Elohim Ministry umum Firman yang Menjadi Manusia

Firman yang Menjadi Manusia



Renungan Harian Kamis, 19 Desember 2024

Ayat Pokok : Yohanes 1:1,14  “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Shalom… Selamat pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Di bulan Desember ini semua orang Kristen sibuk dengan aktifitas natal. Ada yang mempersiapkan diri untuk ibadah dan perayaan natal di gereja. Ada yang sibuk menghias rumah dengan ornamen natal. Ada yang mencari kostum tertentu sebagai dresscode natal dan banyak hal lainnya.

Injil Yohanes memulai dengan sebuah pernyataan besar tentang identitas Yesus: “Pada mulanya adalah Firman.” Firman ini tidak hanya bersama dengan Allah, tetapi Firman itu adalah Allah sendiri. Pernyataan ini menegaskan keilahian Yesus, yang sudah ada sejak kekekalan. Namun, Firman itu tidak tinggal dalam kemuliaan surga-Nya. Yohanes 1:14 menyatakan bahwa Firman itu “telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” Yesus meninggalkan tahta-Nya yang mulia, merendahkan diri-Nya, dan lahir dalam kesederhanaan sebagai bayi di palungan.

Selain itu Lukas 20:42-44 juga mengungkap suatu kebenaran yang mengguncang paradigma orang Yahudi. Yesus mengutip Mazmur Daud yang menyebut Mesias sebagai “Tuhan”. Pertanyaan menohok pun dilontarkan, “Jika Daud menyebut Kristus sebagai ‘Tuhan’, bagaimana mungkin Kristus adalah anak Daud?” Pertanyaan ini menyingkap inti dari misteri Kristus: keilahian-Nya yang bersemayam dalam rupa manusia. Yesus bukanlah sekadar manusia biasa, keturunan Daud seperti raja-raja sebelumnya. Ia adalah Sang Firman yang telah ada sejak kekekalan, Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia. Dalam diri Kristus bersatu dua natur yang tak terpisahkan: natur ilahi dan natur manusia. Sebagai Allah, Ia kekal, mahakuasa, dan mahatahu. Namun, Ia rela mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan lahir sebagai manusia yang lemah dan terbatas (Filipi 2:6-7).

Mengapa Yesus harus menjadi manusia? Untuk menjadi pengantara kita dengan Allah. Sebagai manusia, Yesus dapat memahami kelemahan kita (Ibrani 4:15), tetapi sebagai Allah, Ia memiliki kuasa untuk menyelamatkan kita. Untuk menanggung dosa-dosa kita. Sebagai manusia yang tanpa dosa, Yesus adalah korban sempurna untuk menebus dosa kita (1 Yohanes 2:2).

Namun, tidak semua orang menerima keilahian Kristus. Orang-orang Yahudi pada zaman-Nya menolak untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka terpaku pada pemahaman lahiriah bahwa Mesias adalah raja duniawi, bukan Juruselamat rohani. Ketika Yesus menyatakan, “Sebelum Abraham ada, Aku sudah ada” (Yohanes 8:58), mereka menganggap-Nya menghujat dan ingin melempari-Nya dengan batu.

Namun sangat di sayangkan,  orang-orang Yahudi pada masa itu bahkan beberapa diantaranya hingga sekarang terpaku pada pemahaman lahiriah saja sehingga gagal memahami hakikat Kristus. Mereka menolak mengakui keilahian Yesus bahkan menganggapnya sebagai penghujatan. Saat Yesus menyatakan “sebelum Abraham ada, Aku sudah ada” (Yohanes 8:58), mereka gelap mata dan ingin melempari-Nya dengan batu.

Beberapa teks diatas tentunya menjadi refleksi bagi kita. Apakah kita memahami keilahian Kristus sehingga dengan kerendahan hati, membuka hati dan pikiran untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat? Ataukah kita gagal memahami keillahian Yesus sehingga kita buta terhadap karya keselamatan-Nya.

Natal bukan hanya tentang kelahiran Yesus sebagai bayi di Betlehem. Natal adalah penggenapan rencana Allah untuk menyelamatkan dunia. Dalam Yohanes 3:16, kita diingatkan bahwa Allah mengasihi dunia ini begitu besar sehingga Ia mengutus Anak-Nya untuk memberikan hidup kekal kepada siapa pun yang percaya kepada-Nya.

Ketika kita merenungkan Natal, kita diundang untuk membuka hati kita, Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Menerima Kristus berarti mengakui keilahian-Nya dan percaya kepada-Nya sebagai satu-satunya jalan keselamatan (Yohanes 14:6).

Hidup dalam komitmen yang sejati. Mengikuti Kristus bukan sekadar percaya, tetapi juga hidup dalam ketaatan kepada firman-Nya. Natal mengingatkan kita bahwa kasih Allah harus tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari.

Marilah kita datang kepada-Nya dengan iman, mengakui  keilahian-Nya, dan bersyukur atas pengorbanan-Nya di kayu salib. Sebab hanya di dalam Dia, Sang Firman yang menjadi manusia, kita menemukan hidup yang kekal.

Bapak, ibu dan saudara yang terkasih. Kehidupan kita selalu dihadapkan pada pilihan: menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, atau menolak-Nya seperti orang-orang Yahudi pada masa itu. Menerima Kristus berarti mengakui bahwa Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa. Pengakuan ini melahirkan sebuah komitmen untuk hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya. Artinya kita siap untuk hidup dalam ketaatan kepada perintah-perintah-Nya dan menjadi saksi-Nya di dunia ini. Amin.

Hikmat Hari Ini:

Tuhan memberkati.

DS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *