Alkitab Sebagai Fondasi: Ekpsosisi 2 Timotius 3:16-17 dan Signifikansi bagi Jemaat GPdI Trinil
Ester Wijayanti
STT ANUGERAH INDONESIA
Alkitab bukan sekedar bacaan zaman dulu. Paulus menjelaskan pentingnya memahami Alkitab sebagai buku panduan hidup utama dari Tuhan yang tidak pernah kadaluarsa, sebab asal-usulnya dari Allah sendiri. Alkitab bukanlah sekedar kumpulan kata-kata manusia, namun merupakan Wahyu Ilahi yang memiliki otoritas mutlak dalam panduan dan pembinaan kehidupan orang percaya. Dalam 2 Timotius 3:16 Paulus menjelaskan sifat dan kekuatan Kitab Suci. Dia mengatakan bahwa setiap bagian dari Kitab Suci diIlhami oleh Allah dan berguna untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, serta mendidik orang dalam kebenaran. Artikel ini disusun sebagai bentuk pendalaman teologis di bawah bimbingan bapak Herman Sjahthi. S.H., M.Pd., M.Th., CBC selaku dosen pengampu mata kuliah ” Metode-Metode Penelaah Alkitab di Sekolah dan Jemaat”.
Memahami makna “Segala Tulisan yang diIlhamkan Allah”
Rasul Paulus memberikan nasehat bahwa segala tulisan yang diilhamkan, Pengertian diIlhamkan ini merujuk pada Alkitab ditulis secara langsung melalui Ilham dari Allah.Istilah Theopeustos (nafas Allah) pada ayat 16 yang secara lugas berarti “dihembuskan Allah”. Ini menegaskan bahwa Alkitab memiliki asal usul Ilahi. Sehingga, penekanan ini penting bagi Jemaat GPdI Trinil agar tidak menyamakan Alkitab dengan buku motivasi biasa, melainkan suara Tuhan yang hidup. Knigth juga memberikan tanggapannya bahwa kitab Suci Alkitab merupakan hasil dari nafas Allah, sehingga setiap kata didalamnya merupakan hasil insiprasi dari Allah sendiri, oleh sebab itu Alkitab memiliki otoritas yang mutlak.

Faedah dan Otoritas Alkitab
Didaskalia (Mengajar)
Mengajar dalam konteks ini bukan hanya tentang memberikan pengetahuan, namun juga melibatkan suatu proses dimana seseorang mengalami dan memperhatikan peringatan yang mengarah pada perubahan hidup. Hal ini menyoroti bahwa Alkitab tidak hanya berfungsi sebagai paduan spiritual, tetapi juga mendorog transformasi dalam kehidupan mereka yang membacanya. Ini menunjukan bahwa Alkitab merupakan sumber pengajaran yang benar.

Gambar 1. Jemaat dengan tekun membaca Kitab Suci
Elegemos (Menyatakan Kesalahan)
Kesalahan yang dimaksud disini adalah menolak ajaran sesat yang pada waktu itu sedang dihadapi oleh Jemaat Efeseus, yang dilayani oleh Timotius. Kata ”menyatakan kesalahan ” jika dilihat dari kata aslinya memiliki makna yang lebih dari sekedar menyatakan kesalahan namun didalamnya ada hukuman yang didapat sebagai konsekuensi dari kesalahan yang dilakukan. Karena itu manfaat Alkitab adalah untuk menegur atau memperbaiki tindakan dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh manusia, khusunya orang percaya yang sangat rentan untuk melakukan kesalahan. Dengan kata lain, manfaat Alkitab adalah untuk menegur orang percaya agar mereka dapat setia mendengar dan memahami esensi Alkitab secara menyeluruh.
Epanorthosis (Memperbaiki kelakuan).
Memperbaiki kelakuan berarti mengubah apa yang tidak baik dari perilaku manusia melalui kebenaran Firman Tuhan. Semua pengajaran, tentang theologi serta etika harus sesuai dengan apa yang tertulis dalam Alkitab. Gutrie berpendapat bahwa Kitab Suci selalu berisi dorongan dan peringatan, dalam segi etika terdapat koreksi dan didikan. Memperbaiki kelakuan berarti mengoreksi perilaku melalui ajaran Firman Tuhan. Sehingga hal ini dapat dipaparkan bahwa Firman Tuhan dapat membantu memperbaiki perilaku manusia melalui kebenaran yang terkandung didalamnya. Firman Tuhan itu hidup dan kuat, dan diibratkan sebagai pedang Roh ( Efesus 6:17), mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk ( Ibrani 4:12). oleh karenanya, Alkitab memiliki urgensi yang harus dipelajari secara terus menerus.
Paideia (Mendidik dalam kebenaran)
Mendidik orang dalam kebenaran dapat diartikan dengan menjaga atau memuridkan setiap pribadi dalam hal yang benar apa adanya. Sumber Kebenaran adalah Alkitab. Melalui suratnya kepada Timotius, Paulus menaruh harap agar Timotius terus mendidik jemaat dengan pembacaan Kitab Suci yang teratur, dan mendorong mereka agar selalu mengandalkan Roh Kudus, agar jemaat mengalami pertumbuhan iman yang benar.
”Di perlengkkapi untuk setiap Perbuatan Baik” (Ayat 17)
Diperlengapi untuk melakukan perbuatan baik, sebagaimana diuraikan dalam 2 Timotius 3:177, merupakan aspek penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan integritas, kebijaksanaan, dan ketaatan kepada kehendak Allah. Dengan menjiwai dan meresapi ajaran Alkitab yang merupakan landasan utama untuk dapat melakukan perbuatan baik. pertama, pentingnya memahami bahwa ajaran Alkitab memberikan landasan moral yang kokoh untuk bertindak. Alasannya, Alkitab bukan hanya sekedar bait-bait kata, namun Alkitab adalah panduan jalan yang diberikan Allah kepada manusia.
Signifikansi Theologis bagi Jemaat GPdI Trinil
Fondasi doktrinal dan purfikasi Pengajaran
Pada era informasi yang simpang suir, Alkitab menjadi standar tunggal untuk menguji setiap suara dan pengajaran. Pembinaan jemaat harus diarahkan agar setiap jemaat memiliki dasar teologis yang kuat agar tidak mudah disesatkan oleh ajaran yang hanya menyenangkan telinga. Dalam teks2 Timotius 3:16, Paulus menguraikan satu tanggung jawab Timotius yang sangat urgen dalam menghadapi ajaran sesat, yaitu dengan mengajarkan ajaran yang benar. Oleh karena itu purfikasi bukan sekedar kegiatan akademis, melainkan tindakan preventif untuk menjaga kemurnian iman jemaat dari infiltrasi ajaran yang mngaburkan esensi injil yang sejati.

Gambar 2. Pemberitaan Firman Tuhan dalam Ibadah
Signifikansi terhadap transformasi karakter
Karakter iman Kristen bersumber dari Alkitab dan hal ini merupakan urgensial, sebab karakter adalah nilai utama dalam kehidupan. Penerapan karakter iman Kristiani yang berlandaskan Alkitab merupakan hal esensial dalam kehidupan jemaat, melalui proses pendidikan kebenraran yang berkelanjutan, karakter jemaat dapat dibimbing, guna mencapai kedewasaan rohani dan dapat merefleksikan kasih Allah. Sehubungan dengan hal tersebut, GPdI Trinil ,menyelenggarakan ibadah tengah minggu dan pendalaman Alkitab secara rutin setiap hari jumat pukul 18.00. Firman Allah yang berfungsi menegur dan memperbaiki perilaku jemaat agar hidup sesuai kebenaran dan semakin menyerupai Kristus. Firman Allah berfungsi sebagai ”cermin’ yang menyatakan kesalahan dan perilaku yang tidak berkenan kepada Tuhan, sesuai dengan 2 Timotius 3:16.
Signifikansi terhadap Kapasitas Pelayanan ( Perbuatan Baik)
Alkitab mendefinisikan apa yang disebut sebagai ”perbuatan baik” sesuai standart Allah, Alkitab juga menuntun agar pelayanan di GPdI Trinil dilakukan dengan keunggulan ( excellence) dan ketulusan, bukan karena paksaan atau mencari pujian dari mansia. Sesuai dengan 2 Timotius 3: 17 dimana setiap orang percaya di perlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Bagi GPdI Trinil, hal ini berarti setiap jemaat, bukan hanya pendeta, dipangil untuk melayani sesuai karunianya masing-masing. Bahkan setiap jemaat dapat menjadi berkat bagi masyarakat sekitar melaui tindakan nyata. Sehingga jemaat tidak hanya memiliki semangat yang berkobar sebagai ciri khas Pantekosta, namun juga memiliki akar karakter yang kuat dan kompetensi pelayanan yang matang karena didasarkan pada kitab Suci.
Sumber:
Henry, M. (2015). Tafsiran Matthew Henry: Surat Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 & 2 Tesalonika, 1 & 2 Timotius, Titus, Filemon . momentum.
Knight, GW (2013). Surat-surat pastoral . Eerdmans.
Mau, M. (2021). Kajian Manfaat Alkitab Menurut 2 Timotius 3: 16 Dan Implikasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini. Manna Raflesia , 7 (2), 235-257.