Renungan Harian Kamis, 20 Februari 2025
Ayat pokok : Kisah Para Rasul 19:36 “Hal itu tidak dapat dibantah, karena itu hendaklah kamu tenang dan janganlah terburu-buru bertindak.”
Shalom… Selamat Pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Dalam hidup terkadang kita mengalami kejadian yang tidak kita harapkan. Jika yang terjadi adalah hal baik, puji Tuhan. Namun jika yang terjadi sebaliknya [sesuatu yang buruk] maka bagaimanakah tindakan kita??? Sering kali, tanpa kita sadari, kita langsung bereaksi terhadap keadaan tanpa berpikir panjang. Kita mudah tersulut emosi dan bertindak secara impulsif. Padahal, firman Tuhan mengajarkan kita untuk merespons dengan bijaksana, bukan hanya bereaksi secara spontan.
Kita mengenal ada dua istilah yaitu Reaksi dan Respon. Perbedaan Reaksi dan Respon
1. Reaksi: Emosional dan Tidak Terkendali
Reaksi adalah tindakan yang timbul akibat suatu gejala atau peristiwa [KBBI]. Reaksi dilakukan secara impulsif, tanpa banyak berfikir atau mempertimbangkan hasil akhirnya. Oleh sebab itu tindakan dari reaksi adalah kecenderungan terbalik atau tindakan dalam arah atau cara terbalik. Reaksi lebih spontan dan cenderung emosional dan tanpa berfikir panjang.
Contoh dari reaksi yang salah Kamu memukul, maka aku akan membalas memukul. amu curang, maka aku juga akan berbuat curang. Kamu menyakiti aku, maka aku akan membalas dengan cara yang sama. Reaksi yang berdasarkan emosi sering kali membawa dampak buruk dalam kehidupan kita.
2. Respon: Bijaksana dan Terkendali
Respon itu lebih rasional dan terkendali. Respon dilakukan dengan perencanaan yang matang terlebih dahulu. Orang yang merespons lebih mengutamakan pikiran dari pada tindakan. Mereka berfikir dan merumuskan jawaban yang cerdas dan tepat sebelum bicara. Respons dipandu oleh rasionalitas dan logika dan ini adalah cara terbaik untuk menghadapi situasi karena ketika seseorang cenderung berpikir, mereka mulai melihat kejadian dari sudut pandang yang baik dan benar.
Contoh dari respons yang benar Ketika disakiti, kita memilih untuk mengampuni daripada membalas. Ketika difitnah, kita memilih untuk tetap tenang dan menyerahkan kepada Tuhan. Ketika menghadapi masalah, kita memilih untuk berdoa dan mencari hikmat Tuhan sebelum bertindak.
Respon yang Benar: Panitera Kota Efesus
Teks pokok kita adalah perkataan peringatan dari panitera kota Efesus kepada orang Efesus agar mereka tenang dan tidak bertindak buru-buru dengan melakukan kekerasan kepada teman-teman Paulus yaitu Gayus dan Aristhatkus atas provokasi dari Demetrius. Panitera kota mengusulkan agar mereka membawa perkara tersebut ke sidang pengadilan dan gubernur kota Efesus. Ini adalah salah satu contoh bagaimana reaksi dari orang-orang Efesus yang muncul karena emosi sehingga menganiaya teman-teman Paulus. Sikapnya menunjukkan bahwa respon yang tenang dan penuh pertimbangan dapat meredakan konflik.
Reaksi yang Salah: Esau yang Penuh Amarah
Kejadian 27:41 “Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: ‘Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh.’”
Esau merasa dikhianati oleh Yakub karena hak kesulungannya telah diambil. Ia pun bereaksi dengan penuh dendam dan berencana untuk membunuh adiknya sendiri. Jika saja Yakub tidak melarikan diri, mungkin Esau akan benar-benar membunuhnya, dan itu akan menjadi penyesalan seumur hidup. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, hati Esau berubah. Di Kejadian 33, Esau telah mengampuni Yakub. Ini menunjukkan bahwa waktu dan kebesaran hati dapat mengubah dendam menjadi kasih.
Mengapa Kita Harus Berespon dengan Benar?
Ada banyak konflik yang terjadi berakhir dengan kehancuran karena reaksi yang cenderung salah. Reaksi yang emosional sehingga ada tindakan yang kurang tepat dalam menghadapi persoalan.
Selain itu Respon yang tepat akan Mencegah Penyesalan di Masa Depan. Ketika kita bereaksi secara emosional, kita sering kali menyesal di kemudian hari. Sebuah keputusan yang diambil dalam kemarahan dapat merusak hubungan yang telah kita bangun bertahun-tahun. Tetapi Ketika kita memilih untuk merespons dengan bijaksana, kita menjadi pembawa damai dalam setiap situasi.
Surat Yakobus 1:19-20 menuliskan; “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
Kita tidak bisa mengendalikan semua situasi yang terjadi dalam hidup kita, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita meresponsnya.
- Reaksi yang emosional dapat merusak diri sendiri dan orang lain.
- Respon yang bijaksana membawa damai dan memuliakan Tuhan.
Hikmat Hari ini: Ketika menghadapi situasi sulit, ingatlah untuk tenang, berdoa, dan memilih untuk merespons dengan kasih dan kebijaksanaan. Respon yang benar menentukan kondisi kehidupan kita di masa depan.
Pilihan untuk bereaksi atau menanggapi sepenuhnya berada dalam kendali Anda. Tindakan kita adalah cara untuk mengekspresikan pikiran kita dan hasilnya akan lebih baik bagi semua orang jika kita berhenti sejenak dan berpikir sejenak. Mari kita belajar berespon dengan benar terhadap situasi yang terjadi. Karena Respon yang benar menentukan kondisi kehidupan kita. Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.
DS
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan