup kita.

Motivasi yang Benar dalam Memberi

Memberi bukan tentang mengharapkan imbalan atau pujian dari orang lain. Memberi adalah tentang menyenangkan hati Tuhan dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Ketika kita memberi dengan tujuan yang benar—yaitu untuk memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain—Tuhan akan berkenan pada apa yang kita lakukan. Dan ketika Tuhan berkenan, hidup kita akan dipenuhi dengan berkat-Nya. Firman Tuhan dalam Galatia 6:7 mengatakan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Hukum tabur tuai adalah prinsip ilahi yang berlaku sepanjang waktu. Apa yang kita tabur dalam kehidupan ini, itulah yang akan kita tuai. Jika kita menabur kebaikan, kita akan menuai kebaikan. Sebaliknya, jika kita menabur keegoisan atau keburukan, hasilnya juga akan sesuai dengan apa yang kita tanam.

Panggilan untuk Menjadi Berkat

Kita semua diberkati oleh Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Efesus 2:10 mengingatkan kita bahwa kita diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan sebelumnya. Artinya, hidup kita memiliki panggilan yang jelas—bukan hanya untuk menerima berkat, tetapi juga untuk menyalurkannya kepada orang lain. Selagi kita masih diberi kesempatan hidup, kita harus terus berbuat baik kepada sesama. Karena ada waktunya kita tidak bisa lagi berbuat baik ketika kesempatan itu telah berlalu. Hidup ini singkat, tetapi setiap hari adalah kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita untuk membuat sejarah melalui perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan.

Menjadi Saluran Berkat dalam Kehidupan Sehari-Hari

Bapak, ibu, dan saudara yang terkasih, mari kita bertanya pada diri kita sendiri: “Apakah hidup kita sudah berdampak bagi orang lain? Apakah kita sudah menjadi saluran berkat Tuhan?” Panggilan kita sebagai orang Kristen adalah memberi dan melayani. Tuhan telah memberikan berkat-Nya bukan untuk disimpan sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada orang lain. Marilah kita terus berbuat baik kepada orang-orang di sekitar kita dengan lemah lembut dan rendah hati, sebagaimana Tuhan sudah terlebih dahulu berbuat baik kepada kita dengan memberikan Yesus, Anak-Nya, sebagai anugerah keselamatan.

Kembali kepada tujuan semula berarti kita hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai orang percaya—untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan oleh Tuhan. Ingatlah bahwa kita adalah buatan Allah, diciptakan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Selama kita masih diberi waktu, marilah kita menggunakan setiap kesempatan untuk berbuat baik dan menyebarkan kasih Tuhan. Memberi tidak membuat kita kekurangan. Sebaliknya, Tuhan akan melipatgandakan berkat-Nya ketika kita memberi dengan hati yang benar. Jadi, mari kita hidup bukan hanya untuk diberkati, tetapi untuk memberkati orang lain. Amin.

Tuhan memberkati!

DS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *