ILMU PADI



Renungan Harian Youth, Rabu 27 November 2024
1 Timotius 1:15, Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.
Akhir-akhir ini media sosial ramai menggunakan beberapa istilah gaul “manyala abangku” dan “ilmu padi”. Terpantau istilah ini digunakan di media sosial dengan tujuan sebagai sebuah pujian kepada seseorang. Istilah “manyala abangku” biasanya ditulis dengan sebuah emoticon api di akhir kalimat. Sementara itu, istilah “ilmu padi” ditulis dengan menggunakan sebuah emoticon padi di akhir kalimatnya. Tentu sejumlah warganet ada yang belum mengerti apa makna dari kedua istilah viral tersebut. Selain itu, kedua istilahnya sering terlihat digunakan dalam berbagai konteks pembicaraan. Adapun istilah “ilmu padi” ternyata mempunyai arti atau makna yang sangat bijak jika digunakan. Ilmu padi mempunyai pesan bahwa seseorang penting untuk menjaga sikap rendah hati meskipun telah meraih kesuksesan atau memiliki pengetahuan.
Alasan penggunaan kata padi sendiri tidak jauh dari sifat tanaman tersebut yang semakin berisi tanaman itu semakin menunduk. Sehingga, maknanya menjadi simbol kerendahan hati bagi seseorang. Istilah ini juga kerap digunakan oleh seseorang untuk mengajak mereka agar bersikap rendah hati. Terutama ketika memiliki pengetahuan yang tinggi atau berhasil meraih kesuksesan yang tinggi.

Rasul Paulus adalah contoh pribadi yang menerapkan ilmu padi. Di dalam surat Galatia (1:1), ia menyebut dirinya rasul. Berbeda di surat Roma (1:1), ia menyebut dirinya hamba Kristus. Lalu surat Filemon (1), ia memakai sebutan seorang hukuman. Dan pada akhirnya, di dalam ayat emas kita, ia menggunakan sebutan orang yang paling berdosa. Surat 1 Timotius diperkirakan ditulis di masa tua Paulus, menjelang akhir hidupnya.
Paulus mengaku sebagai orang yang paling berdosa dan yang telah diselamatkan oleh Kristus itu, karena ia sempat menganiaya pengikut Kristus sebelum Kristus sendiri menangkapnya di jalan ke Damaskus. Paulus menyebut dirinya “kepala orang berdosa” karena dia, seperti pemungut cukai, sangat sadar akan keberdosaannya dan mengerti betapa dosa itu telah merugikan Juruselamatnya. Identifikasi diri ini adalah penemuan setiap orang yang matanya telah terbuka, yang hati nuraninya telah dibangkitkan, dan yang hatinya telah ditusuk oleh Roh Kudus. Itu adalah sikap rendah hati dari setiap orang percaya yang mengakui bahwa dia sama sekali tidak berdaya dan bergantung pada Tuhan untuk keselamatan (Roma 5: 6). Ini adalah pengakuan yang harus kita semua buat: “Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa—di antara mereka akulah yang paling berdosa.”

Seorang komentator Alkitab menggambarkan kasih karunia keselamatan sebagai “karunia Allah. Ia memberikannya ‘tanpa uang dan tanpa harga.’ Itu adalah karunia-Nya yang murah hati dan agung dalam Kristus Yesus, kepada orang yang paling berdosa”

Jadi semakin Paulus tua, semakin banyak karya pelayanan yang sudah dilakukannya, semakin luas ia memberitakan Injil, semakin banyak jemaat yang didirikannya, semakin banyak ia menderita, justru ia semakin rendah hati. Paulus semakin sadar diri bahwa tidak ada sesuatu pun dalam hidupnya yang dapat dibanggakannya. Ketika Menoleh ke belakang, ia sadar dulu dirinya adalah penghujat, penganiaya, dan seorang yang ganas. Jadi kalau ia dapat menjadi seperti Paulus yang sekarang, itu semata-mata kasih dan anugerah Tuhan yang luar biasa.
Semakin lama kita menjadi orang Kristen, semakin lama kita melayani Tuhan, semakin lama kitamenduduki jabatan tertentu, apakah itu membuat Anda semakin berbangga diri atau sebaliknya, semakin membuat Anda sadar bahwa semua itu terjadi karena kasih karunia Tuhan? Tanpa panggilan Tuhan dan kasih karunia-Nya, kita semua adalah orang berdosa yang patut mendapat hukuman kekal.

Tanpa kasih karunia Tuhan, semua karya kita hanya menjadi kerja keras tanpa sukacita. Tanpa perkenanan Tuhan, semua jerih lelah kita adalah nol besar.

Ketika kita mengenali dan mengingat kebenaran tentang diri kita sendiri—cara hidup kita yang lama dengan kelemahan dan kegagalan kita, kurangnya harapan dan tujuan kita, dan ketidakberdayaan kita yang sama sekali terpisah dari Tuhan—kita tetap sangat rendah hati dan bersyukur atas apa yang telah Kristus lakukan bagi kita. Seperti Paulus, kita bersukacita dan “bersyukur kepada Kristus Yesus, Tuhan kita, yang telah menguatkan aku untuk melakukan pekerjaan-Nya. Ia menganggap aku setia dan mempercayakan aku untuk melayani-Nya, meskipun aku telah menghujat nama Kristus… Tetapi Allah mengasihani aku, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan dan di luar iman. Betapa murah hati dan murah hati Tuhan kita! Ia memenuhi aku dengan iman dan kasih yang datang dalam Kristus Yesus” ( 1 Timotius 1:12–14, NLT ).

Segala Pencapaian Yang kita Peroleh Di Dalam Hidup, Semua Terjadi Atas Kasih Karunia Yesus Yang Sempurna.
Tetap semangat, Tuhan Yesus Memberkati

RM – IT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *