Renungan Harian Youth, Selasa 31 Desember 2024
Ratapan 3:22-23, Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
Jika kita membaca kitab Ratapan secara menyeluruh, kita bisa melihat bahwa ayat ini adalah bagian dari respons penulis terhadap apa yang sedang terjadi dimana Allah murka oleh karena ketidaksetiaan umat-Nya. Mereka menyembah allah lain, sehingga Allah memakai bangsa lain menduduki tanah mereka untuk membawa umat-Nya bertobat dan kembali kepada-Nya.
Rekan-rekan youth, Di dalam situasi tersebut, penulis Kitab Ratapan ini menaruh pengharapan kepada Tuhan karena ia tahu bahwa sekalipun Allah murka karena kesalahan umat-Nya, tapi Allah adalah Allah yang setia dan penuh rahmat, penuh belas kasihan dan menerima pertobatan umat-Nya. Tuhan menginginkan umat-Nya untuk kembali kepada-Nya dan mengerti bahwa hanya Dialah Allah, tidak ada yang lain.
Dia adalah Allah yang hidup, yang menjadikan mereka, memiliki mereka, yang mengasihi mereka.
Secara keseluruhan, ayat ini mengingatkan kita untuk selalu mengandalkan kasih setia, rahmat, dan kesetiaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Ini adalah pengingat tentang betapa besar dan mendalamnya hubungan kita dengan Sang Pencipta. Kita dapat hidup dengan keyakinan bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih-Nya yang tak berkesudahan.
Penulis kitab Ratapan mengakhiri kitab ini dengan doa untuk pemulihan, “Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala!”
Setiap hari ada berkat baru, setiap hari mengucap syukur.
Dalam kepedihan hati, Tuhan nampak jauh, seakan sungkan menolong umat-Nya. Yeremia menyadari, sesungguhnya di balik hari-hari sengsara nan pedih, ada kasih setia dan rahmat Tuhan yang selalu baru. Ini semangat pengikut Tuhan sejati. Tiap hari belajar mengerti rahmat Tuhan, kendati pun hati berkecamuk derita.
Kadang bisa dijumpai, hidup kita sulit mengucap syukur. Sewaktu merayakan hari ulang tahun kita menyambutnya sedemikian rupa untuk menyatakan syukur, walaupun terkadang perayaan itu bisa membawa kita pada dosa.
Coba baca kisah di Kejadian 40:20-22. Perhatikan ayat 20. Firaun sedang mengadakan perjamuan untuk hari kelahirannya di hari ketiga. Semua pegawainya diundang. Firaun lalu meninggikan kepala juru minuman dengan mengembalikan-nya ke jabatan semula, tetapi kepala juru roti yang juga melakukan kesalahan, justru digantungnya, seperti yang Yusuf artikan dalam mimpi mereka. Kisah lain yang perlu diperhatikan, tercatat di Matius 14:6-10. Herodes sedang merayakan hari lahirnya. Di kesempatan itu, anak perempuan Herodes mempersembahkan sebuah tarian yang begitu menyenangkan hati Herodes sehingga ia berjanji akan mengabulkan apa pun yang dimintanya. Atas petunjuk ibunya, anak perempuan itu meminta Herodes memenggal kepala Yohanes Pembaptis.
Alkitab tidak pernah menuliskan hari ulang tahun para nabi, rasul atau Tuhan Yesus sendiri. Budaya ulang tahun di dalam Alkitab hanya dirayakan oleh dua orang, yaitu Firaun dan Herodes. Dan kedua perayaannya, mendatangkan nestapa.
Sebagai seorang nabi yang dipakai Tuhan, Yeremia hidup dalam situasi yang berat (3:1-19). Sudah lama ia memberitakan kebenaran Allah, tetapi Bangsa Yehuda menentang dan menganiaya Yeremia. Namun dalam kepedihannya, Yeremia ingat, ada satu hal yang harus segera ia lakukan, yaitu merubah cara pandang. Bahwa kasih setia TUHAN tidak berkesudahan. Dalam duka itu, Tuhan bisa saja menghabisi Yehuda. Akan tetapi, TUHAN memilih untuk membiarkan Yehuda tetap hidup. Allah tetap berinisiatif untuk setia membimbing Yehuda. Dia tetap Allah yang sama. Allah yang setia, yang tidak akan membiarkan kita sampai tergeletak. Allah yang terus setia membimbing kita.
Dari sini kita dapat menilai bahwa Kehidupan manusia sering berada pada kondisi yang terkadang pahit dan mematikan. Tetapi kita bisa membawa pikiran kita untuk selalu mengingat, memperhatikan dan menghitung kebaikan serta kasih setia Tuhan. Pemazmur menulis dalam Mazmur 90:12, ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Cobalah untuk tidak terlalu memikirkan serta berhenti menghitung segala masalah dan sengsara kita. Serahkan segalanya kepada Tuhan karena setiap sengsara kita telah Tuhan hitung dan air mata kita Dia taruh ke dalam kirbat-Nya (Mzm. 56:9). Bagian Allah adalah menghitung air mata dan kesusahan kita, sedangkan bagian kita adalah menghitung kasih setia, berkat-berkat dan kebaikan Tuhan. Tuhan tidak pernah lupa akan janjiNya. Ia akan menepatinya tepat pada waktunya karena Ia tahu waktu yang tepat untuk membebaskan kita dari kesengsaraan kita.
Sadarilah Kasih Setia Allah Yang Selalu Baru Setiap Hari Maka Kita Akan Merasakan Kebahagiaan Hidup
Rekan-rekan youth, Mengucap syukur sejatinya bukan hanya pada waktu ulang tahun. Tiap hari pun saat usia bertambah, bisa jadi alasan kita bersyukur. Ketika waktu hidup di dunia semakin berkurang, itu bisa buat kita bersyukur karena berarti waktu kita bertemu Tuhan semakin dekat. Jika merayakan ulang tahun, mari kita lakukan dengan ucapan syukur yang benar di hadapan Tuhan sambil mengingat betapa baik kasih setia Yesus yang menyertai perjalanan hidup kita.
Kasih setia Allah yang besar memampukan kita untuk terus maju dan bangun menghadapi hari demi hari.
Janganlah kita kehilangan iman, walau situasinya lebih banyak membuat kita meratap. Mari belajar seperti Yeremia yang tetap bisa merasakan kasih setia Tuhan yang selalu baru setiap pagi.
Hidup kita akan penuh dengan berkat saat kita mempercayai Tuhan, membagikan kasih-Nya kepada orang-orang di sekitar kita, dan menjalani setiap hari baru dengan keyakinan besar akan kesetiaan Tuhan. Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Nya.
Selamat Menyongsong Tahun 2025 dengan Pengaharapan dan Berkat yang baru
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – DOT
